Rihlah Inspiratif Pesantren Besongo ke Al Azhar Yogyakarta World Schools

Hafidh Asrom

Sabtu, 21 Juni 2025, lebih dari 300 santri Pondok Pesantren Darul Falah Besongo melakukan kunjungan rihlah ilmiah ke Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS). Didampingi langsung oleh Pengasuh Pesantren sekaligus Guru Besar UIN Walisongo, Prof Dr KH Imam Taufiq, M.Ag, kunjungan ini menjadi momentum berharga untuk menapaki jejak pendidikan Islam modern yang bertumbuh dengan semangat global.

Al Azhar Yogyakarta World Schools tak sekadar sebagai institusi pendidikan, melainkan menjelma menjadi destinasi edu-tourism yang memesona. Dengan dua kampus modern di Sleman Monjali dan Gamping, AYWS tidak hanya menyuguhkan pendidikan berstandar internasional, tetapi juga lingkungan belajar yang estetis dan fotogenik. Bagi para santri Besongo, ini bukan hanya kunjungan akademik, tetapi juga pengalaman emosional yang membekas.

Prof Imam Taufiq pun tak menyembunyikan kekagumannya. Menurutnya, “Al Azhar Jogja wujud nyata dari pendidikan Islam modern masa depan. Gedungnya luar biasa, fasilitasnya lengkap, tapi yang paling penting adalah nilai-nilai keislaman tetap menjadi fondasi utama.” Sekolah ini menjadi contoh nyata bahwa kemajuan teknologi dan kecanggihan desain tak harus menghapus jejak spiritualitas.

Menuju Kelas Dunia: Visi Hafidh Asrom Menjadi Nyata

Sejak tahun 1975, bermula dari mimpi panjang Ketua Yayasan Asram sekaligus pendiri AYWS, Drs. H. A. Hafidh Asrom, M.M. Kala itu, beliau menanam niat untuk membangun pesantren dan sekolah Islam yang mampu menjawab tantangan zaman dan sekaligus menghapus stigma negatif tentang lembaga pesantren. “Dulu kalau dengar kata pesantren, yang terbayang itu gudiken, iya kan? Saya ingin mematahkan citra itu sehingga fasilitas boarding school kami ini seperti hotel” ujarnya.

Ia lalu memulai langkah awal dari pendirian TK Islam Al Azhar 31 Yogyakarta pada 2005, kemudian terus bertumbuh hingga melahirkan Al Azhar Yogyakarta World Schools (AYWS) pada 2017. Kemudian pada 2024, sekolah ini menjalin kemitraan strategis dengan Northern Illinois University (NIU), Amerika Serikat. Kolaborasi ini bukan hanya bertujuan mengirim mentor akademik, tetapi juga menyusun peta pendidikan global tanpa kehilangan ruh keislaman.

Kini, AYWS dikenal sebagai institusi pendidikan Islam yang memadukan nilai keislaman, keunggulan akademik, dan kemodernan fasilitas. Dalam sesi diskusi dengan Santri Besongo, Iyut Ayudya, Kepala SMP Islam Al Azhar 26 Yogyakarta, menambahkan bahwa AYWS berdiri di atas tiga fondasi: Kurikulum Nasional untuk kompetensi dasar dan nilai kebangsaan, Kurikulum Yayasan Pesantren Islam (YPI) Al Azhar untuk karakter dan akhlak, serta Kurikulum Internasional (Cambridge) yang membuka cakrawala dunia. Pendekatan ini membuat pendidikan Islam tidak hanya kontekstual, tapi juga kompetitif di tingkat global.

Bentuk kepercayaan masyarakat pun semakin luar biasa. Salah satu fenomena yang sempat viral adalah adanya “inden pendaftaran” hingga tahun 2032. Bahkan, menurut Hafidh Asrom, ada pasangan yang belum menikah tetapi sudah menyampaikan niat menyekolahkan anaknya kelak di AYWS, khususnya melalui program Daycare. Antusiasme ini menunjukkan bukan sekadar kepercayaan terhadap kualitas pendidikan, tapi juga keyakinan bahwa AYWS memberi jaminan nilai, karakter, dan masa depan.

Baca juga: Santri dan Ensiklopedi Pengetahuan: Memaknai Ulang Al-Hujurat: 13 Bersama Gus Muwafiq

Laboratorium yang AYWS tawarkan juga tergolong visioner—mulai dari Laboratorium Politik dan Kepemimpinan hingga Driving Range Mini Golf sebagai ruang latihan etika sosial. Semua itu dibingkai dalam satu prinsip: mendidik anak bukan hanya jadi pintar, tapi jadi pemimpin masa depan yang berkarakter.

