Menilik perkembangan Islam di wilayah pesisir Kabupaten Batang, nama K.H. Rosyidi bin Abdul Aziz menempati ruang tersendiri di hati masyarakat. Beliau masyhur dengan julukan “Kyai Kampung” karena kedekatannya dengan masyarakat, khususnya para nelayan. Melalui pendekatan dakwah yang santun dan tanpa pamrih, Mbah Rosyidi berhasil meletakkan dasar-dasar keislaman yang kuat yang warisannya masih terasa hingga hari ini.
Masa Kecil dan Perjalanan Spiritual Kiai Rosyidi
Lahir di Batang dari pasangan H. Abdul Aziz dan Nyai Siti Aminah, K.H. Rosyidi tumbuh dalam lingkungan keluarga yang taat. Semangatnya menuntut ilmu agama telah tampak sejak usia dini. Pada umur 7 tahun, beliau telah memulai perjalanan panjangnya sebagai seorang santri.
Perjalanan pendidikan beliau sangat panjang dan mendalam. Selama kurang lebih 23 tahun, beliau menghabiskan masa mudanya untuk menimba ilmu dari satu pesantren ke pesantren lain. Jejak keilmuan beliau terukir di berbagai pesantren besar, mulai dari Pondok Pesantren Buntet (Cirebon), Pondok Pesantren Kaliwungu (Kendal), hingga Pondok Pesantren Tebuireng (Jombang). Selama masa nyantri ini, beliau menempa ilmu agama serta tirakat yang membentuk karakter beliau menjadi ulama yang sabar dan ikhlas.
Sekitar tahun 1940-an, K.H. Rosyidi mulai menetap dan berdakwah di Karangasem Utara, Batang. Kala itu, kondisi masyarakat setempat sangat memprihatinkan. Sebagai kampung nelayan yang keras, pendidikan formal masih minim, dan praktik kemaksiatan seperti perjudian serta minuman keras masih menjadi pemandangan sehari-hari.
Menghadapi realitas tersebut, K.H. Rosyidi tidak mengedepankan kekerasan atau amarah. Tentu beliau sangat paham betul dengan Q.S. An-Nahl ayat 125:
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk.
Beliau memilih jalan dakwah bil-hikmah (dengan kebijaksanaan). Beliau mendekati warga dengan kasih sayang, dan memberikan keteladanan nyata. Bahkan beliau ikut duduk bersama mereka di warung-warung untuk mengetahui bagaimana kondisi real masyarakatnya. Perlahan namun pasti, Dakwah beliau yang santun dan lembut membuat masyarakat merasa segan dan malu untuk meneruskan kebiasaan buruknya. Tanpa paksaan, masyarakat mulai meninggalkan kemaksiatan dan beralih meramaikan masjid.
Keikhlasan dan Warisan Keilmuan
Salah satu keteladanan terbesar dari K.H. Rosyidi yang dikenang oleh para santrinya adalah sifat zuhud dan keikhlasannya. Dalam mengajarkan ilmu agama, beliau tidak pernah memungut biaya. Bahkan, beliau sering kali memberikan kitab-kitab secara cuma-cuma kepada para santrinya, seperti kitab Alfiyah dan Fathul Qorib, agar mereka semangat belajar.
“Pesan Mbah Kyai itu, kalau datang ke sini (ke rumah beliau) jangan membawa oleh-oleh. Datang ya datang saja,” kenang H. Ridwan, salah satu santri Mbah Rosyidi.
Semasa hidupnya, beliau merintis pembangunan masjid dan mendirikan cikal bakal Pondok Roudhotul Atqiya’ sekitar tahun 1984. Beliau juga menghidupkan tradisi keilmuan pesantren di tengah masyarakat awam melalui pengajian rutin kitab-kitab kuning klasik seperti Tafsir Al-Ibriz, Ihya Ulumuddin, dan Nashoihul Ibad.
Akhir Hayat
Setelah puluhan tahun mengabdikan diri untuk umat, K.H. Rosyidi berpulang ke Rahmatullah pada hari Rabu Kliwon, 15 November 2000 (18 Sya’ban 1421 H) dalam usia 80 tahun. Beliau dimakamkan di Pemakaman Umum Pekuncen, Batang. Semangat keteladanan dan perjuangan K.H. Rosyidi ini kembali kita ingat menjelang peringatan khoul beliau ke-26 yang insya Allah akan dilaksanakan pada tanggal 6 Februari 2026 (18 Sya’ban 1447 H).
Baca juga: Kiai Ismi Ibnu Usman: Pendiri NU Sragen dan Pejuang Melawan Penjajah
Estafet Perjuangan dan Semangat Organisasi Kepemudaan
Sepeninggal beliau, obor dakwah di Karangasem Utara tidak lantas redup. Estafet perjuangan beliau kini diteruskan secara langsung oleh cucu beliau, Ustadz Muhammad Najib Najdi. Sebagai pengasuh TPQ Roudhotul Atqiya’ saat ini, Ustadz Najib konsisten memastikan anak-anak yang mayoritas orangtuanya adalah seorang nelayan, tetap memiliki fondasi agama yang kuat sejak kecil. Selain itu, tradisi khas Mbah Rosyidi pun tetap hidup lewat pengajian kitab kuning bakda subuh. Pengajian ini mayoritas dari para orang tua dan lansia, sebagai oase spiritual bagi mereka yang mungkin dulu tidak sempat mengenyam pendidikan pesantren.
Tak hanya itu, semangat dakwah Mbah Rosyidi juga mengalir deras dalam darah cucu-cucu beliau yang lain. Mereka mengambil peran strategis dengan aktif menghidupkan organisasi kepemudaan Nahdlatul Ulama, yakni seperti IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama), IPPNU (Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama), dan GP Ansor.
Kehadiran organisasi-organisasi ini menjadi sangat vital bagi Pemuda di Karangasem Utara. Di tengah tantangan zaman modern yang kompleks, IPNU, IPPNU, dan Ansor berfungsi sebagai wadah kaderisasi sekaligus benteng moral bagi generasi muda setempat. Melalui organisasi ini, cucu-cucu beliau bersama para pemuda setempat tidak hanya merawat tradisi keagamaan seperti tahlilan, berzanjian, dan rotiban tetapi juga mentransformasikannya menjadi kegiatan yang terorganisir dan menarik bagi kaum milenial.
Organisasi ini menjadi wadah pembinaan yang memastikan bahwa pemuda Karangasem Utara tidak kehilangan arah. Jika dahulu Mbah Rosyidi berjuang mengubah kultur masyarakat secara kultural, kini cucu-cucu beliau memperkuat fondasi tersebut secara struktural.
Mereka memastikan bahwa nilai-nilai keislaman yang moderat dan rahmatan lil alamin yang diwariskan oleh Mbah Rosyidi terus hidup, menjadikan organisasi kepemudaan ini sebagai wadah kegiatan positif, menjauhkan remaja dari pergaulan bebas, serta mencetak kader-kader penerus yang siap merawat warisan spiritual K.H. Rosyidi di masa depan.
Share this content:



Post Comment