Halalbihalal Keluarga Besar Alumni Besongo: Ruang Virtual Sakral, Silaturahmi Kekal

Halalbihalal Pengasuh dan Alumni Pesantren Besongo

Di tengah kesibukan dan jarak yang kian membentang, kerinduan untuk kembali terhubung dengan sesama sering kali menjadi kebutuhan yang tak terucap. Hal itulah yang terasa dalam acara Halalbihalal Ikatan Keluarga Alumni Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang yang diselenggarakan secara virtual pada Selasa, 7 April 2026, pukul 19.30 WIB. Mengusung tema “Merajut Kembali Persaudaraan Alumni lewat Silaturahmi”, kegiatan ini menjadi ruang temu yang hangat, meski terpisah oleh layar.

Acara ini dihadiri langsung oleh pengasuh pondok pesantren, Abah Prof. Dr. KH. Imam Taufiq, M.Ag., dan Umi Prof. Dr. Hj. Arikhah, M.Ag., serta para alumni dari berbagai angkatan dan daerah. Meskipun berlangsung secara daring (dalam jaringan), suasana kekeluargaan tetap terasa kental. Bahkan, bagi sebagian peserta, momen ini menjadi kesempatan langka untuk kembali menyapa yang sudah lama tak bersua.

Rangkaian acara cukup sederhana namun penuh makna. Kegiatan diawali dengan pembukaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Besongo, yang membangkitkan rasa kebangsaan sekaligus kebanggaan sebagai bagian dari keluarga besar pesantren. Setelah itu, suasana menjadi lebih khidmat dengan pembacaan tahlil dan doa bersama, sebagai bentuk doa sekaligus syukur kepada para masyayikh dan muassis Besongo.

Sambutan dari ketua alumni, Auly Naimul Umam, SH., menjadi jembatan awal untuk menyatukan kembali semangat kebersamaan. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya menjaga hubungan di antara alumni, tidak hanya sebagai jaringan sosial, tetapi juga sebagai ikatan nilai luhur dari pesantren. Ia juga mengajak seluruh alumni untuk terus berkontribusi, baik dalam lingkup kecil maupun luas, sesuai dengan kapasitas masing-masing.

“Meski melalui virtual, namun silaturahmi ini menjadi penting untuk kita, agar selalu terjaga dan merawat hubungan dengan murabbi ruhina. Memang, yang lebih utama, sebagai bentuk adab kita, adalah sowan secara langsung kepada beliau, yang mungkin akan memiliki rasa berbeda,” sambutnya.

Halalbihalal: Dari Pertemuan Virtual ke Bertukar Gagasan

Puncak acara adalah mau‘izhah hasanah dari Abah Imam Taufiq. Abah mengajak seluruh alumni untuk memahami kembali makna silaturahmi secara lebih mendalam. Menurut beliau, silaturahmi bukan sekadar bertemu atau saling menyapa (silaturahim fil ajsad), tetapi memiliki dimensi yang lebih luas dan filosofis.

“Silaturahim itu bentuk dan cara orang wise dan alim, mengerti dan paham situasi. Hendaknya, kita bersilaturahim dengan cara fil ajsad, fil afkar dan fil a’mal,” terang Pengasuh Besongo tersebut.

Silaturahmi fil afkar berarti menjalin hubungan melalui pertukaran pikiran, ide, dan gagasan. Dalam konteks ini, alumni tidak hanya berkumpul secara fisik atau virtual, tetapi juga saling berbagi wawasan, pengalaman untuk membentuk relasi. Inilah yang menjadi bagian penting dari silaturahmi.

Sementara itu, silaturahmi fil a’mal lebih menekankan pada tindakan nyata. Artinya, hubungan yang terjalin tidak berhenti pada komunikasi, tetapi berlanjut dalam bentuk kerja sama dan kontribusi nyata. Alumni dapat saling mendukung dalam berbagai bidang, baik pendidikan, sosial, maupun ekonomi. Dengan demikian, silaturahmi tidak hanya menjadi simbol, tetapi juga menghasilkan dampak yang nyata.

Lebih lanjut, Abah juga memberikan penekanan pada makna “pengusaha” yang acap kali menjadi sempit maknanya. Menurut beliau, pengusaha bukan hanya mereka yang bergerak dalam bidang perdagangan atau bisnis. Pengusaha sejati adalah setiap orang yang terus berusaha, terutama dalam mencari dan mengembangkan ilmu.

“Apa yang sedang diusahakan, diseriusi, disyukuri…. Santri, di mana saja, khidmahnya ya [kepada] ilmu.”

Abah Imam Taufiq, memang sangat sering, bahkan dalam catatan penulis, hampir setiap dhawuh beliau, menekankan betapa pentingnya menjadi pembelajar. Sebab, tak hanya di kelas, belajar bisa dari mana dan kapan saja. Momentum halalbihalal ini pula yang mengingatkan penulis tentang pesan Abah dan Umi Arikhah, bahwa warga juga guru santri, sesama santri pun saling tawashaubil-haq tawashaubis-shabr.

Menyemai Kehangatan Membentuk Senyuman

Suasana menjadi lebih cair dan penuh kehangatan. Ketika halalbihalal berlanjut pada sesi ramah tamah. Para alumni saling menyapa, berbagi cerita, dan mengenang masa-masa di pesantren. Tawa dan canda mengalir, seolah menghapus jarak dan waktu yang selama ini memisahkan. Beliau juga berpesan,

“Semua sudah diatur, wes ana sing nata, kita tinggal berjalan. Jalani dengan riang gembira. – Senjata sukses itu sabar, ulet, dan tekun. Jangan sebentar-sebentar pindah. Sabar dan tekun, supaya bisa menjadi master atau ahli,” pungkas Umi Arikhah.

Ramah tamah ini menjadi bukti bahwa ikatan emosional yang terbangun di pesantren tidak mudah pudar. Justru, dengan adanya momen seperti ini, ikatan tersebut kembali sakral dan berharap kekal. Banyak alumni yang mengungkapkan rasa syukur dan kebahagiaan bisa kembali terhubung, meskipun hanya virtual.

Acara kemudian ditutup dengan doa, sebagai penanda berakhirnya rangkaian kegiatan. Namun, semangat yang terbentuk dalam acara ini seyogianya tidak berhenti di sini. Silaturahmi yang terajut kembali, dapat terus terjaga dalam kehidupan sehari-hari.

Akhirnya, halalbihalal ini menjadi pengingat bahwa hubungan antarmanusia, antara guru dan murid, apalagi yang dijiwai dengan nilai-nilai pesantren, memiliki kekuatan yang besar. Silaturahmi menjadi ruang untuk kembali menemukan makna kebersamaan. Tidak hanya sebagai ajang temu, tetapi juga sebagai sarana untuk saling menguatkan dan bertumbuh bersama.

Akhirnya, acara ini bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan, tetapi menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali jati diri sebagai alumni pesantren. Bahwa di mana pun berada, mereka tetap terikat oleh nilai, ilmu, dan pengalaman yang sama. Dan melalui halalbihalal ini, baik dalam pikiran maupun tindakan, ikatan itu akan terus hidup dan memberi makna.

[Umar/Nabila]

Share this content:

Post Comment