Humanisme Gus Dur dalam Laku Hidup Gen Z

walisongo.co Oleh: M. Badruz Zaman

“Memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya. Merendahkan dan menistakan manusia berati merendahkan dan menistakan penciptanya”

Pesan Gus Dur tersebut dalam rangka menghadirkan nilai-nilai kemanusian yang sedang dalam fase degradasi. Makna di balik pesan ini, Gus Dur mengajak kita untuk selalu ingat di alam pikir, jiwa, dan dilakoni dalam keseharian hidup kita.

Bahwa manusia adalah makhluk mulia, yang memiliki kecenderungan bersikap kasih dan damai, serta kesetaraan di antara manusia. Hal ini akan mendasari diri kita untuk bersikap menghormati, tenggang rasa, dan melakukan kebajikan lainnya kepada sesama. Pertanyaannya, mengapa harus dari kita? Siapa kita?

Istilah ‘generasi’ dalam pandangan Kupperschmidt, yang dikutip Yanuar Surya Putra (2016) adalah sekelompok orang yang memiliki kesamaan masa atau waktu dalam menjalani kehidupan yang di dalamnya adalah berkaitan dengan rentang usia, lokasi, pengalaman, kondisi yang berpengaruh dalam masa pertumbuhannya.

Rilis dari Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia tahun 2020, membagi penduduk Indonesia menjadi 6 generasi. Berurutan dari yang paling dulu lahir adalah Pre-Boomer (lahir sebelum 1945); Baby Boomer (1946-1964); Gen X (1965-1980); Milenial (1981-1996); Gen Z (1997-2012); dan terakhir Post Gen Z (2013 seterusnya). Sebanyak 270,20 juta jiwa yang tercatat, Gen Z merupakan yang paling dominan, yakni pada angka 27, 94%.  

Baca juga: Menyelami Percikan Dakwah Mbah Mun (KH. Muntaha Al-Hafidz)

Karakter yang melekat dalam gen Z adalah pada penguasaannya terkait informasi dan teknologi (IT), sehingga disebut sebagai generasi digital native. Sebab mereka lahir berbarengan dengan perkembangan IT yang luar biasa. Akses internet dengan seabrek jenis media online seolah menjadi bagian hidup mereka.

Transformasi ke dunia digital yang dinikmati gen Z tidak sepenuhnya bernilai positif. Satu sisi memang menjadi bonus demografi yang digadang-gadang menuju zaman keemasan. Tetapi di sisi lain, banyak ditemukan masalah yang cukup serius ketika mereka bersinggungan dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Sebagai contoh, isu-isu rasisme atau kesukuan, body shaming (perundungan fisik), hoax (berita bohong), hatespeech (ujaran kebencian), pelecehan seksual, sampai masuk pada wilayah ideologi yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Merespon fenomena yang terjadi pada generasi muda, perlu kiranya untuk merevitalisasi nilai-nilai kemanusian. Pola pikir gen Z yang sedang dalam fase pencarian jati diri dan eksistensi personal, menjadi penting untuk diberikan pemahaman terkait semangat humanisme.

Generasi Z, bagaimanapun juga adalah harapan negeri yang tercerahkan dengan penuh kedamaian dan kasih sayang untuk semesta alam.

badruzzamanys

Humanisme dalam Perspektif Gus Dur

Sosok Abdurrahman Wahid atau sering disapa Gus Dur, bagi gen Z bukanlah tokoh yang asing. Mulai dari materi Pendidikan Kewarganegaraan di sekolah, percaturan politik era reformasi, humor-humornya yang kadang sulit dicerna akal, hingga genealogi kepemimpinan organisasi masyarakat Islam Nahdlatul Ulama (NU).

Melihat makna Humanisme dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti  aliran yang bertujuan menghidupkan rasa perikemanusiaan dan mencita-citakan pergaulan hidup yang lebih baik. Konsep humanisme yang dibawa Islam tidak lepas dari ajaran tauhid (bukan sekuler).

Justru, muara memanusiakan manusia adalah pijakan teologis bahwa Allah memberikan manusia kemampuan berpikir dan spiritualitasnya. (Hasan Hanafi, 2007). Humanisme religius ini yang kemudian dibawa oleh Bapak Pluralisme Indonesia alias Gus Dur.

Manusia diciptakan Tuhan sebagai khalîfah fî al-arḍ (al-Baqarah[2]: 30). Sebagian mufasir memberi makna ini dengan pemimpin, pengelola, pengatur, manajer tatanan bumi. Gus Dur melihat teks suci ini sebagai salah satu keunggulan manusia daripada makhluk lain.

Seperangkat anugerah yang melekat dalam diri manusia, seperti akal pikiran, hati, dan perasaan, menjadikan umat manusia pada bentuk yang ahsani at-taqwîm (sebaik-baiknya bentuk -ciptaan-)

Keluhuran derajat manusia bukan pada bentuk dan jenis jasmani yang melekat, melainkan dalam batin yang disertai eling dan waspada serta takut (takwa), kesalehan vertikal dan horizontalnya. Sehingga, perbedaan jenis bahasa, warna kulit, jenis kelamin, suku bangsa, budaya, bukan menjadikannya siapa yang lebih mulia.

