
Oleh: M. Badruz Zaman
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ ١٠٧
Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam. (QS. Al-Anbiya [21]: 107)
Walisongo.co – Hampir seluruh umat muslim hafal dengan ayat tersebut. Tak bisa dipungkiri, selain pendek ayatnya, juga berisi informasi yang mengajak seluruh ciptaan Tuhan memusatkan perhatiannya menuju sosok Muhammad yang menjadi rahmat. Apa makna dari kerahmatan Muhammad?
Syaikh Sulaiman al-Jamal dalam al-Futuhat al-Ilahiyyah melihat lafaz rahmah pada ayat tersebut dari kacamata gramatikal (ilmu nahwu) bisa terbagi menjadi dua bagian. Pertama sebagai maf’ul lah (alasan) dari diutusnya Nabi Muhammad. Kedua sebagai ḥāl (menunjukkan suatu keadaan), artinya Nabi Muhammad adalah esensi dari rahmat itu sendiri.
Syaikh Sulaiman mendasari penafsirannya pada pribadi Nabi Saw yang luhur. Ia melihat perjalanan dakwah Nabi yang banyak menuai celaan, hinaan, dan perlakuan buruk lainnya, Nabi Muhammad justru mendoakan mereka lantaran belum mendapatkan hidayah Allah.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah tentang permintaan sahabat Nabi untuk membalas kezaliman kaum musyrik kala itu, kemudian Nabi Saw. menjawab “Innī lam ab’ats la’ānan, wa innamā bu’itstu rahmatan”. “Sungguh aku tidak diutus untuk melaknat, tetapi aku diutus hanya untuk menjadi rahmat” (Sahih Muslim No. 2009)
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menegaskan, kerahmatan Nabi Muhammad adalah untuk semua ciptaan. Bagi setiap manusia yang menerima dan bersyukur atas kenikmatan rahmat tersebut, akan mendapatkan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.
Sebaliknya, umat manusia yang menolak dan mengingkarinya, artinya tidak beriman kepada Nabi Muhammad maka hanyalah kerugian yang didapatkan di dunia dan akhiratnya. Hal ini sebagaimana firman Allah QS. Ibrahim[14]: 28-29.
اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ بَدَّلُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ كُفْرًا وَّاَحَلُّوْا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِۙ ٢٨ جَهَنَّمَ ۚيَصْلَوْنَهَاۗ وَبِئْسَ الْقَرَارُ ٢٩
“Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan ingkar kepada Allah dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan?(28) yaitu neraka jahannam; mereka masuk ke dalamnya; dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman. (29)
Kerahmatan Kanjeng Nabi Muhammad mengantarkan kita pada satu posisi yang sama di hadapan Allah, yakni berusaha menjadi hamba-Nya, yang pada gilirannya menginginkan derajat muttaqīn.
Sekalipun ditemukan perbedaan latar belakang secara biologis maupun ras tanah airnya (baca QS. Al-Hujurat [49]: 13), misi (profetik) kenabian tersebut menyatukan umat manusia dalam naungan kasih sayang, jalin keharmonisan dan saling mengenal serta bermitra secara baik.
Sejalan dengan satu formulasi besar “rahmah”, agama kemudian memberikan pedoman dan langkah strategis untuk membumikan misi kenabian tersebut. Al-Qur’an kemudian mengawal ajaran welas asih ini dengan memberikan legitimasi karakter mulia lainnya dari pribadi Muhammad, seperti pada QS. at-Taubah [9]: 128:
لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ ١٢٨
Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman. (QS. at-Taubah [9]: 128)
Pribadi Nabi Muhammad mendambakan kebahagiaan dan keselamatan umat manusia, sehingga ia dideskripsikan al-Qur’an sebagai sosok yang merasa berat ketika ada penderitaan di antara umat anusia.
Nabi Muhammad juga menjadi seseorang yang memiliki kelembutan dan kesantunan, murah hati dan arif bijaksana. Karakter mulia ini menjadi nilai-nilai universal ajaran Islam untuk terus diejawentahkan dalam kehidupan sehari-hari.
Termasuk penting dalam membina perdamaian adalah sikap toleran. Buya Husein Muhammad dalam Islam yang Mencerahkan dan Mencerdaskan memberikan definisi yang cukup lengkap tentang toleransi, agar tidak menjadi salah kaprah di tengah umat beragama.
Menurut Buya Husein, toleransi adalah cara pandang, sikap mental, kelapangan dan kelegaan hati, memudahkan dan tidak memberatkan, serta memberikan ruang kepada yang lain. Lebih lanjut, ketika ia menyambut liyan dengan hangat sekalipun dalam perbedaan.
Toleransi menjadi salah satu bentuk visi kenabian yang membawa rahmah dan bersifat ramah. Islam juga menghargai perbedaan dan memperhatikan kemaslahatan umat manusia, lebih luas lagi alam semesta. Dalam QS. Ali Imran [3]: 159, Allah berfirman
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ ١٥٩
Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal. (QS. Ali Imran [3]: 159)
Ayat tersebut kembali memberikan penegasan kepada sosok teladan sepanjang kehidupan, Muhammad Saw., bahwa rahmat Allah yang dianugerahkan kepadanya, membawa pada kedamaian, kelembutan, dan kasih sayang Nabi Muhammad.
Sehingga, ketika dihadapkan persoalan, katakanlah kekeliruan umatnya, bahkan yang tak seiman dengannya, tetap diperlakukan dengan baik dan tidak menyalahkan secara kasar. Sebab, kalau saja Nabi memiliki perangai yang kasar dan kaku, Islam justru tidak akan laku, Islam justru akan semakin dijauhi.
Bukankah Nabi Muhammad yang pertama kali menjenguk warga non-muslim yang sakit, padahal dia yang selalu menjelek-jelekkan Nabi? Bukankah Nabi yang istiqamah menyuapi makanan ke pengemis tuna netra yang selalu mencaci-maki Nabi?
Akhirnya, lantaran rahmah dan ramahlah Islam menampilkan wajah yang seharusnya. Rahmah, ramah, sumringah, bukan marah-marah. Wallahu a’lam bishshowab.
Share this content:



Post Comment