Kala ‘al-Hajjaj bin Yusuf’ Menhan Dinasti Umayyah Takluk di Tangan Badui

Hajjaj bin Yusuf dan Badui

Al-Hajjaj bin Yusuf, terkenal sebagai pemimpin berdarah dingin namun ahli Qur’an. Ia menteri pertahanan pada masa khalifah Abdul Malik bin Marwan dari dinasti Umayyah. Satu hari, telinganya merasa takjub mendengar teriakan,
Allahumma lak, man qala makhlukun salak, wa fil jahim qod halak, wal jariyah fil falak, ma khoba abdun ammalak, anta lahu haitsu salak.
Demikian itu rengek orang badui yang artinya kurang lebih begini
Duh Allah, milik-Mu, orang yang berkata “makhluk yang berjalan”. Di panas terik binasa (penuh dahaga), istrinya nan jauh di ujung sana. Takkan celaka hamba yang mengharapkan-Mu. Engkau bersamanya selama ia bepergian.
Mendengar kalimat itu, Hajjaj berkata, “wah ini seruan orang yang kuat tauhidnya.”
Di sinilah awal kisah pertemuan antara badui dengan al-Hajjaj bersama pengawalnya ketika mereka hendak berangkat haji.
Hajjaj memulainya, “dari mana dan mau ke mana dikau, fulan?”
Nyeleneh, si badui menjawab, “min fajjil ‘amiq urid al-baital atiq” (jauh di sana, mau haji di Baitul Atiq)
Lah ya jauh itu mana?” timpal Hajjaj
Irak”, singkat Badui.
Hajjaj masih cukup sabar, “Iraknya di daerah mana?
di kota (kekuasaannya) Hajjaj” cetus Badui yang kebetulan belum tahu kalau yang di depan adalah sosoknya. Al-Hajjaj juga masyhur karena menjadi Gubernur Irak
Kalau begitu, coba apa pendapatmu tentang Hajjaj itu?” tanya Hajjaj
Lantang saja si badui menjawab, “Layaknya Fir’aun yang menumpas habis anak laki-laki dan membiarkan hidup perempuan-perempuan Bani Israil.
Mulai memerah wajah Hajjaj, “Di mana posisi Hajjaj sekarang?”, tanya Hajjaj ke Badui.
Berangkat haji dia, Allah sih gak bakal terima hajinya” ujar si Badui dengan mimik wajah santai.
“Dia punya saudara di sana?”, tanya Hajjaj lagi. Kemudian Badui menjawab, “punya, itu Muhammad bin Yusuf.”
Nah, kalau dia gimana menurutmu?” kepo al-Hajjaj. “Sama aja kaya Hajjaj, ya zalim ya bodoh, sembrono, brutal, gak karuan intinya.”

Naik pitam sudah al-Hajjaj.

Ia lalu menimpal, “Hai, kamu tau siapa aku!”
enjoy saja si Badui menjawab, “nggak”.
Ya aku ini al-Hajjaj” tegas Hajjaj
Belgedes. Demi Allah, murka semurka-murkanya, dunia akhirat, Gusti Allah ngelaknat dirimu tenan.”
Mendidih sudah kepala al-Hajjaj. “Demi Allah, akan ku-eksekusi mati dirimu dengan cara yang belum pernah kulakukan sebelumnya.”
Mantap dan tenang, si Badui menjawab, “Inna li rabban yunjini minka” (Sungguh Tuhan bersamaku-menyelamatku darimu.
Pinjam istilah Gus Iqdam, “dekengane pusat bro”
Takjub dan kian heran al-Hajjaj. Kok ya ada orang se-kendel ini. Namun kali ini bengisnya al-Hajjaj bisa diredam. Hingga ia akhirnya bertanya lagi.
“ya sudah, kalau begitu, aku tanya yang lain. Kamu punya hafalan al-Qur’an?

