Ruwah Berkah Jalin Ukhuwah

Ruwahan

Tsumma ila arwah; bapak H. Asikin Yusuf, ibu Hj. Siti Nafiah, bapak H. Sumarwan, ibu Hj. Sumarmi, wa Mbah Kardiman bin Adam, ibu Rochayah binti Tasleman, syai’ullillahi lahumul fatihah.”

Demikian itu Prof. Imam Taufiq membuka kegiatan ‘Ruwahan’ mengirimkan hadiah Surah Fatihah bersama dengan warga (muslim) Perumahan Bank Niaga Ngaliyan, Semarang di Masjid Raudhatul Jannah pada Kamis (16/3/23).

Fajar menjelang langit terang, wirid dan doa salat Subuh usai diaminkan, warga bersama para santri Pesantren Darul Falah Besongo langsung duduk melingkar guna mengikuti ruwahan, momentum tahunan di bulan Sya’ban.

Setelah tawasulan kepada Nabi Saw., sahabat, tabi’in dan para ulama serta 344 nama arwah sesepuh-sanak famili terbacakan, Ruwahan berlanjut dengan membaca ayat suci al-Qur’an bil ghaib (tanpa melihat tulisan). Mereka yang menjadi qari (pembaca) adalah santri yang hafal 30 Juz al-Qur’an. Agar tetap tartiban wa tartilan (tertib mushaf, indah, baik dan benar) penyimak mendampingi setiap lafaz yang qari lantunkan.

Pembacaan al-Qur’an mulai dari al-Fatihah, al-Baqarah hingga an-Nas, menyejukkan bumi perumahan. Setelah salat Magrib, Ruwahan ditutup dengan khotmul Quran, tahlil dan pungkasan, beberapa hidangan makanan sebagai ungkapan syukur atas banyaknya kenikmatan Tuhan.

Suasana adem seharian di momen Ruwahan, bukan sekadar seremonial. Banyak nilai yang patut dijadikan sebagai refleksi, mulai dari nguuri-uri tradisi, mengingat keluarga yang telah mendahului, merekatkan bangsa insani, hingga menjaga Kalam Ilahi. Namun sebelum lebih rinci, sedikit akan diulas tentang makna ruwahan ini.   

Tradisi Ruwahan Menjalin Persaudaraan

Istilah ruwahan berasal dari ruwah konon karena lidah orang Jawa yang kesulitan menyebutkan kata arwah. Sementara arwah adalah bentuk jamak dari ruh (bahasa Arab). Dari sini, tradisi ruwahan erat kaitannya dengan alam ruh. Yakni, mengingatkan kembali pada para leluhur ataupun keluarga yang telah meninggalkan alam dunia.

Di beberapa daerah, tradisi ruwahan dilakukan dengan cara nyadran dan nyekar -umat muslim mengenal ziarah kubur- untuk mengirimkan doa ke ahli kubur. Kalau kota Semarang, ada Dugderan, yang mana ‘dug’ adalah bunyi bedug dan ‘der’ bunyi meriam sebagai penanda akan masuknya bulan Ramadan.

Tempat lain, ada yang menggelar upacara ritual dengan menyajikan berbagai makanan, di antaranya kue apem, ketan, dan kolak. Pemilihan tiga jenis makanan di atas, konon mengandung makna filosofis. Misalnya apem yang aslinya afwun (pengampunan), ketan dari khotho’an (kesalahan), dan kolak adalah kholaq (menciptakan). Adalagi kluban berasal dari quluban (jamak dari qolb) yang berarti hati.

Momentum menjelang bulan suci Ramadan adalah bentuk menyucikan diri dari kesalahan dengan cara meminta ampunan kepada Pencipta, termasuk memanjatkan doa kepada para arwah.

“Para arwah telah terputus segala amalnya. Mereka tidak bisa melakukan amal baik, sedekah dan lainnya. Sehingga kita yang masih hidup, baik untuk ikut memberikan doa kepada mereka. Inilah salah satu nilai ruwahan,” buka Kiai Imam di kegiatan ruwahan ini.

Berbagai tradisi Ruwahan tersebut dilakukan secara berjamaah (kolektif) yang memiliki semangat persaudaraan. Ini pula yang menjadi nilai yang terpupuk dalam tradisi yang genuine. Tidak terkecuali pembacaan doa arwah, seperti di Masjid Raudhatul Jannah ini.

“Berdoa secara kolektif, berjamaah, akan lebih kuat dan efektif, daripada sendirian,” jelas Imam Taufiq yang juga pengasuh Pesantren Besongo.

Baca juga: Overthinking: Upaya Menurunkan dari Konseling Hingga Berzikir

Living Quran: Mengharap Keberkahan Jelang Ramadhan

Simakan al-Quran di bulan Ruwah (Sya’ban) adalah salah satu cerminan hidupnya al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Akademisi kajian ini menyebutnya dengan living quran. Di banyak pesantren, bulan Sya’ban sebagai kalender agenda khotmul Quran dan khataman kitab lainnya.

Prosesi simakan al-Quran merupakan bentuk nguri-uri (melestarikan) ayat-ayat suci dan mengharapkan rahmat Allah. Sebagaimana dalam Surah al-A’raf: 204:

وَاِذَا قُرِئَ الْقُرْاٰنُ فَاسْتَمِعُوْا لَهٗ وَاَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat.(QS. Al-A’raf: 204)

Rahmat Allah yang amat luas, dengan segala bentuknya, mengarah pada bertambahnya kebaikan. Populer kita mendengar hadis, membaca tiap huruf al-Qur’an akan mendapatkan 1 kebaikan, dari satu itu terlipat gandakan 10 kebaikan. Bagaimana kalau 30 Juz, sudah berapa totalnya? Tentunya hal ini harus dengan niat yang benar.

Bertambahnya kebaikan atau berkah dalam tradisi Ruwahan melalui simakan al-Quran, akhirnya menjadi media tabungan umat muslim untuk lebih banyak lagi memupuk kebaikan di bulan Ramadhan. Syahdan, menjemput Ramadhan tidak dengan tangan kosong, namun persiapan batin, lahir, dan wadah untuk memetik berbagai keberkahan. Ruwahan yang tetap njawani pada akhirnya menyokong perjalanan spiritual sekaligus persaudaraan.

WhatsApp-Image-2023-03-16-at-16.29.52-1024x576 Ruwah Berkah Jalin Ukhuwah
Simakan al-Qur'an santri Pondok Pesantren Darul Dalah Besongo Semarang

Share this content:

Post Comment