Lima Keutamaan Merantau Menurut Imam Syafi’i

Oleh: M. Badruz Zaman

Walisongo.co – Abu Abdillah Muhammad bin Idris (150-204 H) atau lebih dikenal dengan sebutan Imam Syafi’i merupakan salah satu imam mazhab dalam mazāhib al-arba’ah (empat mazhab) dalam bidang fikih yang dipegang kalangan Sunni.

Meskipun beliau juga mahir dalam bidang lainnya, seperti tafsir, hadis, ushul fikih, termasuk cakap dalam menggubah syair. Salah satu yang bisa kita baca dari kumpulan syair Imam Syafi’i ada dalam kitab Dīwān al-Imām asy-Syāfi’ī.

Satu sub judul yang termuat dalam kitab Dīwān al-Imīam asy-Syāfi’ī tersebut menjelaskan tentang keutamaan atau faidah yang akan didapatkan seseorang ketika merantau ke luar kampung halamannya.

Memang, Imam Syafi’i juga telah banyak melakukan rihlah ke berbagai tempat, baik untuk mencari guru dan belajar maupun berdakwah membumikan ajaran Islam.

Kalau kita melihat kilas perjalanan Imam Syafi’i, beliau telah memijaki beberapa daerah. Mulai dari kelahirannya di Gaza Palestina, kemudian kembali ke tanah nenek moyangnya di Makkah sembari belajar al-Qur’an, Fikih dan syair-syair Arab.

Setelah itu, Imam Syafi’i pergi ke Madinah untuk berguru kepada Malik bin Anas (Imam Malik) dan beberapa syaikh lainnya. Imam Syafi’i melanjutkan rihlah ilmiahnya ke negeri Yaman lalu ke Baghdad Irak. Nama Syafi’i semakin masyhur ketika di Baghdad.

Muridnya semakin banyak, fatwanya telah banyak digunakan yang pada gilirannya disebut Qaul Qadim (fatwa lama). Akhir hayatnya, Imam Syafi’i berada di Mesir yang kemudian melahirkan Qaul Jadid (fatwa baru).

Perjalanan hidup Imam Syaf’i, boleh jadi mendorong dirinya  untuk menulis bait syair tentang merantau. Di mana menurutnya, ada lima hikmah yang bisa dipetik dalam rihlah kehidupan seseorang ketika mencari kemuliaan di hadapan Allah. Berikut syairnya:

تَغَرَّبْ عَن الأَوْطَانِ في طَلَبِ الْعُلى # وَسَافِرْ فَفِي الأَسْفَارِ خَمْسُ فَوَائِدِ

 تَفَرُّجُ هَمٍّ، وَاكْتِسابُ مَعِيشَةٍ  #وَعِلْمٌ، وَآدَابٌ، وَصُحْبَةُ مَاجِد  (من الطويل)

(Dīwān al-Imīam asy-Syāfi’ī, Dar al-Kutub al-Imiyah, h. 52)

Pergilah dari kampung halamanmu untuk mencari kemuliaan # Karena dari merantau ada lima faidah (yang bisa kamu dapatkan).”

“Terbebas dari kesulitan, mendapat kehidupan yang layak # memperoleh ilmu pengetahuan, adab (tata krama), dan sahabat sejati.”

Imam Syafi’i dalam dua bait tersebut sedang memberikan motivasi kepada kita untuk tidak berdiam diri dalam zona nyaman kehidupan. Ia mendorong agar umat manusia mau berusaha keluar, berproses menempuh kehidupan yang sedang dijalani.

Salah satunya dengan pergi dari kampung halaman, melanglang buana ke berbagai wilayah seperti yang dicontohkan oleh Imam Syafi’i sendiri. Sebab dengan merantau ada lima manfaat yang dapat diambil

Pertama, terbebas dari kesulitan. Ketika seseorang memutuskan untuk merantau dari rumahnya, ia akan dihadapkan dengan berbagai warna kehidupan seperti tantangan hidup.

Namun, dengan merantau ia akan menjadi seseorang yang berani dan banyak belajar dari lika-liku kehidupan, sehingga menjadi pribadi yang mandiri dan kuat. Dengan begitu, ia akan mudah menghadapi problematika ketimbang hanya berdiam diri di rumah tanpa mencicipi hal baru.

Kedua, mendapatkan kehidupan yang layak. Merantau memang menjadi salah satu pintu terbukanya rezeki. Setidaknya dengan keluar dari pintu rumah untuk menjemput takdir yang telah ditentukan Allah, merantau akan memberikan peluang bagi kita mencari jalan keluar permasalahan menuju penghidupan yang lebih nyaman.

Apalagi kita akan dipertemukan dengan orang-orang yang memberikan pelajaran berharga. Sehingga kita akan mendapatkan faidah yang ketiga.

Ilmu. Imam Syafi’i bepergian dari satu negeri ke negeri lainnya untuk berguru. Misalnya dengan Imam Malik, Imam Syafi’i banyak belajar hadis, fikih dan lainnya sampai keduanya menjadi rujukan mazhab dalam fikih. Imam Syafi’i bahkan hafal kitab al-Muawaththa’.

Begitu pula ketika kita melakukan rihlah ke suatu daerah. Boleh jadi, selain pengetahuan akademik, kita juga memperoleh ilmu menjalani kehidupan, ilmu tentang bertahan dengan berbagai rintangan, ilmu tentang menghadapi persoalan dan sebagainya. Sadar atau tidak, kita sebenarnya telah mendapatkan hal itu.

Keempat, adab atau tata krama. Dengan hidup bersama orang lain, kita belajar bagaimana menjalin hubungan yang baik nan harmonis dengan sesama makhluk, kita mendapatkan pelajaran tentang menghormati dengan yang lebih berumur dan mengasihi terhadap yang lebih muda.

Kita akan dipertemukan dengan orang-orang yang memberikan teladan kebajikan. Inilah yang kemudian faidah yang akan kita dapatkan selanjutnya.

Kelima, dipertemukan dengan orang-orang yang mulia, yang menjadi sahabat atau bisa jadi penuntun hidup kita. Merantau akan memperluas relasi sosial kita. Dengan berkelana, kita akan dipertemukan dengan berbagai jenis karakter manusia.

Di sinilah kemudian kita mampu mengambil keputusan untuk dekat dengan orang-orang yang mampu menjadi penunjuk jalan kebaikan. Sebaliknya, ketika dihadapkan dengan lingkungan yang toxic, kita pun bisa mengambil ibrah agar tidak terjerumus ke dalam keburukan.

Terakhir, Imam Syafi’i kembali memotivasi kita

وَانْصَبْ فَإِنَّ لَذِيْذَ الْعيْشِ فِي النَّصَبِ

Berlelah-lelahlah (sungguh-sungguh dalam usaha) karena kenikmatan hidup akan dirasakan dengan kelelahan (dalam berusaha).

Share this content:

Post Comment