Perbedaan-perbedaan fisikal ini dihargai Gus Dur sebagai sunnatullah yang tak terelakkan. Orientasinya, penciptaan manusia adalah suatu bentuk kuasa Tuhan, yang termanifestasi dalam beragam jenis cipta karya-Nya (Nur Kholik Ridwan, 2019)

Ketika kita menyadari akan perbedaan, mau tidak mau relasi keberagaman yang dibangun adalah memahami dan mengenali (ta’âruf) yang bisa merawat kebhinekaan, seperti, toleransi, memuliakan satu sama lain, terbuka (inklusif), dan dialog. Sikap-sikap ini akan mengantarkan kita pada puncaknya, yang dalam pandangan Zuhairi Misrawi disebut keluhuran nilai takwa (Misrawi, 2007)

Bagi Gus Dur, nilai-nilai kemanusiaan dapat dilihat dari lima prinsip dasar dalam maqâṣid asy-syarî’ah (tujuan-tujuan pemberlakuan syariat), meliputi memelihara jiwa, agama, keluarga atau keturunan, harta benda, dan hak milik profesi atau martabat(irḍ).

Formulasi kelima prinsip ini merupakan bentuk universalisme Islam yang menjamin hak-hak dasar manusia (Syaiful Arif, 2013). Satu prinsip yang tertinggal adalah hifẓu al-‘aql (memelihara akal), sehingga genap menjadi enam prinsip.

Pertanyaan yang muncul, bagaimana kemudian nilai-nilai kemanusiaan dari Gus Dur ini mampu dihayati dengan khidmat oleh generasi Z? Beberapa upaya berikut barangkali mampu mengantarkan kita (gen Z) untuk menghidupkan nilai-nilai humanisme religius ala Gus Dur yang disesuaikan pada masa kekinian. Sehingga, pada gilirannya menjadi laku hidup yang mencerahkan peradaban modern.

Upaya Menjiwai Humanisme Gus Dur pada Gen Z

Dalam rangka menyemai humanisme yang dibawa Gus Dur, ada dua strategi yang dapat kita upayakan. Pertama, berangkat dari konsepsi akal individu. Langkah awal ini dimulai menumbuhkan kesadaran akal yang mampu menerima sebuah perbedaan dan mengenal dirinya sebagai manusia.

Seperti yang telah dijelaskan Gus Dur, penciptaan manusia adalah wujud dari Maha Mulianya Allah. Ketika seseorang sudah menganggap kemuliaan manusia, berati ia memuliakan Tuhannya.

Mengenali diri sendiri menjadi penting untuk melangkah lebih maju dengan mengenal orang lain. Dan hubungan horizontal sesama manusia (hablu min an-nâs) sejatinya adalah untuk mengenal kebesaran Tuhannya.

Satu ungkapan yang sering kita dengar “man ‘arafa nafsahu faqad arafa rabbahu” -siapa yang mengenali dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya-. Hal ini mensyaratkan kita untuk bisa mengenali diri kita sebagai manusia, kemudian melihat orang lain pun sebagai manusia seutuhnya.

Kedua, kehati-hatian dan mengurangi egoisme. Ubay bin Ka’ab ketika ditanya Umar bin Khattab tentang takwa, ia mengilustrasikan seperti orang yang berjalan di atasnya tersebar duri. Maka hati-hati menjadi kunci keselamatannya. Dalam hal ini, nilai-nilai kemanusiaan yang monosentrisme, selalu mengupayakan kehati-hatian dalam berpikir, bersikap, dan bertindak.

Egoisme berarti rasa untuk selalu menang, untung bagi dirinya sendiri. Keegoisan diri padahal bukan yang hendak dituju dalam kemanusiaan. Tujuan kebersamaan, kesetaraan, dan keadilan adalah untuk menciptakan keuntungan, kedamaian serta kebahagiaan bersama.

Baca juga: Islam Rahmah – Islam Ramah

Pergeseran gaya hidup gen Z yang banyak beraktivitas dalam ruang virtual bukan berarti menanggalkan norma-norma kemanusian yang berlaku. Selain payung hukum yang berlaku dalam sebuah negara, ajaran-ajaran agama yang terkonsep, ruang digital juga perlu didasari atas dua strategi di atas. Penjiwaan dua langkah ini akan semakin bermakna dalam praktiknya secara langsung baik di dunia nyata ataupun maya.

Kesadaran akan dirinya sebagai manusia akan mengantarkan pada pandangan bahwa sesama manusia tidak bisa saling merendahkan. Berhati-hati akan menyelamatkan seseorang untuk tidak melukai orang lain.

Misalnya, jempol yang kita gunakan dalam bermedia sosial, tidak digunakan untuk menyebar hoax, ujaran kebencian, perundungan, provokasi dan mengeruhkan keadaan. Karena kita memiliki sikap kehati-hatian dan tidak egois dalam bertindak.

Akhirnya, nilai-nilai kemanusiaan yang diajarkan oleh Gus Dur adalah berusaha membawa diri kita (gen Z) untuk mampu memuliakan dan memanusiakan manusia. Melalui kesadaran pribadi sebagai manusia, sikap kehati-hatian dan tidak egois, akan membawa kita pada hakikat kacamata kemanusiaan. Terlebih pada era disrupsi yang banyak bergeser pada ruang-ruang digital. Wallâhu A’lam.

Share this content:

Post Comment