Hadis Nabi tentang Agama sebagai Nasihat

Rendah Hati

Oleh: Abdul Hanif Fauzi

عَنْ أَبِي رُقَيَّةَ تَمِيْمِ بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ -ثَلَاثًا-, قُلْنَا : لِمَنْ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ : لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ المُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ.

Dari Abu Ruqayyah, Tamim bin Aus ad-Dari Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Agama adalah nasihat )diucapkan sebanyak tiga kali).” Kami bertanya, “Untuk siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, KitabNya, RasulNya, dan untuk para pemimpin kaum Muslimin serta kaum Muslimin pada umumnya.” HR. Muslim No. 55

Walisongo.co – Hadis tersebut juga dikutip oleh Abu Zakaria Muhyiddin an-Nawawi (631-676 H), dalam kitab al-Arba’un an-Nawawiyyah pada urutan ketujuh. Artikel ini akan mengulas kandungan hadis sebagai upaya menyegarkan kembali keberagamaan kita di tengah transisi kehidupan yang tidak menentu.

Di awal sabdanya, Nabi mengatakan bahwa agama adalah nasihat. Menurut Ibnu Daqiq al-‘Id, nasihat merupakan tiang berdirinya agama. Ibnu Shalah kemudian berpendapat bahwa nasihat di sini adalah daya upaya seseorang untuk melakukan segala kebaikan yang berhubungan dengan objeknya.

Redaksi hadis menyebutkan lima objek, yaitu Allah, kitab-kitab Allah, para rasul-Nya, para pemimpin dan umat manusia secara umum. Bagaimana hubungan antara nasihat dengan lima tujuan yang dikatakan oleh Nabi Muhammad tersebut?

Keberagamaan kita, kalau melihat hadis tersebut dimulai dengan hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Dalam hal ini, Ibnu Daqiq al-‘Id mengambil pendapat dari al-Khaththabi dan para ulama lainnya bahwa makna nasihat kepada Allah adalah mengimani dan tidak menyekutukan-Nya.

Kemudian tidak menafikan sifat-sifat Allah melainkan menyifati dengan segala sifat yang sempurna dan penuh keagungan, menyucikan Allah dari segala kekurangan.

Lebih lanjut lagi, melaksanakan ketaatan dan menjauhi larangan-Nya, cinta dan benci karena-Nya, berjihad dengan yang kufur, merenungkan serta mensyukuri kenikmatan dan ikhlas atas segala perkara yang datang dari Allah.

Selanjutnya berdoa dengan menyebutkan segala sifat yang telah disebutkan tadi atas dasar motivasi dari-Nya, serta berbuat baik (lemah lembut) kepada sesama manusia.

Situasi pandemi yang hari ini kita hadapi, berbuat baik kepada Allah dapat bermakna sebagai prasangka baik kepada-Nya. Allah Swt pasti menghadirkan berbagai hikmah di balik kondisi yang cukup sulit ini. Di antaranya ialah turunnya ampunan dan karunia-Nya bagi orang-orang yang beriman dan bersabar. Pun demikian pandemi dapat menjadi ladang pahala bagi kita dengan melakukan berbagai kebajikan.

Kedua, nasihat terhadap kitab Allah. Maksudnya mengimani sepenuh hati bahwa kitab-kitab tersebut adalah kalam dan datang dari Allah, sama sekali tidak ada campur tangan manusia. Apa yang ada dalam kitab Allah tidak akan mampu ditandingi dengan kitab lainnya buah tangan manusia.

Selain itu, mengagungkan (menghormati), membacanya dengan baik dan benar, husyuk ketika membacanya dengan segala aturan dan kaidah yang ditentukan. Lalu mempelajari dan paham isi kandungan serta mengambil i’tibar dari pesan-pesan yang terkandung di dalamnya.

Setelah itu mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari sesuai pedoman kitab Allah tersebut. Al-Quran sebagai kitab Allah yang paling sempurna dan menyempurnakan, sepatutnya difungsikan sebagai pegangan arah hidup kita.  

Nabi Muhammad selanjutnya menyebutkan nasihat yang dituju kepada dirinya. Maksudnya di sini, masih menurut Ibnu Daqiq adalah membenarkan, mengimani segala yang datang dari Nabi Saw. (baca: risalahnya). Kemudian, menjalankan syariat yang diajarkannya sekaligus meninggalkan yang dilarang.

Lanjut lagi, mempelajari ilmu pengetahuan yang datang dari Nabi Saw. sebagai bekal kehidupan terlebih lagi meneladani akhlak Nabi Muhammad Saw. Ibnu Daqiq melanjutkan, juga mencintai keturunannya, sahabat, dan menekuni (mengikuti) sunnah-sunnahnya yang teramat banyak jumlahnya.

Selanjutnya, berbuat baik kepada pemimpin. Berbuat baik kepada pemimpin umat Islam dapat bermakna menaati seluruh peraturan dan kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Selain itu, perbuatan baik kepada pemerintah juga dapat diwujudkan dengan memberikan kritik kepada pemimpin ketika ada kebijakan yang tidak pro-rakyat, dengan cara yang apik, santun, dan sesuai garis hukum yang berlaku.

Terakhir, Nabi Muhammad mengajak untuk menjaga hubungan yang baik terhadap sesama manusia. Banyak hal kebaikan yang dapat dilakukan di tengah kehidupan.  Sesama manusia, selaiknya saling mendukung, gotong royong, menuntun menuju cahaya kedamaian, dan tidak merendahkan.

Sebaliknya memenuhi hak antarmanusia dan bersikap adil. Amar makruf nahi munkar pun dilakukan dengan cara yang ikhlas dan penuh kasih. Sehingga dapat terbina kondisi yang damai.

Akhirnya, melalui hadis ini, Nabi Muhammad mengajak umat manusia untuk memperkuat keberagamaan kita. Menguatkan hubungan dengan Tuhan, kitab-Nya, utusan-Nya, pemimpin, dan insan manusia secara luas, pada gilirannya menjadi nasihat, menjadi jalan kebajikan umat. Wallahu a’lam

Share this content:

Post Comment