Belajar Menjaga Alam dari Walisongo

Walisongo.co – Islam merupakan agama sempurna yang membahas segala hal yang ada di muka bumi. Tidak melulu perihal ibadah vertikal saja, tetapi juga berprilaku kepada sesama manusia bahkan lingkungan.

Hal ini seperti yang diajarkan oleh Walisongo saat mendakwahkan Islam di pulau Jawa, salah satunya adalah Sunan Muria. Berbekal ilmu pengetahuannya yang luas, wali nusantara bernama Raden Umar Said ini mendakwahkan Islam tidak hanya persoalan ibadah saja, tetapi juga tentang ajaran merawat bumi. Beliau mengajarkan bahwa manusia diciptakan di muka bumi sebagai khalifah fil ardhi (pengelola di muka bumi).

Menjadi pemimpin di muka bumi artinya menjaga keberlangsungan hidup manusia dan juga bumi  sebagai tempat tinggal manusia agar tetap lestari. Sikap manusia dalam menjaga kelestarian alam adalah salah satu bentuk pengejawantahan Allah rabbul’alamin (Allah Tuhan semesta alam).

Sebagai khalifah di muka bumi, Allah telah menyediakan alam dan berbagai sumber daya alam bagi manusia dalam memenuhi kebutuhannya selama menjalani kehidupan.

Allah SWT berfirman dalam QS. al-An’am [6] ayat 141:

وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَ جَنَّاتٍ مَعْرُوشَاتٍ وَغَيْرَ مَعْرُوشَاتٍ وَالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا أُكُلُهُ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ ۚ كُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ ۖ وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Artinya: Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.

Sangat jelas dalam ayat tersebut, Allah menganugerahkan hasil kreasi-Nya, yang, kita tidak lantas berlaku semena-mena dan berlebihan dalam memanfaatkan alam dengan mengeksploitasi alam. Semestinya kita jaga anugerah ini sebagai hadiah untuk anak cucu kita. Bukan sebaliknya, malah kita rusak dengan keserakahan kita sendiri.

Tapi kenyataanya hanya sebagian kecil yang berperan sebagai khalifah. Sementara sebagian besar lainnya memilih mengeruk sumber daya alam secara besar-besaran untuk kepentingan dirinya sendiri dan tidak mau peduli dengan akibat yang ditimbulkan dari perilakunya setelah merusak alam.

Sunan Muria sendiri berkomitmen menjaga dan melestarikan lingkungan. Beliau mengajarkan konsep teologi yang bersifat holistik-integratif (tidak melihat manusia dan lingkungan secara terpisah-pisah, melainkan sebagai satu kesatuan).

Hal ini terbukti dengan banyaknya peninggalan Sunan Muria berupa tempat dan benda-benda yang dikeramatkan. Seperti buah Pari Joto, kayu Pakis Haji, air Gentong, Ngebul Bulusan, pohon Kayu Adem Ati, hutan Jati Keramat dan berbagai hutan lainnya. Keseluruhan peninggalan keramat beliau adalah benda-benda yang berkaitan dengan alam. Hingga saat ini, peninggalan beliau masih dianggap keramat dan dijaga oleh masyarakat.

Sunan Muria juga mengajarkan cara mengusir hama tikus dengan cara yang ramah lingkungan dan tanpa memusnahkan hama tikus tersebut. Yakni dengan Pakis Haji yang kemudian dibacakan doa. Dengan cara ini, Sunan Muria membiarkan tikus tetap hidup, hanya saja mengusirnya dari area persawahan warga. Karena menurut beliau, seburuk-buruknya tikus masih memiliki peran untuk keseimbangan rantai makanan.

Sunan Bonang menjadi tokoh lain yang turut perhatian dengan lingkungan. Dikisahkan saat beliau bertemu dengan Lokajaya (nama Sunan Kalijaga saat masih menjadi perampok) dan direbut tongkat emasnya, Sunan Bonang terjatuh dan tidak sengaja mencabut rumput yang ada di bawahnya.

Kemudian Sunan Bonang menangis sambil menggenggam rumput ilalang yang tidak sengaja dicabutnya itu. Saat ditanya Lokajaya, mengapa ia mengangis, Beliau menjawab Aku bukan menangis karena kau mengambil tongkat emasku, tapi aku menangis karena aku telah mencabut rumput ilalang ini dan membunuhnya, padahal ilalang ini juga mempunyai  kesempatan yang sama seperti kita untuk bertasbih kepada Allah.” tuturnya kepada Lokajaya.

Perkataan Sunan Bonang tersebut sesuai dengan Firman Allah yang termaktub dalam QS. Al-Jumu’ah [62] ayat 1 yang artinya “Apa yang ada di laingit dan apa yang ada di bumi senantiasa bertasbih kepada Allah. Maharaja, Yang BB Mahasuci, Yang Maha perkasa, Maha bijaksana.”  Juga yang terdapat dalam QS. Al-Isra’ [17] ayat 44 “Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya.”

 Allah menerangkan melalui dua ayat ini, bahwa segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi dan segala sesuatu selain-Nya, baik yang bernyawa maupun tidak, benda keras maupun cair, pepohonan, dan sebagainya, semuanya bertasbih kepada Allah.

Menyucikan-Nya dari hal-hal yang tidak wajar, seperti sifat-sifat kekurangan dan sebagainya. Setiap kita melihat dan memandang kepada apa yang ada di bumi dan di langit. Ini menjadi tanda-tanda kebesaran Allah atas segala ciptaan dan kekuasaan-Nya.

Akhirnya, Walisongo mengajak kepada kita tentang pentingnya menjaga dan mengelola lingkungan secara apik. Sejatinya, menjaga lingkungan berarti menjaga diri kita sendiri. Antata Tuhan, manusia dan lingkungan adalah bentuk hubungan segitiga yang sangat berkaitan, di mana Allah sebagai pusatnya, manusia sebagai mandataris pengelola dan alam sebagai media, sarana, bahkan pelengkap kebutuhan umat manusia

Share this content:

Post Comment