Santri itu bukan robot. Ya, lebih dari robot yang cerdas dan taat kepada penggunanya, santri memilih rasa hormat dari sekadar taat. Apa maksudnya? Sebelum kita mendiskusikan tentang santri dan robot, ada baiknya kita melihat sekilas isu belakangan ini tentang pesantren.
Tren kata kunci pesantren mengalami kenaikan grafik di algoritma Nasional (lihat di Google Trend 2 bulan terakhir). Beberapa isu dilemparkan mulai dari sarana prasarana, kultur yang dianggap kultus, ketertinggalan dari modernisme global, hingga kekerasan seksual.
Sulit untuk membantah karena memang faktanya ada kasus yang saya sebutkan terakhir itu termasuk robohnya bangunan pesantren. Di sinilah kemudian refleksi singkat ini menjadi cukup penting. Lalu, bagaimana santri membuka nalar berpikirnya? Berikut ulasan singkat namun Anda tidak harus sepakat dengan ulasan sederhana ini.
Bukan Robot: Ta’aruf dengan Khidmah Santri
Kalau robot itu taat 100% perintah penggunanya, jujur dan cerdas namun ‘bodoh’ dalam arti tidak memilik dzauq yaitu rasa yang diterima oleh hati atau bathin. Mislanya, rasa tenteram karena merasa nikmat dalam berzikir, shalat, dan lain sebagainya.
Dzauq sendiri terbagi menjadi dua, pertama, bersifat batiniah, yaitu semua rasa yang dialami oleh hati atau batin. Kedua, dzauq lahiriah, yaitu semua rasa panca indera, seperti bau wangi, rasa sakit, pedas, manis, pahit, dan lain sebagainya.
Lebih dari itu, santri itu genuine dengan karakter cerdas, jujur, namun memiliki nalar kritis dan spiritual mapan. Sehingga, santri memandang pengasuh pesantren (Pak Kiai-Bu Nyai) bukan sekadar taat tapi hurmat (menghormati). Salah satu kitab populer di kalangan santri, ta’līm al-muta’allim, menjelaskan:
وَقِيْلَ: الْحُرْمَةُ خَيْرٌ مِنَ الطَّاعَةِ، أَلاَ تَرَى أَنَّ الإِنْسَانَ لاَ يُكَفَّرُ بِالْمَعْصِيَةِ، وَإِنَّمَا يُكَفَّرُ بِاسْتِخْفَافِهَا، وَبِتَرْكِ الْحُرْمَةِ
Penjelasan dari kutipan ini mengupas makna terdalam dari hubungan santri dan guru. Frasa al-hurmatu khairun min ath-thā’ah (hormat itu lebih baik daripada taat) menegaskan bahwa nilai spiritual suatu tindakan tidak terletak pada pemenuhan perintah secara lahiriah semata. Tetapi, pada rasa hormat yang menjadi jiwa dari tindakan itu sendiri.
Sebuah ketaatan yang lahir dari rasa hormat akan melahirkan keikhlasan dan pemahaman, sementara ketaatan tanpa hormat hanyalah gerakan robotis yang hampa makna.
Lebih dalam lagi, kalimat al-insānu lā yukaffaru bi al-ma’shiyah, wa innamā yukaffaru bi istikhfāfihā (seseorang tidak menjadi kafir karena kemaksiatan, tetapi ia menjadi kafir karena meremehkan kemaksiatan itu) memberikan pencerahan teologis yang amat krusial.
Esensi dosa bukanlah pada pelanggaran formal terhadap aturan, melainkan pada sikap hati yang merendahkan (istikhfāf) otoritas dan kebesaran Sang Pemberi Aturan.
Memaknai Taat dan Hormat
Seorang santri yang melakukan kesalahan tetapi masih merasa menyesal dan mengakui kesalahannya, hatinya masih terjaga. Bahaya yang sesungguhnya adalah ketika ia mulai meremehkan ajaran gurunya atau merendahkan nilai-nilai syariat, karena dari situlah benih kekufuran. Ini nengartikan bahwa ada potensi menutupi hati dari kebenaran.