Namun, di balik pencapaian besar ini, Hafidh Asrom mengingatkan bahwa semua keberhasilan tak lepas dari peran spiritualitas. “Doa nomor satu, usaha nomor dua,” ungkapnya. Ia mengamalkan berbagai bentuk riyadhah dan mujahadah, termasuk melanggengkan wirid-wirid seperti Dalail Khairat ijazah dari KH Ahmad Basyir (Jekulo Kudus) serta membiasakan Sholat Dhuha. Amalan sholat Dhuha ini tidak hanya menjadi kekuatan pribadi, tetapi juga menjadi budaya spiritual bagi siswa-siswi di AYWS.

Pesantren dan Pendidikan Global: Ruang Dialog Masa Depan Islam

Kunjungan rihlah ilmiah Pesantren Besongo ke AYWS tidak hanya menjadi agenda silaturahmi biasa, tetapi juga ruang reflektif tentang arah baru pendidikan Islam di tengah tantangan global. Di era digital dan disrupsi teknologi, santri tidak cukup hanya menguasai teks kitab. Mereka juga perlu memahami teknologi, membangun jejaring lintas budaya, serta menanamkan semangat kepemimpinan sejak dini. Dalam konteks inilah, AYWS hadir sebagai laboratorium pembelajaran yang membuktikan bahwa modernitas dan nilai keislaman dapat saling menopang, bukan saling meniadakan.

Untuk mencapai cita global itu, Hafidh Asrom menempuh rihlah intelektual ke Finlandia—negara yang memiliki sistem pendidikan terbaik di dunia serta indeks korupsi yang sangat rendah. Dari sana ia belajar langsung bagaimana manajemen sekolah dan kurikulum dibangun dengan humanisme dan integritas tinggi, yang kemudian diadaptasi dalam sistem AYWS.
“Kami tidak ragu berinvestasi untuk belajar dari negara manapun. Bahkan kami datangkan langsung mentor dan pendidik dari luar negeri agar siswa-siswi kami mendapatkan sentuhan pendidikan kelas dunia,” jelasnya.

Semangat belajar lintas batas inilah yang membuat AYWS tidak hanya kuat secara spiritual, tapi juga kompetitif secara global. Lebih dari itu, Hafidh Asrom beberapa kali berkunjung ke Turki.
“Saya juga beberapa kali ke Turki. Saya terinspirasi dari Fethullah Gülen, di mana ia ingin mengembalikan kejayaan Islam masa lalu. Nah, saya ingin mengisi kejayaan Islam masa depan melalui Al Azhar ini,” tegas Hafidh Asrom kepada para santri Besongo.

IMG_0517-scaled Rihlah Inspiratif Pesantren Besongo ke Al Azhar Yogyakarta World Schools

Jejak Rihlah, Jejak Gagasan: Santri dan Masa Depan Pendidikan Islam

Setelah sesi pemaparan di lantai 10 Tower 1, para santri menyebar menjelajahi sudut-sudut kampus. Mereka tidak sekadar melihat bangunan atau fasilitas, melainkan menyerap atmosfer: suasana belajar yang hidup, kutipan-kutipan tokoh dunia yang memenuhi dinding, hingga simbol bola dunia dan air mancur yang menggambarkan semangat globalitas. Diskusi kecil pun bergulir di antara mereka: bagaimana pesantren dapat menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan akarnya?

Imam Taufiq menyampaikan harapannya. “Pesantren hari ini harus menjadi jembatan antara spiritualitas dan globalitas.” Bagi beliau, kegiatan ini penting bukan hanya untuk memperluas wawasan, tapi juga membangkitkan kepercayaan diri santri bahwa pesantren Indonesia bisa hadir dan bicara dalam kancah internasional.

Kunjungan ini menjadi titik tolak, bukan titik akhir. Para santri pulang dengan semangat dan tanya: bisakah pondok mereka tumbuh menjadi lembaga pendidikan yang tidak hanya kuat dalam ilmu-ilmu keislaman, tapi juga siap menghadapi dunia? Dalam langkah mereka kembali ke Semarang, mereka membawa lebih dari dokumentasi. Mereka membawa arah.

Transformasi pesantren memang bukan tugas sesaat. Tapi sebagaimana ditunjukkan AYWS, dengan visi, riyadhah, dan keberanian menjemput zaman, jalan ke arah itu selalu terbuka.

Share this content:

Post Comment