Ngaji Ihya: Ketika Gus Ulil Bertemu al-Ghazali

Ulil Abshar Abdalla

Bagi mereka yang hidup dan cukup paham dengan kondisi dunia di awal 2000-an, mungkin mengenal sosok Ulil Abshar Abdalla (akrab dengan sebutan Gus Ulil) sebagai sosok muslim progresif yang begitu lantang menyuarakan ide-ide baru dan cukup radikal di tengah masyarakat konservatif. Namun, pada dua dekade terakhir, nama Gus Ulil tidak banyak muncul di media.

Beberapa kali pertanyaan dari teman datang ke saya utuk menanyakan siapa sosok Gus Ulil yang sebenarnya. Kalau tentang background, sedikit banyak saya mengetahui Gus Ulil. Tapi, ketika banyak beredar paham Liberal dalam diri Gus Ulil, saya berpikir; as-sukutu salamah (diam membawa keselamatan).

Tampil dengan Wajah Tasawuf Imam al-Ghazali

Setelah beberapa tahun tidak terlihat, entah bagaimana awal munculnya, tiba-tiba pada laman facebooknya, Gus Ulil tampil. Ia melakukan kajian live streaming yang berjudul, “Ngaji Ihya” karya Imam al-Ghazali.

Perpindahan metode pemikiran gus Ulil dari seorang “promotor Islam Liberal” menjadi sosok “Kiai Tasawuf” cukup membuat banyak orang kaget. Hal ini terutama bagi mereka yang belum terlalu mengenal sosoknya.

Sosok santri dari Ulil Abshar Abdalla baru terlihat oleh khalayak belakangan ini. Awal mula tampil dengan kajian karya al-Ghazali ini ketika dia rindu model pembelajaran yang ada di pesantren. Niat awalnya hanya ingin mengenalkan turats atau karya ulama klasik kepada masyarakat luas. Dari sana, ada yang menyebutnya sebagai jalan pertaubatan Ulil Abshar-Abdalla.

Perjalanan hidupnya mirip dengan riwayat al-Ghazali, yang awal dinamika intelektualnya juga merupakan sosok muslim progresif. Al-Ghazali menekuni berbagai macam bidang ilmu, salah satunya ilmu kalam. Hingga akhirnya bertumpu pada dimensi tasawwuf di akhir pengembaraannya. Sementara Gus Ulil menyelami Tasawuf sebagai jalan terakhir yang dipilih sebagai sangu dan landasan intelektual beliau.

Baca juga: Pesantren dan Tantangan Abad Kedua Nahdlatul Ulama

Ihya Hidupkan Dinamika Berpikir

Menurut Gus Ulil, pemilihan kitab Ihya karena lebih tepat untuk ditawarkan di era yang penuh perubahan ini. Sesuai dengan spirit keagamaan gus Ulil sejak awal, kitab Ihya cukup mampu menyebar dan menghindarkan seseorang dari pemahaman keagamaan yang dogmatis dan dangkal. Meminjam istilah sekarang, sumbu pendek.

Ulil Abshar Abdalla mengatakan di laman Youtubenya, “saat ini kita di Indonesia menyaksikan suatu kebangkitan agama, terutama Islam yang semangatnya bukan rohaniyah, tapi identitas. Islam seperti ini berbahaya. Bagi al-Ghazali, yang demikian itu merupakan tanda kematian agama”.

Setelah melihat fenomena tersebut, Gus Ulil ingin menyampaikan kalau kelompok-kelompok revivalis yang dahulu sudah redam ternyata mampu bangkit kembali. Nah, kebijaksanaan al-Ghazali memberi banyak inside kepada umat. Al-Ghazali memberikan pelajaran menarik. Pemikiran-pemikiran luar biasa yang tertuang di dalam Ihya bisa menjadi pemacu pembaruan atau penggerak bagi umat.

Selama ini, klaim sebagian orang mengatakan al-Ghazali sebagai pembunuh filsafat, menyebabkan kejumudan berpikir. Padahal beliau berfilsafat dengan caranya. Hal ini menurut saya cukup identik dengan mazhab filsafat Frankfurt yang mengkritik filsafat tradisional yang positivistik dan konon membunuh, lalu mengembangkan cara baru. Salah satu filsafatnya sederhana, wahyu dan akal tidak dapat ditabrakkan. Ghazalian ala Gus Ulil, penulis pikir menerima cara ini. Akal dan wahyu bekerja bareng, Ulum Aqliyyah- Ulum naqliyyah. Al-Ghazali mengawinkan dua hal tersebut.

Ngaji Ihya Simbol Melawan Kejumudan

Selanjutnya, dalam misinya membawa kitab lama ke dalam audiens baru, gus Ulil mengaku terinspirasi dari salah satu gurunya di Boston. Analisa pendekatan baru. Bukannya memberontak tradisi tapi meneruskannya dengan menganalisa Ihya dengan cara baru, bagaimana iadatul qiraah litturats.

Penggunaan media sosial dilakukan dalam melihat algoritma media sosial yang dianggapnya mengerdilkan kita. Kita direkayasa media sosial. Kemampuan mendengar, melihat, dan perhatian kita pendek saja. Ngaji Ihya ini salah satu simbol perlawanan. Ketahanan kita untuk berfikir, membaca dan melihat dalam waktu lama.

Saat ini kajian online gus Ulil pun mulai dilakukan dengan safari ke berbagai wilayah di Jawa dan dengan kajian kitab tambahan yang juga merupakan karya lain dari al-Ghazali.

Akhirnya, meski tidak sama dan masih terlampau jauh dengan al-Ghazali, Gus Ulil mampu menemukan kehidupan di samudera sufisme. Hari ini, ia menyebut komunitas virtualnya dengan “Ngaji Online” di banyak media sosial. Facebook, Twitter, ataupun YouTube.

Share this content:

Post Comment