Kyai Ismi Ibnu Usman: Pendiri NU Sragen dan Pejuang Melawan Penjajah

Kyai Ismi Ibnu Usman

Sebuah buku biografi menarik tergeletak di meja, di antara tumpukan bacaan lainnya. Penulis buku tersebut adalah Siti Afiah Ismi, kawan lama ibu saya. Judul buku itu: Ismi Ibnu Usman: Pendiri NU di Sragen“. Rasa penasaran pun muncul seketika. Saya meminta izin kepada ibu, “Bu, pinjam buku ini ya?” dan beliau menjawab, “Iya le, itu buku dari teman ibu.”

Ketertarikan saya muncul bukan tanpa alasan. Latar belakang saya juga dari kalangan Nahdlatul Ulama. Apalagi, di Sragen, beberapa teman saya aktif di IPNU dan IPPNU. Melihat sejarah pendirian NU di Sragen membuat saya semakin penasaran. Lebih mengejutkan lagi, buku ini menulis tentang pendiri NU Kabupaten Sragen yang sebelumnya belum pernah saya temukan.

Sejarah Langka tentang Pendiri NU Kabupaten Sragen

Tulisan tentang biografi pendiri NU di tingkat kabupaten memang masih sangat jarang. Apalagi di era sekarang, banyak generasi muda NU—terutama Gen Z—yang kurang tertarik mempelajari sejarah organisasi. Mereka lebih fokus pada amaliyah seperti sholawatan, pengajian akbar, dan menghadiri ceramah para kiai kondang. Padahal, mengetahui akar sejarah itu penting.

Buku ini mengisahkan sosok Kyai Ismi Ibnu Usman, lulusan Mambaul Ulum (sekarang IIM). Beliau bermimpi mendirikan NU bersama sahabat-sahabatnya seperti Kyai Machali, Kyai Sufyansuri, Kyai Abdus Somad, Kyai Budi Raharjo, Kyai Asmuni, dan Kyai Samsul Hadi. Akhirnya, NU resmi berdiri di Sragen pada tahun 1952 (hlm. 51).

Saat itu, NU memisahkan diri dari Partai Masyumi dan membentuk Partai Nahdlatul Ulama. Kyai Ismi mendapat kepercayaan untuk menjadi Ketua Partai NU sekaligus Ketua Jam’iyah NU Sragen. Rumah beliau pun sering didatangi tokoh NU dan politikus, terutama menjelang Pemilu 1955 (hlm. 52).

Perjuangan Kyai Ismi Melawan Penjajah Belanda

Sebelum mendirikan NU di Sragen, Kyai Ismi aktif dalam perjuangan fisik melawan penjajah. Ia memimpin Laskar Hizbullah Sabilillah di Sambirejo. Saat Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, kondisi di lapangan masih genting. Belanda kembali datang dan bertindak kejam tanpa perikemanusiaan.

Suatu malam, rumah Kyai Ismi didatangi tentara Belanda. Mereka datang membawa pedang, mencari Kyai Ismi yang katanya membunuh salah satu dari mereka. Untuk menghindari penangkapan, Kyai Ismi naik ke atap rumah yang terbuat dari anyaman bambu (gedhek). Tentara Belanda sempat menusuk onggokan padi, lalu menyabetkan pedangnya ke atap. Kyai Ismi terluka namun tetap diam, menahan sakit demi menyelamatkan diri dan keluarganya (hlm. 46).

Perjuangan Kyai Ismi bukan sekadar membangun organisasi, melainkan juga mempertaruhkan nyawa untuk kemerdekaan. Pengorbanan beliau tidak bisa terbayarkan dengan materi. Kyai Ismi adalah contoh pahlawan tanpa tanda jasa, yang pantas dikenang oleh generasi masa kini.

Sayangnya, kisah seperti ini belum banyak orang yang tahu. Banyak orang hanya mengenang Kyai Ismi sebagai tokoh NU, padahal kontribusinya lebih dari itu. Ia adalah pelopor perjuangan rakyat Sragen, baik dalam konteks agama maupun nasionalisme.

Makna Perjuangan Bagi Generasi Z

Generasi Z hidup di era digital yang serba cepat dan penuh kemudahan. Mereka tak merasakan langsung pahitnya penjajahan, deru peluru, atau ancaman maut seperti yang Kyai Ismi Ibnu Usman dan pejuang kemerdekaan lainnya hadapi kala itu. Namun, hal itu bukan alasan untuk melupakan sejarah perjuangan bangsa.

Fondasi Nahdlatul Ulama dibangun dengan semangat pengorbanan, bukan sekadar amaliyah ritual. Setiap lembaga, organisasi, dan pesantren berdiri dari tetesan keringat dan darah para pendahulu. Kyai Ismi adalah contoh nyata bagaimana nilai nasionalisme dan keislaman menyatu dalam tindakan nyata.

Di tengah kenyamanan zaman ini, generasi muda harus memahami makna berjuang dalam konteks kekinian. Berjuang tidak selalu dengan senjata, tapi dengan menegakkan nilai-nilai kejujuran, keadilan, dan kepedulian sosial. Menjadi pelajar yang berintegritas, aktif dalam organisasi, dan peduli pada sesama juga merupakan bentuk perjuangan.

Sayangnya, saat ini kita sering terjebak dalam perdebatan soal perbedaan. Padahal para ulama terdahulu seperti Imam Hanafi, Malik, Syafi’i, dan Hambali hidup berdampingan meskipun berbeda pandangan. Perbedaan bukan alasan untuk terpecah, melainkan peluang untuk saling memahami.

Kisah Kyai Ismi mengajarkan bahwa keberagaman harus dirawat dengan rasa hormat. Nilai-nilai ini perlu terpupuk subur dalam diri Gen Z agar tidak hanya menjadi pewaris kemerdekaan, tapi juga penjaga peradaban.

Perjuangan Kyai Ismi adalah cermin bahwa semangat pengabdian tak mengenal pamrih. Inilah warisan moral yang seharusnya lestari—bahwa perjuangan sejati adalah memberi, bukan menuntut.

Penulis: Ahmad Zuhdy Alkhariri, Editor Penerbit Akuisisi Litera Z

Share this content:

Post Comment