Bali terkenal dengan julukan “Pulau Dewata” atau “Pulau Seribu Pura”. Pura merupakan tempat ibadah agama hindu di Indonesia. Sebutan pulau seribu pura ini karena Bali sebagai pulau yang mayoritas penduduknya penganut agama Hindu.
Pura merupakan tempat suci agama Hindu yang berfungsi untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa. Di antara banyaknya pura yang ada di Bali, terdapat beberapa pura yang menjadi daya tarik wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Misalnya seperti Pura Besakih, Pura Lempuyang, Pura Tanah Lot, Pura Uluwatu, dan Pura Ulun Danu.
Selain sejumlah pura tersebut, belakangan ini Pura Penataran Agung Dalem Jawa atau lebih akrab dengan sebutan Pura Langgar yang terletak di Desa Bunutin, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli juga menarik perhatian wisatawan.
Pura Langgar ini memiliki keunikan tersendiri dari pada pura di Bali pada umumnya. Di dalam kompleks pura ini tidak saja terdapat sejumlah palinggih atau bangunan suci bagi umat Hindu. Tetapi juga terdapat sebuah bangunan langgar dengan langgam arsitektur Bali klasik yang menjadi tempat ibadah bagi umat Islam.
Pura langgar juga merupakan pusaka budaya yang bernilai sebagai daya tarik wisata sejarah dan religi. Potensi daya tarik utamanya berupa sejarah keberadaan Pura Langgar dan Kompleks bangunan suci Hindu-Islam.
Histori Singkat Pura Langgar
Keberadaan Pura Langgar berawal dari perselisihan antara Raja Dalem Waturenggong di Gelgel, Bali dan Raja Dalem Sri Juru yang berkedudukan di Blambangan, Jawa Timur.
Perselisihan yang terjadi pada pertengahan abad ke-16 lantaran ada penolakan Raja Blambangan terhadap permohonan Dalem Waturenggong untuk mempersunting putrinya yang bernama Ayu Mas. Dalem Waturenggong kemudian mengutus Patih Ularan untuk menyerang Kerajaan Blambangan.
Ketika penyerangan tersebut, Dalem Sri Juru wafat sehingga tahta Kerajaan Blambangan berlanjut ke keturunannya yang bernama Pangeran Mas Sepuh dan Mas Wilis atau Wong Agung Wilis yang merupakan saudara tirinya sebagai Patih Agung.
Suatu ketika, kedua keturunan Raja Blambangan berniat menghadap kepada Raja Gelgel untuk bersilaturrahmi sekaligus memohon maaf atas kelancangan perbuatan orang tuanya yang telah menolak lamaran sang Raja untuk mempersunting Ayu Mas. Setelah selesai menghadap Raja Gelgel, keduanya beranjak pulang untuk kembali ke Blambangan. Namun, di tengah perjalanan, sebelum menyebrang, mereka diserang oleh sekelompok orang bersenjata yang menyebabkan Pangeran Mas Sepuh Wafat.
Sementara itu, Pangeran Wilis berhasil menyelamatkan diri dan mohon perlindungan kepada Raja Gelgel. Oleh Raja Gelgel, Pangeran Wilis mendapatkan izin untuk tinggal di Desa Bunutin dan membangun tempat tinggal yakni Puri Agung Bunutin dan kompleks bangunan suci yang disebut Pamerajaan Agung Bunutin. Selain itu, Pangeran Wilis juga menjadi penguasa wilayah Bunutin dengan gelar I Dewa Mas Wilis.
Di tengah masa kekuasaannya, I Dewa Mas Wilis wafat dan meninggalkan dua orang istri dan lima orang putra. Salah satu istri I Dewa Mas Wilis adalah seorang putri keturunan Raja Mengwi yang mempunyai dua orang putra, yaitu I Dewa Mas Blambangan dan Ida I Dewa Mas Bunutin.
Pura Langgar: Semangat Para Leluhur
Sepeninggal I Dewa Mas Wilis, tahta kekuasaan diwariskan kepada putra sulungnya yang bernama I Dewa Mas Blambangan. Belum lama bertahta, tiba-tiba I Dewa Mas Blambangan menderita sakit yang tak kunjung sembuh. Akhirnya pihak keluarga melakukan ritual untuk memohon kesembuhan kepada leluhur.
Di tengah pelaksanaan ritual tersebut, salah seorang dari mereka mengalami kesurupan dan meminta agar dibuatkan sebuah bangunan yang serupa dengan langgar. Permintaan tersebut konon berasal dari para leluhur mereka di Tanah Blambangan yang menganut agama Islam.
I Dewa Mas Bunutin akhirnya membangun sebuah langgar di dalam areal pamerajaan puri. Tidak berselang lama, penyakit yang menjangkiti Dewa Mas Blambangan sedikit demi sedikit sembuh. Permohonan pembuatan langgar ini yang kemudian membuat Pamerajan Agung Dalem Jawa Bunutin menjadi terkenal dengan nama Pura Langgar.
Bacs juga: Ekoteologi Moderat Perhatian pada Bumi dari Krisis
Pura Langgar: Akar Toleransi Membangun Harmoni
Keberadaan bangunan langgar di dalam kompleks Pura Penataran Agung Dalem Jawa Bunutin mengindikasikan adanya proses penetration pacifique. Apa itu? yakni masuknya unsur-unsur kebudayaan luar secara damai pada masa lampau. Hal ini karena adanya rasa saling menerima antar kelompok agama yang berbeda.
Fenomena di atas juga mengindikasikan bahwa semangat menghargai perbedaan yang menyangkut hubungan antarsuku, agama, dan ras di kalangan masyarakat Bali sejatinya telah terbangun sejak lama. Mereka menyikapi datangnya kelompok masyarakat yang berbeda dengan semangat toleransi dan penghargaan terhadap lain dengan sangat tinggi.
Adanya sikap menghargai kelompok yang berbeda di kalangan masyarakat Bali tidak bisa terlepas dari ajaran-ajaran agama Hindu yang menjadi mayoritas di sana. Agama Hindu antara lain mengajarkan, bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk mencapai kesejahteraan lahir dan batin atau moksartham jagadhta.
Kemudian untuk kesejahteraan lahir dan batin ada konsep Tri Hita Karana atau Tiga Penyebab Kesejahteraan. Konsep ini terkait hubungan yang harmonis antara manusia dengan Sanghyang Jagatkarana (Tuhan Yang Maha Esa), Bhuana (alam), dan Manusia.
Hubungan yang harmonis antara ketiga unsur tersebut akan membawa manfaat bagi kesejahteraan hidup lahir dan batin. Sebaliknya, hubungan yang tidak harmonis antara ketiganya akan mengancam kesejahteraan hidup manusia.
Dengan demikian, semangat menghargai keberagaman bagi masyarakat Bali sesungguhnya tidak hanya terbatas pada konteks hubungan antar manusia dan lingkungan sosial semata, tetapi juga lingkungan fisik dan lingkungan spiritual.
Share this content:



Post Comment