Sebagai pengetahuan, mayoritas ulama sepakat menilai A+ untuk al-Hajjaj terkait dengan hafalan dan ilmu al-Qur’annya.
punya”, jawab Badui. “Coba baca, aku simak,” pinta Hajjaj.
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. اِذَا جَآءَ نَصۡرُ اللّٰهِ وَالۡفَتۡحُ. وَرَاَيۡتَ النَّاسَ يَخْرُجُوۡنَ مِنْ دِيۡنِ اللّٰهِ اَفۡوَاجًا
Coba simak apa yang dibaca Badui. Ia berlagak menyindir al-Hajjaj dengan mengubah redaksi Alquran. Yang dimaksud sebenarnya Surat al-Nasr ayat 1-2. Tingkah lucu dan beraninya mengubah satu kata yang berlawanan. Artinya begini:
Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Ketika datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan melihat manusia berbondong-bondong keluar dari agamanya.
Mendengar bacaan yang keliru, al-Hajjaj lantas membenarkan, “hai primitif, gimana kalau yadkhuluna fi dinillahi awfaja.”
Si Badui menyahut, “Aslinya memang begitu. Tapi semenjak engkau memimpin, umat manusia malah berbondong-bondong keluar dari agama Allah
Sikap polos dan keberaniannya ini malah mengundang gelak tawa Pak Menhan, al-Hajjaj. Sampai-sampai kepalanya mendongak, mulutnya terbuka lebar dan ngakak terbahak-bahak. Al-Hajjaj mulai turun darahnya, dingin kepalanya. Hingga ia meminta pendapat si Badui tentang pribadi Nabi Muhammad, empat khulafaur rasyidin, Hasan-Husain cucu Nabi, dan Muawiyyah. Semua terjawab dengan positif. Hajjaj juga mengamini jawaban-jawaban si Badui ini.

Sampai akhirnya…

pada momen al-Hajjaj bertanya tentang pribadi Yazid bin Muawiyah, lalu Badui menimpal,
sama halnya yang dikatakan oleh orang yang lebih baik dariku, untuk orang yang lebih buruk darimu”, jawab Badui masih dengan sindirannya.
Hajjaj agaknya membantah. “Enggak! enggak! Yazid lebih buruk dariku dan lebih baik darimu.”
Badui mempertajam penjelasannya, “yang lebih baik dariku adalah Musa a.s. dan lebih buruk darimu adalah Fir’aun.”
Al-Hajjaj semakin penasaran dengan pengetahuan Badui. Singkat cerita, ia bertanya satu hal lagi, tentang pribadi Abdul Malik bin Marwan.
Seperti biasa, Badui menjawab dengan satir-sindir-getir
Salahnya satu tapi memenuhi antara langit dan bumi. Ia mengangkatmu untuk mengurus umat muslim dan engkau menghalalkan darah mereka, menjarah hartanya dan menzalimi dengan amat kejinya.”
Mendengar ucapan Badui, pengawal al-Hajjaj amat marah dan menghunus pedangnya ke leher si Badui. Di posisi genting ini, si Badui pasrah dan dari mulutnya membaca doa. Dahsyat! Seketika para pengawal tersungkur, jatuhlah pedangnya.
Terheran-heran dengan kejadian ini, sang Gubernur penasaran dan bertanya kepada Badui.
Aku melihat mulutmu komat-kamit, doa apa yang kau baca tadi? Boleh dong aku diijazahi” pinta Hajjaj dengan penasaran.
Oh ini… doa ini kalau njenengan baca, Insyaallah, Gusti Allah mengampuni dosamu”, jawab Badui.

berikut doanya


يَا رَبّ الْأرْبَابِ وَيَا مُعْتِقَ الرِّقابِ وَيَا مُنْشِئَ السَّحَابِ، يَا رَازِقَ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَاب، يَا مَالِكُ يَا وَهَّابُ، يَا رَادَّ مُوْسى لِأمِّهِ، وَيُوْسُفَ لِأَبِيْهِ، أَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَنِيْ خَيْرَهُ وَتَكْفِيْنِيْ شَرَّهُ، إِنَّكَ عَلى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
Ya Tuhanku, Dzat yang menguasai seluruh semesta, Yang membebaskan para budak (kaum papa), Yang menggerakkan awan, Yang memberi rezeki kepada yang dikehendaki tanpa perhitungan, Yang menguasai (segalanya), Yang Maha memberi, Yang mengembalikan Musa pada ibunya dan Yusuf kepada ayahnya, Aku memohon kepada-Mu untuk memberikan rezeki (pertolongan) kepadaku atas kebaikan dia dan cukupkanlah (lindungi) diriku dari keburukannya. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Amin…
Setalah mendapat ijazah tersebut, keduanya berpisah dengan lapang dada dan berdamai.
Hikmahnya, atas segala hal yang terjadi, mantapkan diri bahwa kita punya Allah yang Maha segalanya. Percaya dan berbaik sangkalah atas apa pun itu, tak terkecuali dalam posisi yang sulit. Bersabarlah dengan kondisi yang kita belum tahu persis skenarionya. 

Diterjemahkan dari kitab an-Nailul Hatsits fi Hikayatil Hadis karya Abu Hafs Umar bin al-Hasan an-Naisaburi as-Samarqandi.

(Ed. mbz)

Share this content:

Post Comment