Let’s Talk Sister, Make Be Your Happy In The World And Afterlife

Dalam sebuah seminar yang inspiratif, Dr. Aisyah Dahlan membahas kampanye penting dari World Health Organization (WHO) yang memulai gerakan bertema “Let’s Talk” pada tahun 2017. Kampanye ini mengajak masyarakat untuk berbicara secara jujur dan suportif, dengan tujuan mengurangi angka depresi di seluruh dunia. Kampanye ini ditujukan untuk mengurangi angka depresi di seluruh dunia, terutama melalui pendekatan percakapan yang jujur dan suportif. Berbagai komunitas, lembaga kesehatan, dan psikolog telah menjadikan gerakan ini sebagai metode pendampingan remaja, orang tua, bahkan perempuan-perempuan yang tersembunyi dalam sunyi.

Sekitarkaltim.id melaporkan bahwa riset WHO (2025) mencatat 35% pekerja di perkotaan mengalami burnout kronis. Sementara itu, anak muda berusia 15–24 tahun menunjukkan peningkatan gangguan kecemasan hingga 40% daripada di era pra-pandemi.Meski kesadaran kesehatan mental meningkat, stigma negatif tetap menjadi penghalang besar. Survei Lembaga Psikologi Indonesia (2025) mengungkapkan bahwa 60% penderita depresi enggan mencari bantuan karena takut dianggap “lemah” atau “tidak stabil”.

Di tengah dunia modern yang bising, manusia sering kehilangan makna dan kebutuhan jiwanya. Anak kecil pun bisa terkena dampaknya. Suara.com memberitakan kisah seorang ibu yang menceritakan bahwa anak gadisnya mengalami keterlambatan bicara (speech delay). Pemeriksaan medis menunjukkan bahwa pemicu utama kondisi tersebut berasal dari paparan mainan berlebihan yang justru menghambat perkembangan interaksi dan stimulus otak anak.
Bukankah kita semua perlu belajar dari kisah ini? Bahwa tak semua yang “terlihat baik” di zaman modern membawa manfaat untuk jiwa.

Berjalan Bersama Antara Psikologi dan Spiritual

Ilmu psikologi dan spiritualitas tidak bisa dipisahkan. Psikologi membahas pikiran dan perilaku manusia secara ilmiah. Sedangkan spiritualitas dalam Islam adalah inti terdalam dari jiwa manusia hubungannya dengan Allah, makna hidup, dan nilai-nilai luhur. Jika seseorang tumbuh tanpa pendidikan spiritual, maka yang terjadi adalah kehampaan. Ia bisa saja cerdas, namun hatinya kosong. Banyak anak berprestasi, tetapi tidak mengenal arah hidupnya. Spiritualitas menjadi “rem batin” yang membimbing manusia saat tidak ada yang melihat.

Terlebih para perempuan. Berdasarkan penelitian WHO, perempuan lebih rentan terhadap depresi dibandingkan laki-laki. Perempuan zaman kini dituntut desakan kalimat harus cerdas, mandiri, berpendidikan, dan produktif bahkan tuntutan sosial, peran ganda, hingga tekanan emosional sering kali membuat perempuan terlihat “kuat”, tapi di balik itu banyak yang menjerit dalam diam. 

Di tengah segala pencapaian, ada satu pertanyaan penting yang patut kita renungkan apakah cukup bagi perempuan hanya menjadi pintar? Atau justru ia butuh jiwa yang kuat dan bijak untuk menghadapi hidup?

Dr. Aisyah Dahlan menyebut, jika seorang ibu tenang, maka suami juga tenang sehingga anaknya akan mendapatkan tiga kali ketenangan. Maka keluarga tersebut akan mendapatkan kedamaian yang berlipat ganda. Saling menghargai dan mengisi kekurangan harus terus dipelajari karena akan berdampak pada kesejahteraan rumah tangga itu sendiri.

Berani Bicara: Let’s Talk, Sister!

“Let’s talk” bukan hanya slogan, melainkan bentuk cinta sesama perempuan. Mari kita saling mendengarkan. Mari berbicara. Karena banyak perempuan tampak “kuat” dari luar, namun terluka dalam diam. Mereka hebat di rumah, tempat kerja, atau dunia maya, tetapi menangis ketika lampu mulai padam. Maka muncul pertanyaan penting: cukupkah kita sebagai wanita menjadi pintar? Ataukah kita justru membutuhkan jiwa yang tangguh dan bijaksana?

Ilmu pengetahuan memberdayakan wanita untuk berdiri tegak, berbicara lantang, dan terhormat. Tapi kedamaian jiwa tak hanya datang dari ijazah, prestasi, atau gelar. Banyak perempuan yang sukses secara karir, tetapi merasa hampa ketika pulang ke rumah. Ada yang terlihat percaya diri, namun merasa sendiri dalam batinnya. Itulah mengapa spiritualitas menjadi kekuatan utama yang memberi makna dalam setiap langkah.

Spiritualitas adalah kekuatan batin yang memberi arah, makna, dan keteguhan. Ketika perempuan terhubung dengan Tuhannya, ia tidak hanya menjadi cerdas, tapi juga bijak dalam memilih jalan hidup. Seperti bukan hanya bisa mengikuti arus, sabar dalam menghadapi luka dan kehilangan, lapang dada dalam memberi dan memaafkan, dan yakin bahwa nilai dirinya tidak berdasarkan penilaian dunia.

