Betapa agungnya ilmu, Allah menyebutkan kata tersebut dalam Al-Qur’an dengan berbagai bentuk dan derivasinya terulang hingga 854 kali. Secara umum, kata ilmu merujuk pada proses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan. Jika menurut makna bahasa, kata ilmu berarti kejelasan, maka sejatinya Ilmu merupakan pengetahuan yang jelas tentang sesuatu.
Menurut al-Qur’an, ilmu merupakan keistimewaan yang menjadikan manusia unggul atas makhluk-makhluk lain guna menjalankan fungsi kekhalifahan di muka bumi. Ini tercermin dari kisah kejadian manusia pertama yang tercantum dalam al-Quran pada surah al-Baqarah[2]: 31-32:
وَعَلَّمَ ءَادَمَ الْأَسْمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلٰٓئِكَةِ فَقَالَ أَنۢبِـُٔونِى بِأَسْمَآءِ هٰٓؤُلَآءِ إِن كُنتُمْ صٰدِقِينَ، قَالُوا۟ سُبْحٰنَكَ لَا عِلْمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
Artinya: “Dan Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para Malaikat, seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama semua benda ini, jika kalian yang benar”, Mereka (para malaikat) pun menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui, Mahabijaksana”.
Al-Quran memberikan isyarat ada dua cara untuk meeroleh ilmu. Pertama dengan sarana dan usaha atau belajar. Kedua dengan tanpa sarana dan usaha. Yang pertama disebut dengan ilmu kasbi dan yang kedua disebut dengan ilmu ladunni. Allah berfirman dalam Surat al-‘Alaq ayat 3-5:
Artinya: “Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, (juga) Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Ayat di atas juga memberikan isyarat bahwa objek ilmu menurut Al-Qur’an dapat berupa alam materi dan non-materi. Hal inilah yang menjadikan para kaum sufi menggambarkan lima hierarki pengetahuan atau al-hadlarat al-Ilahiyat al-khams. (l) alam nasut (alam materi), (2) alam malakut (alam kejiwaan), (3) alam jabarut (alam ruh), (4) alam lahut (sifat-sifat Ilahiyah), dan (5) alam hahut (Wujud Zat Ilahi).
Tiga Sarana Mendapatkan Ilmu
Di dalam Al-Qur’an terdapat isyarat bahwa melalui tiga sarana yaitu indera, akal, dan mata hati maka kita dapat mendapat ilmu. Allah berfirman dalam Surat al-Nahl ayat 78:
وَٱللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْـئًا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَٰرَ وَٱلْأَفْـِٔدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Artinya: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati nurani, agar kamu bersyukur.
Manusia modern dapat mengetahui bahwa Indera dan akal merupakan sarana utama dalam memperoleh pengetahuan dan kecanggihan teknologi. Namun demikian, Al-Qur’an juga menggarisbawahi pentingnya kejernihan bashirah (mata hati) sebagai sarana memperoleh ilmu.
Di era digital ini kita menyaksikan begitu canggihnya teknologi yang ada dalam memperoleh ilmu. Al-Qur’an juga memberikan isyarat agar manusia mampu mengetahui kebesaran Allah melalui ilmu pengetahuan dan teknologi. Allah berfirman dalam Surat al-Rahman ayat 33:
يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَن تَنفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانفُذُوا ۚ لَا تَنفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ
Artinya: “Wahai sekalian jin dan manusia, jika kalian sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kalian tidak akan dapat menembusnya melainkan dengan sulthan.”
Baca juga: KH Shodiq Menafsir al-Qur’an dengan Pegon Milenial
Sekilas Penafsiran Makna ilmu
Menurut Imam al-Qurtubi, ayat di atas merupakan pintu utama di mana Allah mengajarkan manusia agar mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan memberikan tantangan yang besar untuk melintasi seluruh penjuru langit dan bumi. Allah mengajarkan jin dan manusia untuk memahami kebesaran-Nya tentu hanya dengan seizin dan ridla-Nya.
Menurut Imam al-Suyuthi, perintah (amr) dalam ayat ini termasuk kategori amr ta’jizi, yaitu perintah yang melemahkan atau mustahil. Sehingga secara faktual, misi ini akan mustahil digapai oleh siapapun kecuali hanya dengan seizin Allah. Oleh karenanya, hanya Nabi Muhammadlah satu-satunya hamba yang mendapat kemuliaan dari Allah dengan peristiwa Isra dan Mi’raj. Sehingga ia mampu melintasi seluruh penjuru langit dan bumi hanya dalam waktu kurang dari satu malam.
Selain itu, menurut Abdullah Ibnu Abbas, perintah dalam ayat ini lebih merupakan tantangan bagi golongan manusia dan jin agar mampu menyingkap rahasia ilmu pengetahuan. Di mana pengetahuan tersebut tidak akan tergapai tanpa seizin Allah. Artinya seluruh pencapaian manusia dalam bidang ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi, sejatinya masih dalam lingkup kebesaran dan bantuan Allah SWT. Berangkat dari pendapat Ibnu Abbas inilah, para mufassir kontemporer kemudian mengartikan kata “sulthan” dengan ilmu pengetahuan dan kemampuan atau teknologi terkini.
Melalui Ilmu Menggapai Maslahat
Ilmu akan membimbing kita tidak hanya dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Lebih dari itu, menempuh kesuksesan di kehidupan selanjutnya. Ibarat cahaya, dengan ilmu kita dapat memahami segala sesuatu dengan benar luar-dalam (dhahir-bathin). Dalam surat Al-Qashash ayat 79-80 Allah berfirman:
فَخَرَجَ عَلى قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ قالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَياةَ الدُّنْيا يا لَيْتَ لَنا مِثْلَ ما أُوتِيَ قارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (79) وَقالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صالِحاً وَلا يُلَقَّاها إِلاَّ الصَّابِرُونَ (80)
Ayat ini bercerita bahwa: pada suatu hari Qarun menemui kaumnya dengan memakai perhiasannya. Melihat itu orang-orang yang menginginkan dunia berkata: “Seandainya kami mempunyai harta seperti yang dimiliki Qarun, sungguh Qarun memiliki banyak keberuntungan”. Adapun orang-orang yang dianugerahi ilmu berkata: “Kecelakaan bagi kalian yang menginginkan itu, karena pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal salih”.
Ayat ini menggambarkan pada kita bahwa orang yang berilmu dapat mengetahui keberuntungan yang sebenarnya, adalah pahala dari Allah. Bukan harta seperti yang ada di tangan Qarun. Orang berilmu tidak terkecoh seperti orang lain yang menginginkan dunia. Maka dengan ilmu seseorang akan bisa menyingkap hikmah dan hakikat dari fenomena yang terjadi dalam kehidupan ini. Dari sinilah tampak jelas bahwa ilmu dapat mengantarkan kita menggapai kemaslahatan hidup.
Disampaikan pada khutbah Jumat (3/10/23) di Masjid Agung Semarang.
Share this content:



Post Comment