Santri Wasgitel di Era Disrupsi

ilmu

Sebagai orang Tegal, saya kemudian terinspirasi dari tradisi moci. Moci berarti aktivitas minum teh dengan poci -yang lebih nikmat- menggunakan poci dari tanah liat. Ya meski sekarang lagi menjamur es teh jumbo dengan gelas plastik. Orang Tegal biasanya akrab dengan istilah ‘wasgitel‘ akronim dari “wangi sepet legi kentel”. Istilah ini ada dalam satu brand teh asal Tegal untuk menunjukkan cita rasa teh yang harum, sepat, manis, dan kental atau pekat.

Kalau boleh, saya meminjam wasgitel untuk membaca fenomena disrupsi dengan “wani (berani), selaras, gigih, teliti”. Empat sikap ini yang akan mengantarkan santri menghadapi era disrupsi. Namun sebelum memulai penjelasan masing-masing sikap ini, terlebih dahulu kita mendeskripsikan era disrupsi.

Disrupsi merupakan pergeseran kehidupan umat manusia yang memasuki babak baru. KBBI mengatakan ‘tercerabut dari akarnya’. Kalau dulu, segala pertemuan harus antar fisik melalui perjanjian waktu dan tempat. Kalau LDR, maka kudu menunggu waktu yang lama, atau setidaknya kirim surat yang baru sampai berhari-hari bahkan hitungan bulan.

Di era disrupsi ini semua berjalan dengan sangat cepat dan kilat Misalnya untuk bertemu dengan seseorang. Sekalipun masing-masing dalam radius yang teramat jauh, pertemuan bisa terrealisasi kapan saja dan tak terbatas. Asal keduanya terkoneksi internet stabil, dengan media atau platform digital, keduanya akan bertatap muka, bertukar sapa, melepas rindu yang bergema. Meskipun memang tidak raga dengan raga. Namun, perjumpaan online kata orang-orang sekarang, sudah cukup mengobati rindu.

Semua lini kehidupan masuk ke sistem digitalisasi. Pendidikan, ekonomi, politik, sosial budaya, sampai prediksi tsunami trofi Manchester United yang tak kunjung tiba. Contoh lain, sektor industri pabrik misalnya, tenaga-tenaga manusia beralih mesin-mesin yang cerdas, cepat, dan efektif. Sehingga, banyak tenaga kerja yang terkena PHK. Nah, kalau kita tidak memiliki kompetensi, maka tiba saatnya kita tersisihkan dari muka bumi.

Kalau kita butuh sesuatu, kebutuhan rumah tangga misalnya, tidak perlu capek-capek berjalan ke tempatnya. Cukup pegang gadget, terhubung internet, punya aplikasi, pilih barang, beli dan bayar dengan e-money (uang digital), sampailah barang yang kita pesan. Promo tanggal cantik lebih rame lagi. Ini bagian kecil dari bentuk disrupsi.

Dunia pendidikan juga mengalami hal yang sama. Terlebih lagi ketika di masa pandemi Covid-19, program sekolah jarak jauh melalui media telleconference video, grup WhatsApp dan ruang kelas digital, kegiatan belajar mengajar di sekolah bisa terlaksana. Kemudahan referensi juga memanjakan para siswa dengan mengakses mesin telusur (search engine). Ribuan bahan bacaan sudah bisa kita ambil untuk refernsi. Atau kita menonton video-video pembelajaran baik yang gratis maupun berbayar.

Saya tidak ingin menilai efektivitas dan keautentikannya. Jelas di sini, pergeseran yang sangat cepat terjadi pada detik ini, di depan mata. Lagi pula, saya sendiri lebih menyukai hal-hal yang cepat dan instan, tidak ribet dan ruwet. Jadi, satu sisi memang disrupsi memberikan kemudahan di tengah kehidupan. Namun, di sisi lain akan menyebabkan terjadinya kelembekan berpikir kalau terus-terusan romantisme dengan fasilitas.

Pesantren Vs Disrupsi

Apa yang terjadi pada hari ini, kalau tidak bisa disikapi, dipersiapkan, dilakoni dengan kreatif dan inovatif, maka yang demikian (baca: kolot) akan tertinggal dan terpinggirkan. Santri mungkin akan tenggelam dan lenyap oleh sistem global. Padahal perubahan menjadi suatu keniscayaan. Pertanyaannya, perubahan seperti apa yang sesuai dengan zaman namun tidak kabur dengan nilai-nilai universal Islam? Mengingat moci saya kali ini bareng komunitas santri.

Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, yaitu wasgitel; wani (berani), selaras, gigih, dan teliti. Hemat saya, santri harus memiliki empat unsur ini untuk menghadapi era disrupsi. Bukan sebagai momok yang menakutkan dan mengancam, disrupsi menjadi tantangan sekaligus peluang bagi santri.

Wasgitel adalah ekstrak dari al-Qur’an yang menyebutkan dalam Surah Ali Imran ayat 110:

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ 

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.”

Meskipun sabab nuzul ayat ini khusus pada kejadian tertentu, namun semangat ayatnya untuk seluruh umat Nabi Muhammad Saw. Pada ayat di atas, al-Qur’an menggunakan redaksi yang umum, memilih fi’il madhi pada lafaz kun (kana-yakunu) yang berfaidah lid dawam yang artinya terus menerus atau berkelanjutan.

Atas dasar keimanan, santri melakukan amar makruf nahi munkar. Bukankah untuk amar makruf nahi munkar membutuhkan keberanian dan kegigihan? Amar makruf nahi munkar pun harus sesuai dinamika zaman. Alih-alih malah menjadi kelompok ekstrem. Sehingga membutuhkan ketelitian yang berarti kematangan berpikir dan bertindak.

Martin Van Bruinessen (1995) mengatakan kalau pesantren adalah great tradition (tradisi agung) yang ada di Indonesia, bertujuan untuk mentransmisikan pengajaran Islam tradisional. Sekalipun tradisional, ternyata eksistensi dan kontribusi santri sampai hari ini masih dan akan terus berjalan. Bukankah ini karena punya karakter wasgitel??

Syarah WASGITEL

Pertama, berani. Pesantren sebagai sistem lembaga pendidikan nasional memiliki tugas dan kewajiban membentuk pribadi santri yang tidak takut menghadapi kenyataan. Hal ini pun sebenarnya telah mengakar di kalangan santri dalam tradisi sehari-hari. Di pesantren, para santri berlatih untuk bisa hidup prihatin dengan segala kesederhanaan, kemandirian, dan fasilitas yang apa adanya.

Selain itu, santri juga latihan untuk berani bertanggungjawab. Kalau saya melihat, mungkin capeknya lurah pondok lebih gede daripada lurah di kampung, hehe. Lah wong kadang teman saya yang ketika dulu jadi lurah, diskusi saja sampai subuh. Ini untuk kemaslahatan pondok loh.

Ketika menghadapi perubahan yang begitu cepat, keberanian santri bisa berbentuk inovasi-inovasi baru yang menyesuaikan dengan kebutuhan zaman. Misalnya, dalam hal sarana dan prasarana yang digunakan tentunya menunjang digitalisasi yang efektif. Namun ini tidak menghapus esensi kegiatan santri yang genuine.

Melihat ke belakang, pada masa perkembangan pesantren di zaman kolonialisme, para penjajah seperti Belanda dan Jepang menyatakan pesantren adalah kelompok yang paling lantang menentang. Seperti yang dikatakan Samsurrohman dalam Pesantren dan Tantangan Arus Global, pesantren merupakan wadah bagi kader-kader pejuang yang melawan penjajahan. Keberanian santri atas rasa cinta pada tanah air.

Ungkapan “hubbul wathan minal iman”, yang artinya cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Landasan ini menjadikan santri memiliki jiwa patriotik, membela tanah air dan berjuang mengusir penjajahan dari Nusantara. KH. Hasyim Asy’ari umpamanya, beliau menjadi tokoh pejuang sekaligus ulama yang secara nyata menentang penjajahan dengan menyebutnya sebagai revolusi jihad. Bahwa berperang melawan, mengusir penjajah adalah kewajiban umat muslim. Meski kala itu dibatasi dalam radius tertentu.

Keberanian santri kala itu tentu tidak sama dengan masa sekarang, yang sudah tidak ada lagi kolonialisme, angkat senjata melawan para penjajah. Keberanian santri hari ini dibuktikan dengan intelektual mapan, tingkah laku sopan, kreatif dan inovatif tak keberatan, literasi digital tidak ketinggalan.

