Film Jumbo yang sudah 8 juta kali tayangan adalah karya kreatif dari Ryan Adriany. Film Jumbo ini berupa petualangan dengan genre fantasi animasi. Dalam film ini mengisahkan seorang anak bernama Don yang sering kali mendapatkan bullying oleh orang-orang sekitarnya karena memiliki tubuh yang besar.
Selain itu, ia juga seorang yatim piatu karena kedua orang tuanya mengalami kecelakaan. Tetapi Don sangat bijak dalam menyikapi kehilangan yang ia alami dalam hidupnya. Don memilih jalan kebaikan untuk belajar mendengar, menerima, serta tidak memandang bahwa dunia harus selalu berputar di sekitarnya.
Berbeda dengan salah satu pemeran dalam film ini, yaitu Pak Roesli sebagai ‘Kades’ yang juga sama-sama mengalami kehilangan dalam hidupnya. Ya, dia kehilangan istrinya. Namun Pak Kades justru berkebalikan dengan karakter dari Don. Setelah menonton, menurut saya, Pak Kades punya karakter di mana semua orang harus merasakan sakit seperti apa yang ia rasakan. Hal ini yang menyebabkan pak kades acap kali berbuat jahat kepada orang-orang di sekitarnya.
Di balik suksesnya Film Jumbo, ada gambaran dari kisah dalam al-Qur’an yang tersaji dalam penokohan film jumbo. Dan ini menjadi penting untuk tadabbur bagi penikmat film termasuk Film Jumbo ini. Seperti apa? Mari kita simak.
Membaca Karakter antara Nabi Adam dan Don
Seperti yang sudah saya jelaskan di awal, dua karakter Don dan Pak kades. Dalam film jumbo terlihat adanya kesamaan dengan kisah dalam Al-Qur’an. Adalah antara Nabi Adam as. dan Iblis. Bukan maksud melebihkan persepsi ke Pak Kades dengan Iblis. Namun, sebagian ciri dari Iblis adalah seperti yang diperankan oleh Pak Kades. Berlebihan ya? hehe.
Al-Qur’an mengisahkan antara Adam dan Iblis sama-sama melakukan kesalahan. Kesalahan Iblis karena enggan taat dengan perintah Allah untuk bersujud (penghormatan) kepada Adam. Sedangkan Adam melanggar larangan Allah untuk tidak memakan buah khuldi. Keduanya mendapat hukuman dari Allah yaitu Nabi Adam dari surga turun ke bumi. Kalau Iblis diusir dari surga serta mendapat laknat Allah swt.
Poin pentingnya bukan pada hukuman dan kesalahan. Namun sikap setelah melakukan kekeliruannya. Adam menyikapi kesalahannya dengan belajar bertaubat, memperbaiki diri dan menyesali perbuatannya. Nabi Adam Menyesal dan berdoa:
Rabbana dholamna anfusana wa in lam taghfir lana wa tarhamna lanakunanna minal khosirin.
Artinya: “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.”
Sama hal nya dengan Don dalam film jumbo ini. Apa yang ia alami dalam jalan hidupnya berusaha untuk menerima dan mendengar orang-orang di sekitarnya. Don juga tergambarkan sebagai anak yang ceria, bersemangat, dan mudah bergaul dengan teman-temannya.
Karakter Don menjadi modal sosial yang kuat dalam perspektif Robert D. Putnam. Ia menunjukkan adanya jaringan sosial yang positif dan kapasitas untuk membangun hubungan yang baik dengan orang lain. Don memiliki potensi untuk mendapatkan dukungan sosial dan kerjasama dari teman-temannya, yang merupakan indikasi penting dari modal sosial.
Narsistik atau paham narsisisme dari karakter Pak Kades terlihat cukup kontras dari Film Jumbo ini. Bagaimana ia mengalami hal serupa seperti Don namun menyikapi ujian hidup dengan cukup antagonis. Karakter narsistik, dalam konteks Narcissistic Personality Disorder (NPD), ditandai dengan rasa penting diri yang berlebihan, kebutuhan akan kekaguman, dan kurangnya empati. Kalau agak berlebihan, namun ini seperti Iblis yang bersikap dengan menyesatkan makhluk-makhluk lainnya, khususnya manusia. Karena iblis sesat maka semua orang juga harus sesat sepertinya.
Dalam al-Qur’an Surah Al-A’raf ayat 16 disebutkan:
قَالَ فَبِمَآ اَغْوَيْتَنِيْ لَاَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيْمَۙ
Ia (Iblis) menjawab, “Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus.
Dalam ayat ini sangat jelas bahwa iblis menginginkan para manusia merasakan apa yang telah ia rasakan. Allah telah menghukum Iblis akibat keangkuhan dan kesombongannya sendiri, maka ia bersumpah akan berusaha sekuat tenaga menghalangi anak-cucu Adam dari jalan yang lurus untuk menyesatkan mereka.
Film Jumbo memberikan pelajaran bahwa kita selalu mempunyai pilihan untuk menyikapi peristiwa dalam setiap alur kehidupan. Memilih jalan kebaikan ataupun jalan keburukan. Barangkali ini lah yang menjadi salah satu pesan dari booming-nya Film Jumbo yang terdapat pula dalam al-Qur’an. Penulis Film mampu menggambarkan peran tokoh dengan cermat dan penonton mudah mengambil hikmah. Terlepas dari penilaian penulis pribadi yang sangat mungkin berbeda dengan penonton lain, Film Jumbo layak untuk diapresiasi.
Share this content:



Post Comment