Junkfood yang Kian Marak dan Anjuran Islam tentang Makanan

Junkfood

Junkfood, menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjadi salah satu banyaknya anak di Indonesia mengalami obesitas dan diabetes. Hal ini menjadi salah satu kekhawatiran tersendiri. Pasalnya, anak-anak merupakan generasi bangsa yang akan melanjutkan pembangunan bangsa.

Kehadiran junkfood memang mengubah konsep makan bangsa Indonesia. Makanan yang terlihat menarik, enak, modis dan cepat untuk disajikan menjadikan masyarakat cenderung memilihnya untuk konsumsi sehari-hari. Mengonsumsi junkfood menjadi tren di masyarakat, lebih banyak di kalangan remaja dan anak-anak. Hal ini terbukti semakin banyaknya gerai-gerai yang menyediakan makanan junkfood baik berupa pizza, burger, minuman bersoda, es krim atau yang lainnya.

Dampak Junkfood Bagi Kesehatan

Di balik kenikmatan dan efisiensi yang menjadi daya tawar, junkfood memiliki dampak negatif bagi tubuh jika kita sering mengonsumsi. Penelitian dari Dian Ariska Widyastuti dan Muhammad Ali Sodik menyatakan bahwa junkfood mengandung kalori, lemak, protein, gula dan garam yang relatif tinggi, tetapi nutrisi dan gizi yang rendah. Mengonsumsi junkfood secara berlebihan akan meningkatkan kadar lemak dalam tubuh sehingga dapat menyebabkan obesitas.

Selain itu, junkfood juga dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, seperti; diabetes (kencing manis), hipertensi (tekanan darah tinggi), aterosklerosis (pengerasan pembuluh darah), penyakit jantung koroner, stroke, kanker dan lain-lain.

Baca Juga: Strawberry Generation: Meminimalisir Ledakan Melalui Mindful dan Muraqabah Parenting

Makanan yang Baik dalam Anjuran Islam

Demi keseimbangan gizi, masyarakat harus selektif dalam memilih makanan, terutama orang tua yang sangat andil dalam pemilihan gizi anak. Orang tua harus memilih makanan yang sesuai bagi pertumbuhan dan perkembangan sang anak. Makanan sangatlah berpengaruh kepada jiwa dan sikap hidup. Makanan akan menentukan juga kepada kehalusan atau kekasaran budi seseorang. Oleh karena itu Allah swt berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 168;

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

“Wahai manusia, makanlah sebagian (makanan) di bumi yang halal lagi baik dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia bagimu merupakan musuh yang nyata.” (QS. Al-Baqarah [2] : 168)

Buya Hamka menjelaskan dalam tafsirnya, bahwa Islam sangatlah memerhatikan makanan. Apapun boleh, asal halal dan baik. Memang ada tradisi melarang makan daging dan sebagainya dengan maksud agar tubuh menjadi lemah dan dengan kelemahan tubuh maka jiwa akan mendapatkan kekuatannya. Akan tetapi kalau hal ini berlebihan, artinya mereka hanya mementingkan rohani tanpa mementingkan jasmani yang menjadi tempat berdiam rohani. Maka Islam menuntun kepada orang-orang yang beriman agar memakan makanan yang baik-baik yang sesuai untuk menyehatkan jiwa dan badan tanpa banyak pantangan.

Makanan adalah kunci dari tubuh yang sehat. Sehingga setan sering memperdaya manusia lewat makanan maupun aktivitas yang berkaitan dengan jasmani. Jikalau jasmani seseorang terganggu maka ia akan menjadi tidak semangat dalam beribadah. Karena itu, lanjutan ayat ini mengingatkan agar tidak mengikuti langkah-langkah setan.

Oleh karena itu manusia harus memilih makanan yang memenuhi unsur halal dan baik. Karena tidak semua makanan halal otomatis baik. Berdasarkan penjelasan Quraish Shihab dalam tafsirnya, makanan yang halal terdiri dari empat macam; wajib, sunnah, mubah dan makruh. Makanan yang bersifat makruh lah yang sebaiknya dihindari karena lebih besar madhorotnya.

Lebih Sehat dengan Mengurangi Junkfood

Tidak semua makanan yang halal bisa baik untuk manusia yang memiliki kondisi kesehatan tertentu. Karena ada juga makanan yang kurang baik untuknya, walau untuk yang lain baik. Misalnya udang ataupun jeroan meskipun halal namun tidak baik secara medis bagi pengidap kolestrol, gula yang tidak baik bagi penderita diabetes mellitus ataupun garam yang tidak baik bagi penderita hipertensi.              

Pemilihan junkfood sebagai makanan keseharian anak adalah pilihan yang salah. Meskipun secara hukum syar’i makanan junkfood berstatus halal, namun makanan tersebut dapat membahayakan tubuh jika terus menerus masuk ke tubuh.

Orang tua haruslah menjaga keseimbangan gizi anak dan lebih bijak dalam memilih makanan bagi sang anak. Sehingga kasus anak menderita obesitas bahkan gagal ginjal atau sempat viral seperti kasus pemberian kopi kepada bayi tidak terulang kembali. 

Anak adalah generasi penerus bangsa dan agama yang pertumbuhan dan perkembangannya harus terjaga dan mendapat perhatian serius. Salah satunya dengan memberikan makanan terbaik untuk tumbuh kembangnya. Wallahu a’lam

 

Share this content:

Post Comment