walisongodotco– Dinda Niswatul Umah juara 1 Jateng I Kompetisi Bisnis Digital Santripreneur oleh Shopee Barokah. Kompetisi dilaksanakan secara online selama satu bulan (6 Februari-6 Maret). Dinda berhak mendapatkan paket umrah dan modal usaha sebesat 15 juta rupiah. Pemberian hadiah langsung diberikan oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo pada Kamis (30/3/2023) di Balekambang, Jepara.
Dinda, sebutan akrabnya, adalah lulusan UIN Walisongo Semarang pada 2022 dari jurusan Hukum Keluarga Islam (HKI) Fakultas Syari’ah dan Hukum. Selain sebagai mahasiswa, Dinda juga nyantri di Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Ngaliyan Semarang. Pasangan Prof. Dr. K.H. Imam Taufiq, M.Ag dan Nyai Dr. Hj. Arikhah, M.Ag sebagai pengasuh pesantren dekat Kampus 2 dan 3 UIN Walisongo ini.
Menjadi mahasiswa sekaligus santri, tentu aktivitasnya lebih padat daripada hanya satu di antara keduanya. Menarik bagi kita, mengetahui bagaimana Dinda memulai bisnis digital hingga meraih juara 1 Shopee Barokah “Dari Pesantren Untuk Pesantren”. Berikut kisahnya yang menginspiriasi pembaca.
Merintis Bisnis Meneladani Nabi Muhammad
Tak disangka, inspirasi nomor wahid Dinda dalam dunia bisnis adalah Nabi Muhammad. Ketika cerita dengan penulis, ia mengatakan Rasulullah pernah berdagang dan Dinda sudah menggeluti entrepreneur sejak awal kuliah.
Sebenarnya sejak awal kuliah saya suka berbisnis, karena salah satu usaha Rasulullah adalah berdagang. Saya menjual apapun yang bisa saya jual meskipun awalnya hanya coba-coba. Mulai dari jual Baso Aci, Tahu Kriuk, Pisang Cokelat hingga mukena. Tapi semuanya tidak berjalan dengan lancar karena saya harus lebih fokus dgn kegiatan pondok dan kuliah. Setelah lulus kuliah saya ingin berbisnis lagi dengan lebih serius.
Karena saya hidup di lingkungan santri dan mahasiswa yang mayoritas cenderung suka ngemil/jajan entah untuk teman belajar, mengerjakan skripsi atau lembur mengerjakan tugas di larut malam. Sehingga saya berinisiatif bisnis makanan yang bisa di konsumsi beberapa hari (awet) dan juga bisa dijadikan sebagai lauk/teman makan. Lalu muncullah ide bisnis snack makanan ringan yang dominan dengan rasa pedas dan gurih.
Saya percaya dan yakin bahwa the name of the prayer (nama adalah doa). Itu sebabnya saya melabeli usaha ini dengan nama Barokah Snack. Bukan hanya keuntungan yang saya harapkan dari usaha ini. Tentu sangat berharap dapat memberikan manfaat bagi konsumen. Misalnya, saat mengantuk ketika lembur mengerjakan tugas, dengan mengonsumsi jajan dari Barokah Snack bisa kembali semangat karena rasanya yg pedas/gurih.
Ikhtiar Dinda dari Pintu Manual Sampai Pintu Digital
Pada awalnya, konsumen hanya dari teman satu asrama saja di Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang. Kemudian saya menghubungi teman dari asrama lain yang berminat untuk menjadi reseller. Selain itu, melalui teman saya, saya mencari tahu nomor WA santri-santri dari pondok lain di sekitar kampus yang siap bergabung menjadi reseller. Misalnya seperti Pondok Pesantren Darun Najah Life Skill, Darun Najah Tugu, Al-Ihya dan Ulul Albab.
Selain itu saya juga pernah door to door dari toko kelontong satu ke toko kelontong lainnya untuk menitipkan barang dagangan saya. Saat itu hampir semua toko kelontong menolak tawaran saya. Hanya satu toko kelontong yg berminat.
Alhamdulillah, jumlah reseller saya mencapai 10 orang. Tapi untuk saat ini tersisa 4 orang yang masih aktif.
Sempat berputus asa, karena saya fresh graduate yang belum mendapatkan pekerjaan. Seperti muda-mudi pada umumnya yang mengalami krisis quarter life, overthinking hingga jatuh sakit dan opname di rumah sakit tiap 3 bulan sekali.
Melihat perkembangan bisnis digital yang begitu pesat, menggerakkan hati saya untuk memulai membuka toko di marketplace (Shopee dan Tokopedia). Alhamdulillah tiap bulan hanya ada 1 sampai 2 orderan. Ketika jualan online juga banyak kendala karena kurangnya modal untuk iklan hingga rugi dan tidak kembali modal.
Putus asa, lelah sudah pasti saya rasakan. Satu hal yg saya ingat bahwa bisnis itu pasti rugi, resikonya adalah kaya. Itulah yg membuat saya semangat kembali. Lalu saya belajar berbisnis digital dengan teman saya yg saya anggap cukup mumpuni. Selain itu saya juga belajar melalui YouTube dan rajin promosi dagangan di media sosial.
Belajar Digital Marketing dari Shoope
Selama perlombaan diaadakan pelatihan bagaimana optimasi toko yang baik meliputi upload foto produk agar menarik pengunjung/calon buyer, cara mengiklankan toko agar banyak dikunjungi, mengikuti berbagai event di shopee seperti gratis ongkir, cashback, murah lebay, serba seribu dll.
Selain itu juga mulai memberanikan diri untuk live di shopee meskipun penonton tidak mencapai 5 orang. Sama sekali tidak berharap dan menyangka akan menang mengingat banyaknya peserta dan kualitas toko pesaing di Shopee.
Masyaallah, di luar dugaan, beberapa minggu setelah proses lomba selesai, kemudian saya dihubungi dan diberitahu bahwa saya lolos dan masuk final. Alhamdulillah berkali-kali saya ucapkan. Setelah mendapatkan informasi tersebut saya mulai mempersiapkan diri semaksimal mungkin untuk tahap interview.
Selama wawancara Alhamdulillah semua berjalan lancar. Setelah itu para finalis di undang ke Pondok Pesantren Balekambang Jepara untuk menghadiri acara pengumuman pemenang lomba Kompetisi Bisnis Digital “Dari pesantren untuk pesantren”. Dan ternyata Dinda Juara 1 Shopee Barokah.
Alhamdulillah orang tua saya selalu mendukung serta mendoakan apa yang saya lakukan, termasuk juga dalam hal jualan. Beliau selalu menasehati saya agar selalu usaha dan berdoa tiap melakukan segala sesuatu. Harus yakin bahwa rezeki Allah datang dari mana saja. Sekian.
Share this content:



Post Comment