Oleh karena itu, wa bi tark al-hurmah (dan karena meninggalkan hormat) menjadi kesimpulan yang logis. Meninggalkan sikap hormat adalah pintu gerbang menuju istikhfāf (meremehkan). Inilah yang membedakan santri dari robot. Sebuah robot tidak mungkin “meremehkan”; ia hanya error.
Seorang santri, dengan hati dan nalarnya, harus senantiasa memupuk hormat agar ketaatannya tidak jatuh menjadi rutinitas mekanis. Juga, agar kesalahannya tidak berubah menjadi kesesatan yang membahayakan. Hormat adalah penjaga spiritual yang membuat ilmu tetap berkah dan membawa penuntutnya semakin dekat kepada Allah.
Artinya, rasa hormat dalam khidmat bukan sekadar pelengkap, melainkan ruh yang menjadikan proses ta’dib (pendidikan karakter) di pesantren. Prinsip inilah yang kemudian melandasi cara santri menyikapi berbagai tantangan dan isu, tidak dengan reaksi emosional, tetapi dengan khidmah yang istikamah. Inilah yang mengantarkan kita pada pembahasan selanjutnya tentang komitmen berkhidmah.
Istikamah di Jalan Khidmah
Merespons isu miring yang menerpa pesantren, santri dituntut untuk tetap cerdas dan berkhidmah secara istikamah (kontinuitas). Sebagaimana dhawuh Kiai Imam Taufiq (2/11/2025), Pengasuh Pesantren Darul Falah Besongo, istikamah inilah yang menjadi PR besar bagi santri di era digital.
Khidmah di sini bukan sekadar “enggih yai”. Justru, ia adalah amal aktif yang membutuhkan keteguhan dan kreativitas. Sembari terus mengasah nalar berpikir, santri harus menyadari bahwa ketaatan adalah menjalankan apa yang telah ditetapkan, sementara khidmah adalah berinovasi di dalam koridor ketaatan itu.
Santri menyikapi modernisme global dan berbagai kritik dari luar dengan kepala dingin dan hati yang terbuka. Jika ada masalah, seperti kasus kekerasan atau sarana yang tidak memadai, itu adalah area di mana khidmah harus terwujud. Santri masa kini dipanggil untuk tidak hanya mengkritik, tetapi terjun langsung memperbaiki dengan ilmu yang mereka miliki.
Nah, kita melihat yang banyak merespons di dunia maya adalah para alumni pesantren. Maka, andainya alumni yang ahli di bidang hukum bisa mengkhidmahi dengan memperkuat regulasi perlindungan anak di pesantren akan lebih tepat sasaran.
Santri yang bergelut di bidang teknik dan arsitektur dapat berkontribusi memastikan standar keamanan bangunan pesantren. Santri yang aktif di media sosial dapat membangun narasi positif dan objektif tentang kehidupan pesantren yang sesungguhnya.
Inilah esensi khidmah. Santri bergerak maju, berinovasi, dan berkontribusi untuk kemaslahatan umat tanpa keluar dari bingkai mematuhi aturan syariat dan adab. Ketaatan tanpa khidmah bisa menjadi statis, sementara khidmah tanpa ketaatan akan kehilangan arah.
Melalui keseimbangan ini, santri membuktikan diri sebagai bagian dari solusi, membungkam isu miring bukan dengan debat kusir, tetapi dengan karya nyata dan keteladanan yang istikamah.
Kiranya begitu santri menempuh jalan panjang untuk menunjukkan kepada dunia bahwa pesantren bukanlah institusi yang tertinggal. Pesantren menjadi pusat peradaban yang terus bernafas, berevolusi, dan melahirkan pahlawan-pahlawan bangsa yang unggul dalam ilmu dan akhlak.
Share this content:



Post Comment