“Perempuan yang spiritual, bukan berarti sempurna. Tapi ia tahu kemana ia pulang saat dunia membuatnya lelah.”

Psikologi dan Spiritual, Hati Sebagai Pusat Jiwa 

Namun di era modern, spiritualitas sering diartikan secara sempit atau bahkan salah arah. Banyak yang mengikuti praktik dari luar Islam tanpa menyaringnya. Ketenangan bukan tujuan, tetapi buah dari iman yang lurus. Dalam Islam, jiwa adalah pusat kehidupan. Allah berfirman:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”

(QS. Adz-Dzariyat: 56)

Tujuan penciptaan adalah ibadah. Itulah kebutuhan terdalam jiwa: ‘ubudiyyah penghambaan kepada Allah. Maka wajar jika hati gundah ketika jauh dari-Nya. Seperti firman Allah SWT di surah yang lain :

Karena hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang (QS. Ar-Ra’d: 28).

Hati merupakan bagian terpenting bagi seorang manusia. Jika hati ini baik, maka seluruhnya akan baik pula. Sebaliknya, jika hati itu rusak, maka rusak juga seluruh anggota.

Sebagaimana yang Nabi sabdakan:

أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ. رواه البخاري ومسلم.

“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, maka baiklah seluruh tubuhnya, dan jika segumpal daging tersebut buruk, maka buruklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR Bukhari dan Muslim)

Yang dimaksud  adalah qalb hati. Dan Imam Al-Ghazali membagi manusia menjadi tiga unsur: jasad, nafs, dan ruh. Menurut beliau : jika tubuh diberi makanan dari bumi, maka ruh perlu diberi makanan dari langit: dzikir, ilmu, dan ibadah.

Karenanya kita mesti mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan rusaknya hati. Dilansir dari sumber nu.or.id ada dua sebab perusak hati yang disebutkan Imam al-Muhasibi dalam kitabnya, Risalah al-Mustarsyidîn:

وَأَصْلُ فَسَادِ الْقَلْبِ تَرْكُ الْمُحَاسَبَةِ لِلنَّفْسِ وَالْإِغْتِرَارِ بِطُوْلِ الْأَمَلِ

“Asal dari rusaknya hati yaitu meninggalkan muhâsabah diri dan tertipu dengan panjangnya ambisi.” (al-Hârits al-Muhasibi, Risalah al-Mustarsyidin, Dar el-Salam, halaman 110). 

Sumber perusak hati menurut beliau ada dua yaitu : Kurangnya muhasabah dan kurangnya intropeksi diri. 

Baca juga: Santri dan Ensiklopedi Pengetahuan: Memaknai Ulang Al-Hujurat: 13 Bersama Gus Muwafiq

Menjadi penulis, ibu rumah tangga, pengusaha, guru atau apapun semua bisa menjadi jalan ibadah. Tidak ada pekerjaan halal yang rendah dalam Islam. Yang membedakan hanyalah niat. Apapun profesimu, kamu bisa menjadi jalan ketenangan dan keberkahan.

Muhammad Yahya dan Resi Novira (2022) menyebutkan bahwa perkembangan spiritual seseorang ditentukan oleh faktor internal (bawaan, keyakinan, logika) dan faktor eksternal (keluarga, pendidikan, lingkungan). Orang tua punya peran penting dalam menanamkan spiritualitas. Maka penting bagi perempuan sebagai calon ibu, guru kehidupan, dan penggerak peradaban untuk menguatkan jiwanya sejak dini.

Spiritualitas adalah kompas. Saat kita tersesat dalam gelombang emosi, trauma, atau rasa kehilangan, maka kompas ini yang akan menuntun kita pulang. Namun, psikologi tetap dibutuhkan untuk mengurai luka dan menjaga keseimbangan pikiran serta emosi.

Islam sangat peka terhadap kebutuhan mental manusia. Rasulullah juga memberikan banyak teladan bagaimana menghadapi emosi dan duka. Beliau menyuruh sahabat yang sedih untuk beristirahat, mencari solusi, bahkan mempraktikkan teknik-teknik psikologis seperti mengubah posisi saat marah.  Artinya, Islam tidak anti dengan pendekatan psikologi modern. Justru ia mendorong umatnya untuk menjaga kesehatan jiwa secara seimbang dengan sabar, sholat, istighfar, juga ilmu dan konsultasi.

Islam adalah agama fitrah sangat menyentuh semua sisi manusia: ruhani, mental, dan fisik. Kesehatan mental bukanlah aib, melainkan hak dasar manusia. Dengan dukungan kolektif, Indonesia bisa membangun sistem yang lebih inklusif. 

Untukmu, wahai perempuan, kebahagiaan bukan hanya tertawa. Tapi tentang hati yang tenang, jiwa yang terhubung, dan langkah yang yakin karena Allah selalu membersamai. Maka, tidak apa-apa kamu lelah. Tidak apa-apa kamu belum baik-baik saja. Tidak apa-apa kamu butuh istirahat. Tapi jangan memendam semuanya sendiri. Mari bicara, mari saling merangkul. Let’s talk, sister.

Share this content:

Post Comment