Overthinking: Upaya Menurunkan dari Konseling Hingga Berzikir

overthinking

Manusia menjadi makhluk yang sempurna karena terfasilitasi hati dan akal untuk berpikir. Namun siapa sangka adanya akal menjadikan manusia memutuskan sesuatu dengan dominasi akal pikirannya. Memikirkan sesuatu secara berlebihan inilah yang disebut overthinking.

Kecemasan sebenarnya suatu hal yang wajar pada manusia, akan tetapi menjadi hal yang tidak wajar jika berlebihan. Adanya kecemasan seharusnya membuat kita berpikir logis sebelum bertindak dan menerima takdir setelah berusaha. Sehingga, dalam hal ini manusia memang boleh berpikir namun tidak terlalu jauh, karena ada beberapa hal yang memang di luar batas usaha manusia; yakni ketetapan Allah Swt.

Overthinking berasal dari kata “over” artinya berlebih dan “thinking” artinya pikiran. Mengkhawatirkan sesuatu secara berlebihan yang hakikatnya bukan kebutuhan, itulah overthinking. Berlebihan memikirkan sesuatu biasanya muncul akibat dari tidak adanya validasi yang searah dengan pikirannya sehingga dihasilkan kecemasan (Petric, 2018).

Overthinking tak bisa lepas dari keterkaitan psikologi seseorang. Overthinking merupakan kondisi paralysis-analysis, yakni kondisi seseorang yang tengah memikirkan masalah tanpa adanya penemuan solusi atau sering disebut dalam ilmu psikologi berupa ruminasi (Nelson & Kennedy, 2018).

Fakhir (2019) menjelaskan overthinking menjadi salah satu psychological disorder atau gangguan psikologi karena bisa memunculkan adanya kecemasan (anxiety) bagi pelakunya. Pengaruh kecemasan tersebut juga berdampak pada penyakit fisik maupun psikis seseorang.

Susan Nolen-Hoeksema, (Yale University, Amerika) (Nolen-Hoeksema, 2000) dalam teori Response Styles Theory (RST) menjelaskan ruminasi terjadi melalui tiga tahap. Pertama, memikirkan sesuatu yang terlalu berat. Kedua, ruminasi mengganggu dalam proses pemecahan masalah. Dan ketiga, ruminasi dapat menghancurkan pikiran seseorang sehingga berakibat pada depresi.

Menurunkan Overthinking dengan Konseling

Kekhawatiran yang berlebihan pada masa depan sebenarnya menjadi bom waktu yang menghabiskan banyak energi dan pikiran. Sebaliknya memikirkan masa saat ini menjadi perilaku yang bijak untuk merespon kondisi yang ada. Sederhananya, rasa khawatir, kecemasan dan ketakutan bukanlah perkara yang harus berlarut-larut dalam pikiran.

Ruminasi dalam hal ini masuk kategori perilaku maladaptive. Perilaku tersebut membutuhkan bimbingan konseling, mengingat pengaruh ruminasi bagi kesehatan psikologi. Nah, melalui teknik konseling Adlerian: spitting in the soup seseorang berlatih untuk mengendalikan pikirannya dengan mengintervensi pada kesalahan dan perbaikan diri.

Teknik konseling cognitive behaviour cukup tepat dalam penanganan kasus ruminasi pada kategori kecemasan. Sulkowsk (dalam Apriliana, 2019) menjelaskan model pendekatan tersebut mengarahkan seseorang dalam proses mediasi emosi dalam merespon keadaan. Pendekatannya juga menekankan pada perwujudan peran tanggung jawab dan proses perubahan pada diri pelaku selama proses konseling (Corey, 2015).

Baca juga: Oversharing: Lebih Bijak Sebelum Berbagi

Kiat Mengurangi Overthinking dalam Islam

Imam Ibnu Atha’illah dalam al-Hikam mengatakan:


أَرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِير، فَمَا قَامَ بِهِ غَيْرُكَ عَنْكَ لَا تَقُم بِهِ لِنَفْسِك 

“Istirahatkan dirimu dari mengatur sesuatu. Segala hal yang sudah diatur oleh selainmu (Allah mengaturnya), kamu tidak akan bisa melaksanakannya.”

Nasihat Ibnu Atha’illah di atas sejalan dengan cognitive restructuring, yakni merubah pola pikir untuk menciptakan ruang-ruang positif. Hal tersebut dapat dimulai dengan percaya akan kebaikan pada takdir; selalu percaya ada manfaat dan hikmah di balik proses yang terlihat sulit.

Kemudian melalui doa dan dzikir. Sebagai insan yang beriman, doa dan dzikir merupakan salah satu kekuatan untuk membentengi diri. Besarnya harapan akan pencapaian hidup sudah seharusnya senantiasa kepada Allah melalui zikir. Misalnya dalam Q.S. ar-Ra’d: 28:

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.

Urgensi berzikir misalnya dalam Tafsir Al-Munir karya Wahbah Zuhaili. Pada Q.S. Al Ahzab: 41, Ia menjelaskan ayat tersebut sebagai perintah bagi orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya agar berzikir menyebut nama Allah dengan lisan dan hatinya sebagai benteng untuk perlindungan diri dan ketakutan hanya pada-Nya.  Melalui dzikir pula jiwa kita akan lebih damai, hati mampu mengendalikan emosi dan merespon masalah dengan baik.

 

Share this content:

Post Comment