Sore itu saya kembali melangkahkan kaki ke ndalem beliau, bukan lagi sebagai santri, melainkan sebagai alumni. Sekadar sampai di sana saja sudah cukup membangkitkan memori tentang keteladanan dan mutiara hikmah yang dahulu saya terima. Suasananya menghadirkan ketenangan, seolah mengajak hati untuk kembali rapi. Bagi saya, momen sowan tidak selalu membutuhkan banyak percakapan, karena kehadiran dan sikap beliau sendiri sudah menjadi pengingat yang kuat.
Sebagai alumni, saya merasakan bahwa relasi guru dan murid tidak berhenti ketika masa belajar selesai. Dawuh-dawuh bahkan lebih terasa menyejukkan dan menguatkan. Hubungan ini menjadi cahaya di tengah kebimbangan, membantu mengurai benang kusut dalam pikiran dan hati. Sepulang dari sowan, yang tadinya terasa sempit menjadi lapang kembali, dan apa yang kusut perlahan menemukan keteraturannya.
Selain mempunyai tugas utama tarbiyah dan pelayanan umat, setiap kyai mempunyai semacam spesialisasi masing-masing. Ada kyai hikmah, kyai mubaligh, kyai zuhud, dan lainnya. Ragam peran ini menunjukkan kekayaan tradisi pesantren dalam menjawab kebutuhan umat. Masing-masing hadir dengan karakter dan kekhasan yang saling melengkapi, baik dalam dakwah, keteladanan, maupun penguatan spiritual.
Membaca Keteladanan Kiai Imam Taufiq
Kyai Imam Taufiq memiliki kekhasan tersendiri. Di samping ma’lum dengan kapasitas intelektualnya, beliau juga menonjol dalam riyadhoh. Tidak terhitung ijazah amalan yang beliau miliki dan diijazahkan kepada santrinya, mulai dari berbagai zikir hingga wirid yang dikenal luas dalam tradisi pesantren. Amalan-amalan tersebut memiliki sanad yang jelas, termasuk shalawat Dalailul Khoirot. KH Hadlor Ikhsan pernah menyebut pengasuh Pesantren Besongo tersebut sebagai kyai mastur, yakni kyai yang tidak menampakkan keilmuannya secara berlebihan.
Sebagaimana ndalem kyai pada umumnya, rumah beliau menjadi ruang silaturahmi bagi banyak kalangan. Walisantri, alumni, akademisi, hingga masyarakat umum datang dengan berbagai keperluan. Ada yang sekadar bersilaturahmi, ada pula yang meminta doa atau berkonsultasi persoalan hidup. Hadis tentang ikramul dhuyuf tidak berhenti sebagai slogan, melainkan terwujud dalam sikap penerimaan yang hangat dan penuh perhatian.
Sikap memuliakan tamu tersebut membuat banyak orang merasa nyaman. Barangkali di hatinya, kehadiran tamu adalah sebagai amanah yang harus dijaga. Ndalem tidak hanya menjadi ruang pribadi, tetapi juga ruang sosial yang hidup dengan nilai keislaman. Para santri menyaksikan secara langsung bagaimana ikramud-dhuyuf (memuliakan tamu) mewujud sebagai bagian dari laku spiritual sehari-hari.
“Siapa pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia menghormati dan menjamu tamu.”(al-Hadits)
Sebagai santri, saya menjadi saksi atas suasana tersebut. Dalam kegiatan akademik, beliau menggunakan metode evaluasi agar para mahasiswa memiliki daya juang memahami secara baik. Proses ujian tidak hanya menjadi sarana penilaian, tetapi juga pembentukan karakter. Setiap pertemuan ilmiah selalu terbingkai dengan suasana kekeluargaan, sehingga relasi antara pendidik dan peserta didik terasa lebih dekat dan mendidik.
Dakwah bil Hal
Pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang akademik. Dalam kehidupan keseharian pesantren, Umi Arikhah, istri dari Kiai Imam Taufiq, berperan besar dalam membentuk keterampilan hidup santri. Kegiatan tersebut tidak semata-mata bersifat teknis, melainkan menjadi sarana penanaman nilai-nilai tasawuf.
Nilai tasawuf tersebut tidak diajarkan melalui ceramah semata. Dalam berbagai aktivitas keseharian, santri belajar dari keteladanan yang nyata. Makna taqwa, tawakal, dan syukur sering kali bisa hadir dari kebersamaan dan contoh hidup, bukan dari penjelasan teoritis. Pendidikan semacam ini menjadikan tasawuf terasa dekat dan membumi.
Pada akhirnya, pengalaman sowan itu kembali menegaskan makna relasi guru dan murid bagi saya. Relasi tersebut tidak hanya membekas sebagai kenangan, tetapi menjadi bekal batin dalam menjalani kehidupan. Bimbingan yang diberikan mampu menerangi jalan dan menata kembali arah langkah. Dari sowan itu, saya pulang dengan hati yang lebih tenang dan kesiapan untuk menenun kehidupan esok dengan lebih jernih.
Oleh: Muhammad Luthfi
Share this content:



Post Comment