Hati Orang Mukmin Menurut Sayyidina Ali

Hati

Tentang hati yang terbaik, Sayyidina Ali pernah mengatakan:

“Allah memiliki satu tempat di muka bumi ini yaitu hati manusia, yang terbaik adalah yang paling murni (keyakinannya), paling teguh/kuat (beragamanya), dan lembut-penuh kasih kepada sesama.”

Al-Imam al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad kemudian menyajikan atsar (perkataan) Sayyidina Ali tersebut dalam kitab Nashaihud Diniyyah wal Washaya al-Imanaiyyah. Selanjutnya beliau memberikan penafsiran atas perkataan Sayyidina Ali tersebut.

1. Keyakinan Hati atas Keimanan

Paling bersih atau murni hati manusia yaitu keyakinan seorang yang mantap. Adapun keyakinan artinya keimanan yang terpatri di dalam hati. Hal ini merupakan bentuk ketenangan yang Nabi Ibrahim inginkan setelah memiliki iman yang mantap.

Al-Qur’an menggambarkannya dalam Surah al-Baqarah[2]: 260, ketika Nabi Ibrahim as. meminta kepada Allah penjelasan cara-Nya menghidupkan orang yang sudah mati. Kemudian terjadi dialog,

قَالَ اَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۗقَالَ بَلٰى وَلٰكِنْ لِّيَطْمَىِٕنَّ قَلْبِيْ

Dia (Allah) berfirman, “Belum percayakah engkau?” Dia (Ibrahim) menjawab, “Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang. (QS. al-Baqarah[2]: 260)

Ayat di atas menjelaskan bahwa Ibrahim as. sudah beriman atas keMahabesaran Allah SWT. Akan tetapi agar lebih mantap dan tenang hatinya, ia menginginkan bukti yang nyata.

Pada kelanjutan ayat tersebut Allah memerintahkan untuk memotong empat ekor burung lalu ditempatkan di atas bukit. Selanjutnya Ibrahim as. memanggil burung tersebut maka akan datang dengan segera (hidup kembali). Pembuktian kebesaran Allah ini bahkan tidak bisa dijelaskan secara sains.

Imam Abdullah melanjutkan, bahwa puncak dan yang paling akhir dari keimanan adalah keyakinan. Tiada anugerah yang paling mulia, yang turun dari langit kecuali keyakinan. Cukuplah keyakinan sebagai kekayaan seseorang.

2. Hati yang Teguh dalam Beragama

Hati yang teguh atau kokoh dalam beragama menjadi karakter hati mukmin yang selanjutnya. Maksudnya adalah menjalankan perintah agama secara mantap, menetap atas agamanya, mengatakan yang hak (benar) meskipun pahit. Ketika jihad (berjuang) di jalan Allah, tidak takut menghadapi celaan orang lain.

Mereka yang berjihad dan kuat terhadap celaan, Allah sifati dalam firman-Nya, Surah al-Maidah[5]: 54

يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا يَخَافُوْنَ لَوْمَةَ لَاۤىِٕمٍ ۗذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْم

“Mereka berjihad di jalan Allah dan tidak takut pada celaan orang yang mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Ayat ini menggambarkan karakter orang-orang mukmin yang menggantikan kelompok muslim yang murtad. Yakni mereka yang memiliki keteguhan hati, keimanan lebih tebal dan amal yang lebih hebat. Mereka juga tidak menghiraukan celaan dan cacian orang lain, sebab ketulusan dan fokusnya berjuang di jalan Allah.

Menurut Ibnu Jarir, riwayat dari Qatadah, setelah ayat ini turun, ada sebagian umat muslim yang murtad. Pasca wafatnya Nabi misalnya, mulai banyak bermunculan Nabi palsu dan kelompok yang tidak mau berzakat.

Sayyidina Umar bin al-Khattab adalah sosok yang Nabi jadikan contoh pada karakter yang kedua ini. Sahabat Umar paling tegas terkait hak-hak Allah. Ia juga adil, gethol amar makruf nahi munkar dan tegas membela kebenaran.

3. Lembut Hati dan Kasih Sayang pada Sesama

Karakter yang ketiga bagi hati orang mukmin adalah lemah lembut dan memilki sifat belas kasih. Hal ini terejawantah dalam bentuk simpati dan perhatian kepada sesama. Sifat lemah lembut dan welas asih adalah akhlak terbaik. Nabi Muhammadlah suri teladan paling ideal, sebagaimana dalam at-Taubah: 128

“Sungguh, benar-benar telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan (bersikap) penyantun dan penyayang terhadap orang-orang mukmin.”

Oleh karena itu, Nabi juga memerintahkan kepadanya untuk menebar cinta kasih, seperti pada hadis berikut:

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ، ارْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ، الرَّحِمُ شُجْنَةٌ مِنَ الرَّحْمَنِ، فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَطَعَهَا قَطَعَهُ اللهُ

Artinya: Orang-orang yang memiliki sifat kasih sayang akan disayang oleh Allah yang Maha Penyayang, sayangilah semua yang ada di bumi, maka semua yang ada di langit akan menyayangimu. Kasih sayang itu bagian dari rahmat Allah, barangsiapa menyayangi, Allah akan menyayanginya. Siapa memutuskannya, Allah juga akan memutuskannya (HR. Tirmidzi)

Riwayat yang lain, Nabi menyebutkan bahwa para kekasih Allah (wali Abdal) masuk surga karena hati yang bersih, kedermawanannya dan menyayangi sesama manusia. SIfat-sifat ini yang lebih mendekatkan mereka kepada Allah. Karakter tersebut lebih mulia daripada amal salih lainnya.

Akhirnya, jelas bahwa tiga karakter yaitu keyakinan yang mantap, beragama secara teguh, dan cinta kasih, bagi Sayyidina Ali adalah sebaik-baiknya hati yang dimiliki manusia.

Baca juga: Ilmu dan Hidup Maslahat

 

Share this content:

Post Comment