Membaca Naskah Plumbon dari Pesantren Jawa

cover naskah plumbon

Sejak ratusan tahun lalu, masyarakat Nusantara merekam pengetahuan, ajaran agama, sastra, serta tradisi hidup melalui manuskrip atau naskah tulisan tangan. Jauh sebelum mesin cetak meluas, manuskrip menjadi sarana utama untuk mewariskan ilmu dari satu generasi ke generasi berikutnya. Karena penulisannya di media sederhana seperti kertas, daun, atau kulit, tak sedikit manuskrip yang kini tampil rapuh termakan usia. Namun justru di balik kerapuhan itulah tersimpan jejak sejarah yang sangat berharga.

Di lingkungan pesantren, manuskrip tidak hanya sebagai bahan kajian, tetapi juga sebagai bagian dari tradisi keilmuan dan spiritual. Di sanalah ilmu fikih, tasawuf, doa-doa, hingga silsilah keilmuan terwarisi secara turun-temurun. Salah satu warisan penting itu tersimpan di Pondok Pesantren TPI Al-Hidayah Plumbon, Batang. Masyarakat menyebutnya dengan Naskah Plumbon.

Baca juga: Catur Piwulang: Kontekstualisasi Hadis Genuine Sunan Drajat

Apa Itu Naskah Plumbon?

Naskah Plumbon adalah manuskrip kuno beraksara Arab Pegon, dalam kepercayaan setempat, sebagai peninggalan Mbah Wangsodani, seorang tokoh sepuh yang masyhur sebagai guru spiritual di wilayah Plumbon pada masanya. Keyakinan ini hidup melalui tradisi tutur warisan dari generasi ke generasi.

Dalam cerita yang berkembang di masyarakat, para murid yang hendak belajar kepada Mbah Wangsodani wajib menjalani mandi taubat sebagai bentuk penyucian diri. Sayangnya, jejak biografi tokoh ini hampir tak terekam dalam sumber tertulis. Gus Zaimuddin Ahya, selaku pewaris naskah saat ini, juga mengaku tidak mengetahui secara lengkap riwayat hidup Mbah Wangsodani. Sosok beliau lebih banyak hidup dalam ingatan kolektif masyarakat.

Naskah Plumbon sendiri terjaga melalui jalur keluarga hingga sampai kepada Kiai Syair, pendiri Pesantren TPI Al-Hidayah Plumbon. Dari beliau, naskah tersalur kepada KH Abdul Manaf Syair, dan kini berada dalam perawatan Gus Zaimuddin sebagai generasi keempat pewaris naskah. Sekitar tahun 2011, naskah ini kembali dibuka dari penyimpanan keluarga. Meski sempat didigitalisasi, hingga kini Naskah Plumbon belum banyak studi secara serius. Saat ini, naskah tersimpan di perpustakaan pesantren dan terbuka bagi santri yang ingin mengenal lebih dekat khazanah manuskrip dan tradisi keilmuan pesantren.

Kondisi Fisik dan Jejak Kodikologis Naskah Plumbon

Meski usianya sudah sangat tua dan kondisi fisiknya rapuh, Naskah Plumbon tetap menyimpan nilai yang luar biasa. Kertasnya menguning, berlubang sebab termakan rayap, sebagian sobek, dan tulisannya mengabur. Bahkan, saat dibuka di lokasi penyimpanan bersama Gus Zaimuddin Ahya, ada seekor kalajengking kecil di sela lipatannya. Temuan ini menjadi tanda bahwa naskah tersebut belum tersimpan dalam kondisi yang ideal.

Naskah ini tidak memiliki judul maupun kolofon. Tiga halaman awal dan halaman terakhir pun kosong. Karena itu, penulis, penyalin, dan tahun penulisannya masih menjadi misteri. Teksnya ditulis dengan aksara Arab Pegon berbahasa Jawa menggunakan tinta hitam di atas kertas kuno mirip dluang. Dari sisi kodikologi, ukuran halaman juga tidak seragam, menandakan bahwa proses penyalinan kemungkinan secara bertahap.

Di balik kerentanannya, Naskah Plumbon justru menyimpan kekayaan isi. Bagian utamanya menguraikan silsilah turun-temurun ilmu rasa, yaitu pengetahuan tentang kepekaan batin dan laku spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ilmu ini tidak hanya melalui bacaan, tetapi melalui tirakat, adab, dan pengalaman rohani.

Picture1 Membaca Naskah Plumbon dari Pesantren Jawa

Silsilah Ilmu Rasa dalam Naskah Plumbon

Silsilah ini sampai kepada Rasulullah saw., kemudian kepada Sayyidina Ali ra., Sayyidina Husain, Zainal Abidin, hingga Imam Muhammad al-Baqir. Dari jalur inilah ilmu berlanjut melalui para tokoh spiritual hingga sampai kepada Ruhaniyyah Sultan ‘Arifin. Perjalanan ilmu ini kemudian menyeberang keluar tanah Arab hingga sampai kepada Sultan Danarasa di Mesir, lalu kepada Sunan Sumeta di negeri Qiyam. Dari sini, estafet spiritual berlanjut kepada Syaikh Maulana Maghribi di Cirebon.

Silsilah tersebut kemudian sampai kepada Sunan Wahdah di Bonang, Sunan Kalijaga di Kadilangu, lalu mengalir kepada Muhammad Daka, Muhammad Nur Sholih, Kiai Muhammad Nur Kalam, hingga kepada Kiai Nur Besari di Pemalang. Rantai keilmuan ini berlanjut kepada Abdurrohim di Menterem yang kemudian menetap di wilayah Kalisalak, Batang.

Rangkaian panjang silsilah ini akhirnya bermuara kepada Tuan Haji Abdullah Babadan. Pada bagian ini, penulis naskah tidak hanya menutup dengan penyebutan nama, tetapi juga menyisipkan doa khusus agar beliau memperoleh limpahan rahmat Allah swt. di dunia dan akhirat.

Picture2 Membaca Naskah Plumbon dari Pesantren Jawa

Menariknya, Naskah Plumbon tidak hanya memuat silsilah keilmuan, tetapi juga pesan-pesan moral yang sangat kuat. Di dalamnya terdapat anjuran menjaga shalat lima waktu, memperbanyak istighfar, membaca shalawat, berzikir, serta menata hidup dengan doa. Bahkan terselip harapan agar generasi penerus kelak mampu menunaikan ibadah haji ke Makkah dan berziarah ke Madinah. Doa peneguh menjadi penutup dari uraian ini.

“Taqabbalallahu minna wa minkum, ya karim.”

Share this content:

2 comments

comments user
Devi Muazaroh

sangat bermanfaat

comments user
Manusia di Persimpangan Jalan

Hangat dan keurennn bangett tulisannya ✨

Post Comment