Sudahi Perdebatan, Peringatan Maulid Nabi Muhammad Memang Penting Bagi Umat

Oleh Redaktur walisongo.co

Gambaran peringatan maulid nabi Muhammad yang menjadi tradisi sebagian kelompok muslim, mungkin seperti yang dikatakan oleh Imam as-Suyuthi berikut ini:

وَالجَوَابُ عِنْدِيْ أَنَّ أَصْلَ عَمَلِ المَوْلِدِ الَّذِيْ هُوَ اِجْتِمَاعُ النَّاسِ وَقِرَأَةُ مَاتَيَسَّرَ مِنَ القُرْآنِ وَرِوَايَةُ الأَخْبَارِ الوَارِدَةِ فِيْ مَبْدَأِ أَمْرِ النَّبِيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ مَا وَقَعَ فِيْ مَوْلِدِهِ مِنَ الاَياَتِ ثُمَّ يَمُدُّ لَهُمْ سِمَاطٌ يَأْكُلُوْنَهُ وَيَنْصَرِفُوْنَهُ مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ

Jawaban saya tentang perayaan maulid Nabi yaitu berkumpulnya umat yang membaca ayat al-Qur’an yang mudah, membacakan hadis-sejarah keteladanan Nabi Muhammad dari awal hingga perjalanan hidupnya, lalu dihidangkan makanan untuk dimakan bersama. Selesai. Lalu mereka pulang. Itu saja tanpa ada tambahan lain. (al-Hawi lil Fatawa, juz I, h. 222)

Pertanyaannya, peringatan maulid ini sejatinya untuk siapa? Kalau boleh penulis jawab, untuk kaum muslim yang merayakannya. Mungkin Anda kembali bertanya, “bukannya untuk Kanjeng Nabi Muhammad?” Iya, Nabi memang dilahirkan 12 Rabiulawal -sebagaimana menurut pendapat ulama- seperti yang setiap tahun kita peringati. Tapi sepertinya kita perlu membaca dengan kacamata yang berbeda.

Pertama dan mungkin ini menjadi kajian keagamaan, yang, entah kenapa selalu muncul Yaitu silang pendapat perayaan maulid Nabi Muhammad, antara boleh dengan tidak boleh, lalu ada pula maulid nabi bid’ah. Kelompok lain menjawab, iya bid’ah tapi hasanah.

Pendapat lain menyebutkan maulid nabi ini bagus ketika diselenggarakan dengan menunjukkan berbagai argumentasi. Kelompok yang lain lagi, tidak perlu lah, cukup dengan meneladani tindak-tanduknya Nabi Muhammad saja.

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Artinya: “Katakanlah, dengan karunia Allah dan rahmatNya hendaklah mereka bergembira. Hal itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS.Yunus: 58)

Ayat tersebut yang biasa dijadikan sebagai pijakan bagi kelompok muslim yang menggelar muludan. Hal ini didasarkan pada lafadz rahmat yang dimaksud adalah sosok Muhammad Saw. Pendapat yang demikian di antaranya dari Ibnu Abbas, al-Alusi dalam Ruh al-Ma’ani (j. 11, h. 186) dan Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani dalam Ikhraj wa Ta’liq fi Mukhtashar Sirah an-Nabawiyyah (h. 6-7).

Baca juga: Inilah Penjelasan Hadis Nabi tentang Agama sebagai Nasihat

Bagi mereka yang kurang sreg dengan muludan, memegang teguh dalil bahwa sesuatu yang tidak dilakukan nabi atau tidak ada di zaman nabi, ada baiknya tidak perlu dilakukan. Karena bisa saja itu sesuatu yang bid’ah. Mereka memahami bahwa yang bid’ah bisa menjerumuskan pada kesesatan dan berujung api neraka.

Silang pendapat saban tahun ini, menurut penulis tidak begitu penting. Moderasi beragama yang banyak dinarasikan, barangkali juga menjadikan setiap umat mampu berlapang dada atas pendapat kelompok lain di luar dirinya. Dan, ada hal-hal lain yang jauh lebih penting.

Kedua, kita perlu lebih dalam memaknai peringatan kelahiran insan mulia, Nabi Muhammad Saw. sehingga perhelatan tahunan ini tidak sekadar euforia. Setidaknya dengan memperingati maulidurrasul, pertama adalah membuka lembaran demi lembaran betapa Maha Agung-Nya Allah yang telah mengutus manusia pembawa lentera yang mencerahkan.

Kemulian Baginda Nabi Muhammad memang sudah sering kita dengar, baik legitimasi secara langung dari al-Qur’an, Sunah, lalu perkataan para sahabat, tabi’in, sampai para ulama, yang masih kita baca hingga hari ini. al-Qur’an menyebutkan bahwa Muhammad adalah sosok teladan yang teramat baik (QS. al-Ahzab: 21), Nabi Muhammad Saw. adalah rahmat (QS. al-Anbiya: 107). Al-Musthofa menjadi pribadi yang merasa berat bila kaumnya sedang kesulitan, memiliki sifat belas kasih dan lemah lembut (QS. at-Taubah: 128).

Baca juga: Nilai Ibadah dalam Tradisi Ziarah Makam Para Wali

Hari ini, perayaan maulid Nabi Muhammad bisa kita tingkatkan levelnya, dari yang sekadar tradisi tahunan, menjadi tradisi sehari-hari yang berkelanjutan. Yakni dengan berupaya menumbuhkan rasa cinta, meneladani laku hidup, dan selalu mengingat Kanjeng Nabi saban harinya. Seperti yang disampaikan oleh Sayyid Muhammad bin Alawi al-Hasani.

“Kesimpulannya, saya tidak mengatakan maulid nabi ini bagian dari kesunnahan ketika diperingati pada malam tertentu, bahkan ketika hal ini dijadikan keyakinan, bisa menjadi bid’ah. Karena mengingat dan berta’alluq (menjalin hubungan) dengan Nabi Muhammad adalah kewajiban yang dilakukan pada setiap saat dan dalam setiap jiwa kita terpenuhi nama (agungnya Muhammad).” (Mafahim Yajibu ‘an Tushahhah, h. 309, Darul Kutub al-Ilmiyah, Beirut, 2009)

Syahdan, peringatan Maulid Nabi Muhammad yang digelar tahunan menjadi perantara yang baik untuk merefleksikan diri dalam rangka menambah kecintaan dan berusaha meneladaninya. Meskipun dalam perjalanan hidup kita, ada hal-hal yang keliru atau salah langkah sehingga melakukan maksiat.

Apalagi dengan melihat gemerlapnya kehidupan hari ini, perhatian terhadap kualitas moral sangat penting. Dan tentu, Nabi Muhammad Saw. lah teladan sepanjang masa. Akhirnya, kalau dipikir-pikir, maulid Nabi sejatinya adalah untuk diri kita. Ya, kita memperingati untuk berupaya meneladani.

Sama halnya kita bersalawat, jangan dulu pede yang kita baca untuk Kanjeng Nabi, tapi itu untuk pembaca salawat. Lah wong Nabi sudah turah-turah, maka dengan salawat lumeberlah rahmatnya kepada umat. Wallahu a’lam.

Share this content:

Post Comment