Ngaji, Ngabdi, Rabi: Santri Menjawab Dilema Pernikahan Masa Kini

Ngaji Ngabdi Rabi

Berbicara tentang santri bukan sekadar membahas seseorang yang memakai sarung dan peci, melainkan tentang sebuah identitas spiritual yang mendalam. Esensi santri adalah mereka yang mendedikasikan hidup untuk menimba ilmu agama (ngaji) di bawah bimbingan kiai. Karakter utamanya, ketundukan hati dan kemandirian jiwa.

Di pondok pesantren, tugas utama seorang santri bukan hanya mengisi otak dengan hafalan kitab kuning atau al-Qur’an. Lebih dari itu, santri menempa batinnya melalui ritual, amaliah, dan tirakat sebagai bentuk riyadhah (latihan spiritual).

Latihan ini untuk mengendalikan hawa nafsu dan memperkuat kedekatan kepada Sang Pencipta. Barangkali kemudian ilmu yang diserap tidak hanya menjadi wawasan intelektual, tetapi menjelma menjadi karakter dan identitas yang kokoh.

Ngaji dan Ngabdi sebagai Pilar Utama

Dalam dunia pesantren, kecerdasan intelektual saja tidaklah cukup. Ada satu pilar penting yang sering menjadi kunci keberhasilan seorang santri, yaitu “ngabdi” atau “khidmah”. Mengabdi di pondok bukan tentang kerja tanpa imbalan, melainkan upaya untuk menjemput keberkahan ilmu. Sebagaimana Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki dhawuh:

الإتصال يحصل بالمطالعة، والبركة تحصل بالخدمة، والنفع يحصل بالرضا

“Melekatnya ilmu itu dengan mutholaah (penelaahan). Berkahnya ilmu melalui khidmah (pengabdian). Dan kemanfaatan ilmu, bergantung pada ridha sang guru.”

Tanpa pengabdian, ilmu mungkin saja luas, tetapi bisa kehilangan “ruh” keberkahan dan manfaatnya bagi masyarakat luas. Inilah yang membedakan santri yang sekadar belajar dengan santri yang menghidupkan ilmunya.

Dikisahkan dalam kitab andalan santri junior, Ta’lim Muta’allim, putra Harun ar-Rasyid nyantri di suatu pesantren. Di kemudian hari, sang Khalifah nyambangi (membesuk) putranya dan mendapati ia sedang mengucurkan air dari bejana untuk wudhu kiainya. Melihat hal itu, Khalifah Harun ar-Rasyid kemudian mengatakan kepada kiai putranya tersebut,

“Ya Syaikh, akan lebih baik kalau anak saya ini tidak sekadar mengucurkan air, namun juga mengusapkan tangannya ke anggota badan wudhu panjenengan.”

Dari kisah pendek ini, menjadi gamblang bahwa khidmah artinya melayani, menjadi abdi (bukan kultus) kepada pemilik ilmu. Dari sanalah yang kemudian bisa menuai keberkahan ilmu.

Baca juga: Santri Bukan Robot

Dilema Klasik Santri: Nikah Dulu atau Mapan Dulu?

Setelah melewati fase panjang ngaji dan ngabdi di pesantren, santri sering kali berhadapan dengan realitas hidup baru, yaitu “rabi” (menikah). Di sinilah muncul dilema klasik yang sering menjadi perdebatan. Apakah santri harus menikah dulu atau menunggu mapan secara ekonomi terlebih dahulu?

Dalam kearifan pesantren, para kiai sering mengajarkan bahwa pernikahan adalah wasilah. Pernikahan menjadi perantara datangnya rezeki dari Allah. Pandangan ini merujuk pada janji Allah dalam Surah An-Nur ayat 32:

وَاَنْكِحُوا الْاَيَامٰى مِنْكُمْ وَالصّٰلِحِيْنَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَاِمَاۤىِٕكُمْۗ اِنْ يَّكُوْنُوْا فُقَرَاۤءَ يُغْنِهِمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahaya yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Ayat tersebut menegaskan bahwa Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya yang berniat menjaga kehormatan melalui pernikahan terlantar begitu saja. Namun, jika kita konfrontasikan dengan realitas sosial, argumen “mapan dulu” juga memiliki dasar yang logis.

Menikah bukan sekadar urusan cinta, tapi juga soal tanggung jawab nafkah, kesehatan, dan pendidikan anak di masa depan. Memiliki kemandirian finansial minimal untuk membiayai diri sendiri—tidak lagi mengandalkan orang tua—sering dianggap sebagai bentuk kedewasaan mental. Dalam fikih pun, kemampuan memberi nafkah (ba’ah) menjadi salah satu syarat anjuran menikah.

Mencari Jalan Tengah: Menimbang dengan Bijak

Melihat dua sudut pandang ini, sikap yang paling adil adalah menyadari bahwa kondisi setiap individu dan standar “mapan” seorang santri itu berbeda-beda. Tidak ada aturan baku yang bisa dipukul rata. Sesuai dengan kaidah ushul fikih:

الْحُكْمُ يَدُورُ مَعَ عِلَّتِهِ وُجُودًا وَعَدَمًا

“Hukum itu berputar (berlaku) menyertai illat-nya (sebab/alasannya) baik dalam keadaan ada maupun tidak ada.”

Maka, keputusan menikah muda atau menunda bersifat sangat personal. Bagi mereka yang memiliki kekhawatiran besar akan terjerumus dalam dosa, memiliki mental tangguh, dan sudah menemukan calon yang siap berjuang, maka menyegerakan nikah adalah langkah terbaik.

Sebaliknya, ada santri yang memilih untuk menata ekonomi lebih dulu. Mereka bekerja keras mencapai kemapanan demi memuliakan pasangan dan mencegah konflik rumah tangga. Upaya ini sendiri adalah bentuk “riyadhoh” pasca-mondok yang sangat mulia.  Maka, setiap jalan memiliki waktunya.

Najwa Shihab pernah mengatakan: 

“Nikah muda boleh, nikah umur 30-an boleh, kuliah sambil nikah boleh, mengejar karir dulu juga boleh. Yang tidak boleh adalah membandingkan prosesmu dengan orang lain, karena setiap orang punya jalan dan waktunya masing-masing.”

Menjadi santri adalah perjalanan abadi. Setelah fase ngaji dan ngabdi, jangan lupa untuk rabi sebagai bentuk menyempurnakan separuh agama (meskipun boleh saja memilih ‘azūbah alias menjomlo). 

Memilih nikah muda atau mengejar kemapanan dulu adalah pilihan personal. Yang terpenting, pastikan setiap langkah didasari oleh ridha orang tua dan guru, serta tanggung jawab yang matang. Suksesnya seorang santri tidak diukur dari secepat apa ia sampai di pelaminan, tapi seberapa berkah hidupnya bagi orang-orang di sekitarnya dan masyarakat luas.

Penulis: Fauzan Sidik

Share this content:

2 comments

comments user
Nur

Apakah santri harus nikah lagi dengan santriyah?
Apakah gus harus nikah sama ning juga?
Apakah orang berpendidikan harus sama orang yg berpendidikan juga?
Lantas kita yg gak punya apa2 mau gimana untuk melangkah sedangkan liat banyak postingan harus setara

    comments user
    walisongodotco

    Tidak harus. Nabi Muhammad menyebutkan 4 pilihan. Dan yang paling utama yang memiliki kualitas agama (akhlak).

Post Comment