Kedua, selaras. Maksudnya, tradisi-tradisi lama yang telah melekat, yang memiliki nilai-nilai kebaikan, sesuai dengan misi Islam yang rahmatan lil alamin, pada hari ini harus menyesuaikan bentuknya dengan kondisi tanpa kehilangan esensi. Pada satu sisi, santri menjaga, merawat, dan meruwat identitas dan karakter khas ala santri secara baik. Di sisi lain, santri mengupayakan hal-hal baru yang sedang menjadi kebutuhan. Bukan berarti harus mengikuti segala sesuatu yang muncul baru dan menjadi makmum setia. Akan tetapi, santri menemukan formula yang tepat menghadapi disrupsi. Selaras berarti sesuai dengan syariat dan menebar maslahat.

Gigih. Satu karakter ini sangat penting untuk selalu terjaga dalam implementasi perjuangan santri menghadapi era disrupsi. Setelah santri menemukan formula baru, gigih yang berarti ulet, tekun, konsisten, atau dalam lisan santri adalah istikamah, menjadi sikap yang harus selalu tertanam. Mengapa demikian? Perkembangan zaman tidak berhenti sampai detik ini. Dunia industri, sains modern, media digital akan terus berlangsung dengan kecanggihan-kecanggihan yang lebih mutakhir.

Nah, untuk mempersiapkan itu semua, santri juga harus turut fokus dan konsisten dalam mengawal perubahan-perubahan zaman yang super kilat. Santri tidak boleh puas dengan pencapaiannya pada hari ini. Namun, persiapan yang lebih matang kudu terus digembleng yang sudah barang tentu bersama guru. Sehingga, santri tidak kaget ketika menghadapi perubahan yang jauh lebih besar.

Terakhir, sebagai unsur keempat yakni teliti. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan kata teliti dengan cermat, saksama, hati-hati, dan ingat-ingat. Pada poin yang terakhir ini, menjadi kewajiban bagi pesantren menyikapi era disrupsi secara cermat dan penuh kehati-hatian. Teliti tentu agar tidak salah langkah atau mengambil keputusan.

Baca juga: Pura Langgar: Akar Toleransi di Pulau Dewata

WASGITEL SWOT

Albert S. Humprey ketika menggarap proyek riset di Univesitas Stanford California, Amerika Serikat, pada kisaran 1960an memperkenalkan analisis SWOT (strength: kekuatan, weakness: kelemahan, threats: ancaman, dan opportunities: peluang). Pada mulanya, analisis ini berguna untuk perencanaan dan strategi pelaku bisnis dalam memonitor, mengevaluasi, dan mencari titik keberhasilan yang direncanakannya.

Kebetulan, salah satu dampak besar dari inovasi disrupsi (disruption innovation) sendiri banyak mengarah pada dunia bisnis. Santri pun kini tidak hanya sebatas program pendidikan Islam, ada program enterpreneur yang mana, para santri secara mandiri mendirikan usaha dari yang kecil atau menggaet mitra pelaku bisnis.

Bagi komunitas santri, analisis SWOT perlu digunakan untuk melihat dua arah keberlangsungan eksistensinya. Dua arah tersebut yaitu dari dalam dan dari luar. Pada ranah internal (dari dalam) santriharus cermat, teliti, dan mengenali secara detail kekuatan (strenght) dan kelemahannya (weakness).

Tentu pada setiap santri memiliki kompetensi dan potensi yang berbeda. Sehingga, kekuatan yang ada dan melekat juga berbeda. Dari sana kemudian santri mampu mencari peluang (opportunities) yang berada di luar (eksternal). Hal apa yang sekiranya bisa sebagai tempat dakwah dan kontribusinya di tengah arus disrupsi. Sekaligus, santri mampu mencari titik kelemahannya sendiri, untuk menghindari dari hal-hal yang bisa mengancam (threats).

Tak dapat dimungkiri, era disrupsi pada satu sisi memang membawa kemudahan dan dampak positif yang cukup besar bagi kehidupan. Namun, inovasi disrupsi juga tidak meninggalkan dampak negatif yang tidak sedikit. Akhirnya, pesantren dalam menghadapi era disrupsi menjadi sangat perlu untuk menjaga empat sikap yang tertuang dalam wasgitel tadi.

Santri wasgitel. Wani atau berani. Selaras, antara syariat, norma, dan hukum menjawab perkembangan zaman. Gigih dengan inovasi dan kreasi yang dilakukan. Serta teliti dalam perjuangan dan arah langkahnya.

Sementara nyeruput teh, artikel singkat telah selesai Anda nikmati. Terima kasih masih setia dengan melanjutkan bacaan Anda di sini.

Penulis: M. Badruz Zaman, Santri Ngapak Arus Informasi Santri (AIS) Nusantara Jateng.

Share this content:

1 comment

Post Comment