(Semarang, 21/10). Ada pesantren di tengah kota Semarang sedang belajar tentang makna demokrasi. Ya, mereka para santri Pesantren Darul Falah Besongo Semarang yang menunjukkan bahwa nilai-nilai demokrasi tidak hanya hidup di ruang publik atau parlemen. Demokrasi juga bisa tumbuh subur di lingkungan pesantren. Mereka belajar, mempraktikkan, dan menghidupi semangat demokrasi bukan lewat teori, melainkan lewat pengalaman langsung. Adalah pemilihan lurah pondok pada setiap periode.
Pemilihan ini bukan kegiatan seremonial semata. Ia menjadi ruang belajar yang mengasah nalar kritis, kepemimpinan, dan tanggung jawab sosial para santri. Prosesnya panjang (kurang lebih 2 bulan), berjenjang, dan melibatkan seluruh lapisan santri. Hal ini menjadi sebuah miniatur demokrasi yang dikelola dengan cermat dan penuh kesadaran.
KOPILUR: Panitia Pemilu ala Santri
Semuanya bermula dari pembentukan panitia pemilihan yang disebut KOPILUR (Komisi Pemilihan Lurah). Nama yang terdengar sederhana itu menyimpan makna besar. KOPILUR terdiri dari pengurus harian periode berjalan yang akan segera reorganisasi setelah proses pemilihan lurah ini selesai.
Tugas mereka adalah memastikan seluruh proses pemilihan berlangsung transparan, adil, dan partisipatif, seperti Komisi Pemilihan Umum versi pesantren. Mereka juga selalu berkoordinasi dengan pengasuh pesantren, memastikan setiap prosesnya berjalan dengan baik.
Begitu panitia terbentuk, mereka melakukan kerja-kerja demokrasi. KOPILUR mengatur jadwal, menyiapkan mekanisme penjaringan calon, hingga merancang sistem pemilihan berbasis digital. Semua dilakukan secara gotong royong, dengan semangat belajar dan tanggung jawab kolektif.
Penjaringan dari Asrama: Santri Belajar Memilih
Tahapan berikutnya adalah penjaringan calon lurah dari masing-masing asrama. Pada santri putri, ada enam asrama: B9, A7, B5, B13, C5, dan C13. Sementara di santri putra terdapat B17, B6, dan D2. Dari setiap asrama, para santri melakukan pemilihan internal untuk menentukan siapa yang akan mereka utus sebagai bakal calon lurah pondok.
Proses ini tampak sederhana, tetapi di situlah pelajaran demokrasi dimulai. Santri belajar menggunakan hak pilihnya dengan bijak. Mereka berdiskusi, menilai rekam jejak, hingga mempertimbangkan siapa yang layak mewakili aspirasi asrama. Dari proses ini, terkumpul 24 santri terpilih, laki-laki dan perempuan, yang kemudian melangkah ke tahap berikutnya.
Di titik ini, nilai demokrasi yang paling mendasar, yaitu hak memilih dan dipilih, benar-benar hidup di kalangan santri. Tak ada paksaan, tak ada arahan sepihak. Semua berjalan secara musyawarah dan terbuka.
Seleksi Administratif dan Uji Wawancara
Setelah terkumpul 24 nama bakal calon, KOPILUR melakukan seleksi administratif untuk memastikan seluruh peserta memenuhi syarat. Dari proses itu, tersaring 12 besar kandidat calon lurah pondok.
Namun perjalanan mereka belum berhenti. Dua belas santri ini kemudian menjalani tes wawancara dengan tim penguji dari para pembina pondok (musyrif dan musyrifah). Wawancara ini menjadi ruang refleksi dan penilaian mendalam. Belajar bagaimana komitmen mereka terhadap nilai-nilai pesantren, tanggung jawab moral, kemampuan komunikasi, serta visi kepemimpinan yang mereka miliki.
Seleksi ini bukan sekadar mencari siapa yang paling pintar berbicara, tetapi siapa yang paling siap menjadi pelayan bagi sesama santri. Di sinilah demokrasi di pesantren menemukan ruhnya—pemimpin bukanlah sosok yang haus kuasa, melainkan yang siap mengabdi.
Kampanye, Debat, dan E-Voting
Kemudian dari dua belas besar, terpilihlah enam kandidat terbaik maju ke tahap debat dan kampanye terbuka. Ini adalah momen paling menarik sekaligus edukatif. Setiap calon memaparkan visi, misi, dan program unggulan mereka di hadapan seluruh santri. Tak jarang, sesi ini berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Santri bertanya, menanggapi, bahkan mengkritik dengan santun.
Melalui debat ini, santri belajar menghargai perbedaan pandangan. Mereka juga belajar menyampaikan pendapat tanpa menjatuhkan, mendengarkan tanpa merasa paling benar, dan memilih berdasarkan argumentasi, bukan emosi.
Menariknya lagi, Pesantren Darul Falah Besongo kini menerapkan sistem e-voting untuk proses pemilihan. Proses ini akan dilaksanakan 21 Oktober 2025 (malam ini). Para santri memberikan suaranya melalui aplikasi digital yang telah disiapkan oleh KOPILUR. Langkah ini bukan hanya efisien, tetapi juga menjadi wujud adaptasi pesantren terhadap arus digitalisasi. Demokrasi yang berakar pada nilai-nilai klasik ternyata bisa berjalan seiring dengan kemajuan teknologi.
Melalui proses e-voting tersebut, terpilih tiga besar calon lurah pondok yang akan melanjutkan proses akhir hingga ditetapkan secara resmi oleh Pengasuh Pesantren November mendatang.

Pesantren dan Demokrasi yang Inklusif
Proses panjang ini menunjukkan bahwa Pesantren Darul Falah Besongo tidak main-main dalam menyiapkan calon pemimpinnya. Demokrasi di pesantren bukan hanya formalitas, melainkan sarana pendidikan karakter. Santri belajar menjadi pemilih yang rasional, sekaligus calon pemimpin yang bermoral.
Lebih dari itu, proses pemilihan lurah di Besongo menegaskan satu hal penting. Tidak ada bias gender dalam kepemimpinan pesantren. Baik santri putra maupun putri memiliki kesempatan yang sama untuk memimpin. Laki-laki dan perempuan sama-sama bisa menjadi nahkoda yang membawa kapal organisasi menuju arah yang lebih baik.
Banyak orang beranggapan bahwa demokrasi hanya tumbuh di ruang publik yang besar, di lembaga politik, atau kampus-kampus. Padahal, di sudut sunyi pesantren, nilai-nilai demokrasi justru terasah dengan cara yang paling jujur dan sederhana.
Santri Besongo membuktikan bahwa demokrasi tidak harus bising, tetapi bisa berjalan dengan santun dan penuh adab. Mereka tidak sekadar belajar memilih pemimpin, tetapi juga belajar menjadi warga yang bertanggung jawab, beretika, dan siap menghargai perbedaan.
Pemilihan lurah pondok di Pesantren Darul Falah Besongo Semarang adalah bukti nyata bahwa demokrasi bisa tumbuh dari ruang-ruang yang berakar pada nilai spiritual dan kebersamaan. Dari pesantren, para santri belajar bahwa kepemimpinan sejati lahir bukan dari ambisi, melainkan dari pengabdian.
Share this content:



Post Comment