Bagian III: Tindakan Komunikatif Menurut Jurgen Habermas

Tindakan Komunikatif Jurgen Habermas

Sebelum mengetahui teori tindakan komunikatif, ada baiknya berkenalan dulu dengan tokohnya. Jurgen Habermas merupakan salah satu tokoh filsafat dan teoritikus sosial kontemporer yang hingga kini masih hidup. Mengutip dari Rahardjo dalam salah satu bukunya yang berjudul “Hermeneutika: menggali Makna Filosofi Teks”, Habermas berkebangsaan Jerman, lahir pada 18 Juni 1929. Tepatnya, ia lahir di sebuah kota kecil bernama Grummersbach, yang letaknya tidak jauh dengan Dusseldorf.

Hardiman dalam buku Seni Memahami, mengisahkan sedikit masa kecil Habermas.Iia mungkin menjadi kurang beruntung dari teman-teman sebayanya. Habermas menderita bibir sumbing yang berakibat pada ejekan dari teman-teman kecilnya. Akhirnya, ia menjalani operasi bibir.

Dari pengalaman ini, Habermas mulai berkeyakinan bahwa setiap manusia memiliki ketergantungan dengan manusia lain. Dari pengalaman ini pula, ia mengatakan bahwa bahasa tertulis lebih unggul dari pada bahasa lisan.

Habermas mulai menaruh perhatiannya untuk menimba ilmu pengetahuan pada 1949. Selama lima tahun dari tahun tersebut, ia belajar filsafat, psikologi, kesusasteraan Jerman di Universitas Gottingen dan Universitas Zurich, serta Universitas Bonn.

Ia kemudian mendapatan gelar doktor di universitas yang saya sebutkan terakhir pada 1954. Setelah mendapatkan gelar doktornya, ia mempersunting Ute Wesselhoeft di tahun 1955. Ia juga bergabung dengan Institut Penelitian Sosial (Institut fur Sozialforschung) di Frankfurt yang menggagas teori kritis.

Tidak lama kemudian pada 1956, masih menurut Rahardjo, Habermas mendapat kepercayaan dari Theodor Adorno menjadi asistennya di Institut Penelitian Sosial tersebut. Di sini, Habermas mulai menemukan apa yang seharusnya ia dalami dan terus kaji. Sampai akhirnya ia menjadi sosok Habermas seperti yang sekarang kita kenal.

Perjalanan akademiknya masih terus berlanjut hingga ia memperoleh gelar Profesor Filsafat di Universitas Heidelberg pada 1961. Profesor Pengetahuan dan Kepentingan (Erkenntnis und Interesse) pada 1965. Ia juga pernah menjadi direktur di Institute Max Planck pada 1972. Lalu menjadi ilmuwan Jerman yang paling berpengaruh pada 1979 oleh Der Spiegel. 

Jurgen Habermas satu sisi dipengaruhi oleh Heidegger namun di sisi lain ia juga memberikan kritik kepadanya. Tidak terkecuali dengan Gadamer, di Frankfurt sendiri, Habermas banyak bersinggungan dengan tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Horkheimer, misalnya. Dari sana pula ia banyak menuliskan karya-karyanya.

Karya-karya Habermas

Di antara karya-karya Habermas, yang saya baca dari  Rahardjo dan Hardiman adalah sebagai berikut:

  1. Student und Politik (bersama dengan Friedeberg, Cg. Ohler, dan F. Weltz, 1961)
  2. Strukturwandel der Oefenttlichkeit (1961)
  3. Theorie un Praxis (1963)
  4. Zur Logik der Sozialwissenschaften (1967)
  5. Technik und Wissenschaft als Ideologie (1968)
  6. Protestbewegung und Hochschulreform (1968)
  7. Philosophosche-Politische Profile (1971)
  8. Legitimationsprobleme im Spatkapitalismus (1973)
  9. Zur Rekonstruktion des Historischen Materialismus (1976)
  10. Stichworte zue Geitigen Situation der Zeit (1980)
  11. Theorie des Kommunikation Hendels (1981)

Teori Tindakan Komunikatif Habermas

Jurgen Habermas, seperti yang telah disinggung secara singkat sebelumnya, bukan pemikir yang memusatkan pada hermeneutika secara utuh. Justru ia lebih banyak perhatian pada ilmu-imu sosial-kemanusiaan. Salah satu yang ia dalami secara serius adalah teori komunikasi intersubjektif. Hal ini berangkat dari pengalaman hidupnya di masa kecil, yakni komunikasi lisannya yang kurang baik.

