Memaknai Surah Al -‘Asr di Masa Pandemi

Oleh: Muhammad Faiq Azmi Rubrik Tafsir

Walisongo.co – Hari ini, pandemi belum usai merenggut korban jiwa. Problem kesehatan ini sudah merambah ke berbagai lini kehidupan. Mulai dari kesehatan itu sendiri, sosial-ekonomi, pendidikan dan lainnya. Di tengah kondisi yang sulit ini, saling membantu dan saling menguatkan menjadi cara paling sederhana yang bisa dilakukan siapa saja.

Narasi keagamaan menjadi salah satu kekuatan penggerak yang luar biasa untuk membentuk opini masyarakat. Bahkan pembunuhan dan terorisme, menjadi pijakan pelaku yang gagal paham membaca narasi keagamaan.

Jika teks keagamaan bisa dimanfaatkan untuk menggerakkan hal keji, maka tentu saja kita juga bisa memaknai teks suci untuk mengingatkan kebaikan dan menjaga kewarasan di tengah pandemi. Salah satunya dengan memaknai ulang surat al-‘Asr[103]:1-3.

وَالْعَصْرِۙ ١ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ ٢ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ࣖ  ٣

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Ayat pertama berupa sumpah dari Allah atas nama waktu. Para ulama menafsirkan ayat pertama ini dengan berbagai makna. Quraish shihab, misalnya. Beliau memaknai ayat  pertama dan kedua, bahwa demi waktu dimana manusia mencapai hasil setelah ia memeras tenaga, namun apapun hasilnya. Ia merugi. Kecuali jika ia orang yang beriman.

Kerugian yang dialami manusia, dalam Tafsir Jalalain dijelaskan bahwa kerugian terbesar manusia adalah kesempatan hidup yang tidak dimaksimalkan sesuai ajaran agama. Seperti enggan beribadah dan tidak mau membantu sesamanya. Hari-hari yang hanya dihabiskan untuk memenuhi ego hawa nafsunya tanpa menyadari bahwa kehidupan di dunia hanyalah sementara.

Apalagi di tengah masa sulit, jangan sampai kita termasuk orang yang merugi dengan hanya mementingkan diri sendiri dan mengabaikan orang-orang yang membutuhkan.

Pada ujung Surah, terkandung empat poin yang dapat kita jadikan pegangan dalam menjalani kehidupan, termasuk di tengah pandemi.

Pertama, tentang keimanan. Sebagai seorang muslim, kita harus senantiasa mengimani bahwa apa yang terjadi adalah atas kehendak Allah SWT. Pandemi dan segala permasalahan yang terjadi, semuanya tidak mungkin terjadi tanpa izin Allah. Terlepas dari adanya berbagai teori tentang asal usulnya virus ini, yang jelas, Ahlus Sunnah Wal Jamaah (Aswaja) memiliki konsep iradah (kehendak)Allah.

Sifat iradah Allah, pada gilirannya melahirkan kepasrahan seorang hamba. Maksudnya, rasa tawakkal dan percaya kepada Allah. Pandemi adalah bagian dari ujian yang diberikan oleh Allah untuk umat manusia.

Melalui kesadaran ini, memberikan sinyal untuk berikhtiar sebaik mungkin melewati ini semua dengan penuh rasa tawakkal kepada Allah. Ini pula yang menjadi konsep kasab (daya dan potensi manusia) yang ada dalam tradisi Aswaja.

Kedua, tentang beramal salih. Fakhruddin ar-Razi dalam kitab Mafatih al-Ghaib menyebutkan bahwa amal salih yang disertai dengan keimanan dapat mengeluarkan kita dari kesedihan, bahkan amal salih tersebut dapat mendatangkan kebahagiaan.

Di masa yang sulit seperti pandemi ini, kesalihan ritual dalam bentuk ibadah akan terasa lebih bermakna. Di sisi lain, kesalihan sosial dalam bentuk relasi yang baik dengan sesama makhluk tidak kalah pentingnya. Sekadar menyapa dan memberikan sedikit bantuan kepada tetangga yang terdampak Covid-19, bisa saja berdampak luar biasa dan menjadi amal yang bernilai tinggi.

Ketiga, berwasiat tentang kebenaran serta kesabaran. Dijelaskan dalam kitab Shofwah al-Tafasir, bahwa adanya pengulangan perintah berwasiat, yakni wasiat kebenaran dan kesabaran, menunjukkan penekanan tentang pentingnya kedua hal tersebut. Melalui ayat ini, Islam menekankan tentang pentingnya menjaga relasi antarmanusia untuk saling  menjaga dan tidak mengabaikan sekitarnya.

Masih dalam Shofwah al-Tafasir, wasiat tentang kebaikan berarti mengingatkan kepada sesama untuk senantiasa menjaga keimanan, melakukan kebaikan dan selalu beribadah. Sedangkan wasiat untuk sabar, dimaknai sebagai sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah dan sabar dalam menjauhi segala maksiat. Kesabaran di sini juga berarti sabar menghadapi masa sulit dan sabar dalam menghadapi berbagai bentuk musibah yang sedang dialami.

Berdasarkan makna ini, kita dapat memahami bahwa dalam keadaan sesulit apapun, al-Qur’an mengajarkan pada kita untuk senantiasa menjadi sosok yang sabar dan membantu orang lain untuk menjadi sabar.

Sabar dalam menjaga keimanan, sabar dalam menghadapi cobaan yang sulit dan sabar dalam menghadapi musibah. Bentuk nyata yang bisa kita lakukan saat ini adalah dengan mengingatkan atau dengan memberikan bantuan agar orang orang lain yang dalam kesusahan bisa lebih sabar dan nyaman melewati masa sulit ini.

Mensinergikan pesan surat al-‘Asr, yang berisi  nilai keimanan, kesalihan ritual dan kesalihan sosial serta melalui wasiat kebenaran dan kesabaran, menjadi hal yang sangat penting untuk senantiasa dilaksanakan guna melewati berbagai bentuk kesulitan, termasuk di tengah wabah Covid-19. Semoga kita semua bisa melalui masa sulit ini, tanpa menjadi bagian dari kelompok orang-orang yang merugi. Wallahu a’lam…

Share this content:

Post Comment