Merendahkan Liyan Bukan Cerminan Islam

Merendahkan Orang Lain

Merendahkan orang lain di media sosial (medsos) kian menjamur belakangan ini. Setiap warganet bebas berkomentar dan menanggapi orang lain. Hanya dengan melihat satu atau dua informasi bisa langsung menyimpulkan orang tersebut, seakan-akan tahu akan semua hal. Bahkan cenderung berkomentar yang menjelekkan, tanpa peduli dampak yang muncul dari komentar atau tulisan yang dia posting.  Padahal jelas bahwa menjelekan orang lain merupakan akhlak tercela.

Al-Habib Umar bin Hafidz dalam bukunya, “Ringkasan Ihya’ Ulumuddin” (terj.) mengutip riwayat dari Amir ibn Watsilah, tentang menggunjing dan menjelekan orang lain. Kisahnya menceritakan salah seorang yang membenci orang lain karena dalam pandangan penggunjing, orang tersebut tidak melakukan syariat agama kecuali minimalis. Nabi Muhammad kemudian melakukan mediasi dua orang ini. Setelah melalui banyak tabayyun, kejujuran, dan kebijaksanaan, Nabi menyampaikan, belum tentu yang menjadi sasaran gunjingan lebih rendah, justru sebaliknya.

Hikmah dari kisah tersebut, jangan menilai seseorang hanya dari apa yang terlihat. Jangan sampai kita merasa telah banyak melakukan amalan-amalan utama sehingga memandang rendah orang lain yang secara lahiriyah lebih sedikit amalannya dari kita.

Tidak ada yang bisa menjamin bahwa kita akan istiqamah dalam melakukan kebaikan sampai akhir hayat dan mati dalam keadaan khusnul khotimah. Karena bisa saja justru berbalik, di akhir perjalanan hidup mungkin kita yang terlihat banyak melakukan amalan-amalan utama, malah yang tersungkur dalam jurang kemaksiatan sehingga meninggal dalam keadaan su’ul khotimah. Naudzubillahimindzalik.

Perintah Al-Quran: Jangan Merendahkan Liyan

Tentang larangan merendahkan orang lain, al-Qur’an dalam Surat Al-Hujurat ayat 11 menyebutkan:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok).”

Allah mengingatkan kaum mukmin supaya jangan ada suatu kaum merendahkan kaum yang lain. Karena boleh jadi, mereka yang diremehkan itu di sisi Allah lebih mulia dan terhormat dari mereka yang meremehkan. Demikian pula di kalangan wanita, jangan ada segolongan wanita yang meremehkan wanita yang lain. Karena boleh jadi, mereka yang meremehkan itu di sisi Allah lebih baik dan lebih terhormat dari wanita-wanita yang meremehkan.

Ayat ini juga mengandung isyarat bahwa seorang hamba Allah jangan memastikan kebaikan atau keburukan seseorang semata-mata karena melihat kepada amal perbuatannya saja, sebab ada kemungkinan seseorang tampak mengerjakan amal kebajikan, padahal Allah melihat di dalam hatinya ada sifat yang tercela. Sebaliknya, mungkin ada orang yang kelihatan melakukan suatu yang tampak buruk, akan tetapi Allah melihat dalam hatinya ada rasa penyesalan yang besar yang mendorongnya bertobat dari dosanya. Maka amal perbuatan yang tampak di luar itu, hanya merupakan tanda-tanda saja yang menimbulkan sangkaan yang kuat, tetapi belum sampai ke tingkat meyakinkan. (Tafsir Tahlili KEMENAG RI)

Baca juga: Humanisme Gus Dur dalam Laku Hidup Gen Z

Islam itu Merahmati Bukan Menyakiti

Tentu kita masih ingat kisah masuk Islamnya sahabat Umar bin Khattab RA. Beliau adalah orang yang pada awalnya sangatlah menentang dakwah Nabi Muhammad, bahkan beliau adalah orang yang ingin membunuh Nabi. Namun dengan kemuliaan akhlak Nabi Muhammad terhadap sesama manusia, Nabi SAW tidak menjelekan Umar bin Khattab. Nabi Saw. justru mendoakan beliau untuk masuk Islam.

للَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ بِأَحَبِّ هَذَيْنِ الرَّجُلَيْنِ إِلَيْكَ بِأَبِى جَهْلٍ أَوْ بِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ  

“Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah seorang yang lebih Engkau cintai dari kedua laki-laki ini: Abu Jahal atau Umar bin Al-Khattab.”

Ternyata Allah memilih Umar bin Khattab RA. Karena keberkahan doa dari Nabi Muhammad SAW, Umar bin Khattab mendapatkan hidayah dari Allah. Sayyidina Umar mendengar awal Surat Thaha dan membacanya dari suhuf yang dipegang oleh adiknya sendiri, Fatimah. Terketuk dan terbukalah hati sang khalifah kedua.

Teladan seperti itulah yang harus dicontoh oleh kita, yaitu sikap ramah dan tidak mencela. Umat manusia akan melihat Islam dari cerminan akhlak penganutnya. Jika seorang muslim merendahkan dan menjelekkan liyan, maka akan menodai citra ajaran Islam. Padahal Islam itu merahmati bukan menyakiti. Bahkan Nabi SAW pun mendoakan kaum yang menzaliminya, ”ampunilah mereka Ya Allah. Sebab mereka tidak mengetahui (kebenaran-kebaikan).” (Muttafaqun alaih).

Share this content:

Post Comment