Habermas termasuk dalam teori kritis generasi kedua karena mencoba memberikan warna baru penganut marxis yang belum tuntas menghadapi dunia. Ia menempatkan konsensus (kesepakatan) sebagai sesuatu yang vital dalam teori komunikasinya.

Paradigma komunikasi dari Habermas melihat “kerja” dan “komunikasi” sebagai sesuatu yang amat penting. Dua hal ini pula, menurut Hardiman dalam buku Menuju Masyarakat Komunikatif: Ilmu, Masyarakat, Politik dan Postmodernisme Menurut Jurgen Habermas, yang membedakan teori kritis Habermas dengan sebelumnya. Manusia dalam pandangan Habermas merupakan komunikator yang rasional dalam kehidupan. Inilah yang menjadi inti persoalan dari Habermas.

Habermas mengklasifikasikan tindakan dari manusia terbagi menjadi empat jenis. Sebagaimana dikutip oleh K. Bertens dalam Filsafat Barat Kontemporer: Inggris-Jerman. Pertama, tindakan teleologis. Yaitu, tindakan yang lahir dari seseorang untuk mencapai sebuah tujuan melalui strategi dan keputusan yang tepat dan sesuai. Kedua, tindakan normatif. Yaitu tindakan yang dilakukan atas dasar norma atau aturan yang berlaku.

Ketiga, tindakan dramaturgik. Secara sederhana, adalah tindakan yang keluar dari seseorang untuk menampilkan citra dirinya dengan tanpa ada kepentingan apapun selain penampilan dirinya. Biasanya kita mengatakan pencitraan. Keempat, tindakan komunikatif. Tindakan ini melibatkan dua orang atau lebih yang mencapai pada kesepahaman melalui kesepakatan. Ciri khusus tindakan komunikatif berupa universalitas nilai. Kemudian, tindakan komunikatif berorientasi pada ketersalingpahaman, melalui konsensus.

Sekilas Komounikasi Intersubjektif

Habermas mengkritik paradigma filsafat kesadaran yang menurutnya tidak lagi relevan. Sebab, di sana terjadi objektifikasi oleh salah satu pihak secara monologis. Kemudian Habermas menawarkan pandangan baru dalam memahami sesuatu, yaitu komunikasi intersubjektif.

Tawaran komunikasi intersubjektif inilah yang menjadi sarana untuk memahami pengetahuan dan subjektivitas. Artinya, kebenaran dalam konsep rasio komunikatif tidak akan tercapai ketika hanya satu subjek saja yang melakukan. Melainkan ada prosedur intersubjektif tadi.

Habermas dalam karyanya yang berjudul Strukturwandel der Offentlichkeit, membagi rasio ke dalam tiga macam; rasio instrumental, rasio strategis, dan rasio komunikatif. Rasio instrumental pada gilirannya akan melahirkan tindakan instrumental. Akal menjadi alat untuk  mencapai sebuah tujuan.

Sementara pada rasio strategis berakar pada tindakan strategis yang memiliki sebuah tujuan dari tindakan yang dilakukan. Tidak jauh berbeda dengan rasio instrumental, hanya saja pada rasio strategis mengutamakan nilai dan kaidah untuk mencapai tujuan.

Adapun rasio komunikatif memiliki pandangan berupa hubungan timbal balik, kesepahaman antara satu dengan yang lainnya. Rasio komunikatif menurut Habermas adalah sebuah kepentingan yang ada dalam manusia untuk bisa dikomunikasikan, dicari maksud dan tujuannya.

Habermas memaknai “pemahaman” dengan dua makna pembagian. Pertama, pemahaman berarti mengetahui ungkapan bahasa. Kedua, pemahaman merupakan suatu konsensus atau persetujuan bersama.

Habermas dalam Philosopical Discourse of Modernity mengatakan bahwa proses komunikasi akan bebas dari penekanan, pengekangan (represi) ketika memenuhi tiga klaim komprehensibilitas. Pertama, klaim kebenaran (truth) yaitu dasar dari dunia objektif-empiris. Kedua, klaim ketepatan (rightness) bagi validitas dunia intersubjektif yang bersifat normatif. Ketiga, klaim kejujuran (sincerity) bagi dunia subjektif.

Baca sebelumnya: Kisah Nabi Musa dan Khidir dalam al-Qur’an

Share this content:

Post Comment