Bagian II: Kisah Nabi Musa dan Khidir dalam al-Qur’an

Nabi Musa dan Nabi Khidir

Kisah Nabi Musa dan Khidir melibatkan komunikasi yang cukup intens. Al-Qur’an menceritakan kejadian-kejadian, yang menurut salah satu pihak di luar nalar. Sementara pihak lain memiliki seperangkat pengetahuan dari Allah untuk melihat masa depan. Komunikasi yang terjalin antara mereka membentuk pola-pola yang menurut saya menarik untuk dikaji lebih dalam.

Tokoh Musa dalam pendapat kebanyakan ulama adalah Nabi Musa, penerima Kitab Taurat, nabi yang masuk dalam kategori ulul ‘azmi. Sementara seorang hamba dalam kisah ini, menurut mayoritas ulama adalah Khidir (ada yang bacanya Khodir). Kisah ini adalah sebuah perjalanan pengembaraan ilmu dari Nabi Musa atas perintah Allah.

Al-Maraghi dalam tafsirnya (1946, 15:174–75), mengutip riwayat dari Imam al-Bukhari bahwa Allah memerintahkan kepada Musa untuk mencari seseorang yang lebih berilmu (sebagai utusan Allah). Hal ini sebagai akibat ketika Nabi Musa dakwah dengan kaumnya, ia mengklaim sebagai yang paling berilmu saat salah seorang dari kaum Bani Israil bertanya.

Musa tidak menyandarkan ilmu pengetahuannya kepada Allah. Di saat itu, Allah menurunkan wahyu kepada Musa untuk berguru kepada orang yang lebih berilmu di Majma’a Bahrain. Sifat akuisme atau ke-aku-an memang tidaklah pantas bagi manusia, apalagi dia adalah seorang Nabi.

Ketika dalam perjalanan untuk menemui hamba Allah tersebut, terjadi komunikasi antara Musa dan pemuda sebagai pembantu Musa. Masih dalam Tafsir al-Maraghi (1946, 15:172), bahwa pemuda tersebut bernama Yusya’ bin Nun bin Afraṡīm bin Yusuf alaihi as-salām. Perjalan mereka berdua terekam pada QS. al-Kahfi[18]: 60-64.

Lima ayat di atas menjelaskan bahwa keduanya menempuh perjalanan yang cukup melelahkan. Namun bekal yang ada justru tertinggal di tempat peristirahatan sebelumnya. Ketika melanjutkan perjalanan dan telah melewati tempat tersebut, Musa meminta bekal kepada Yusya’. Kemudian Yusya’mengatakan bahwa ikannya telah lepas. Berdasarkan petunjuk Allah, Musa baru mengingatnya bahwa tempat yang sebelumnya (untuk peristirahatan) adalah yang sebenarnya mereka tuju. Kembalilah mereka di tempat istirahat tadi yang berupa batu besar di bibir pantai.

Ketika Musa Bertemu Khidir

Kemudian Musa bertemu dengan hamba salih pilihan Allah, yakni Khidir. Dalam kesempatan awal bertemu ini, Nabi Musa meminta kepada Khidir untuk menjadi muridnya dengan mengikuti perjalanan yang ia tempuh. Namun, Khidir memberikan prasyarat kepada Musa untuk sabar dengan apa yang akan terjadi di depannya. Hal ini seperti dalam QS. al-Kahfi[18]: 65-70.

Musa meminta mengikutinya karena Khidir telah mendapat anugerah oleh Allah berupa ilmu yang langsung dari-Nya dan memberi petunjuk ke jalan yang benar. Namun, Khidir mengatakan bahwa Musa tidak akan sabar menghadapinya. Karena ia akan melakukan perbuatan yang Musa tidak akan sampai ilmu pengetahuannya.

Ketika menilik Tafsir at-Thabari (1994, V:119–20), terdapat keterangan di sana bahwa Allah telah memberikan pengetahuan batin (ilmu futuristik) kepada Khidir yang tidak ada dalam pribadi Nabi Musa. Saat negosiasi penerimaan santri ini, kemudian Musa berjanji akan bersabar dan menaatinya dengan tidak melanggar perintah dari Khidir. Kemudian Khidir memberikan syarat agar ia tidak mempertanyakan sesuatu yang akan terjadi sebelum ia menjelaskannya.

Aakhirnya Khidir menerima Musa. Mereka berdua melakukan perjalanan dengan melewati tiga kejadian, yang bagi Musa, hal itu di luar nalarnya. Tindakan Nabi Khidir di hadapan Nabi Musa bisa kita baca pada QS. al-Kahfi[18]: 71-77.

Tujuh ayat tersebut menyebutkan, ada tiga hal yang membuat komunikasi antara Musa dan Khidir terjadi cukup serius. Tepatnya, Musa mempertanyakan tiga hal yang dilakukan oleh Khidir. Pertama, ia melubangi (merusak) perahu yang menjadi kendaraan mereka. Kedua, Khidir membunuh seorang remaja. Ketiga, Ia merenovasi dinding yang sudah hampir roboh di suatu perkampungan.

Penjelasan Khidir sebagai Bukti Ilmu Allah

Pertanyaan yang datang dari Musa, ketika melihat perjanjian di awal pertemuan adalah sebuah pelanggaran. Karena syarat dari perjalanan mereka adalah tidak ada pertanyaan apapun setelah Khidir menjelaskan.

Musa kembali bertanya yang kedua kalinya, ia kemudian berjanji ketika memberikan pertanyaan yang ketiga, maka antara mereka berdua telah selesai pertemuannya (berpisah). Karena Musa merasa bahwa dirinya belum sampai pada kesabaran yang disyaratkan. Sebelum mereka berpisah, Khidir lebih dulu menjelaskan apa makna di balik perbuatan-perbuatannya.

Pertama, Khidir menjelaskan alasan melubangi perahunya karena perahu tersebut milik orang-orang miskin yang berlayar sebagai nelayan. Sementara di dekatnya, ada (raja) kelompok perompak yang hendak mencuri barang-barang di dalam perahu tersebut. Sehingga untuk mengelabuhinya, perahu tersebut dirusak agar tidak menjadi target ghaṣab (perompakkan). Hal ini seperti tertera dalam QS. al-Kahfi[18]: 79.

Pada ayat selanjutnya, QS. al-Kahfi[18]: 80-81, Khidir menjelaskan tindakan yang kedua. Yaitu alasan membunuh anak remaja di tengah perjalanannya. Khidir mengatakan karena anak tersebut memiliki sifat sombong dan kufur kepada Allah. Khidir mendapat informasi dari Allah bahwa anak tersebut akan membawa orang tuanya yang mukmin menjadi zalim (sesat dan kufur). Sehingga, untuk memutus hal ini, anak tersebut harus dibunuh. Namun Khidir berharap (berdoa) akan ada anak yang lebih baik dari anak yang tadi. Tidak lain, anak yang memiliki perangai baik dan berbakti kepada orangtuanya.

Terakhir, membangun kembali dinding rumah yang akan roboh (hancur). Penjelasan ini tersingkap dalam QS. al-Kahfi[18]: 82. Ayat ini menjelaskan bahwa alasan membangun kembali dinding rumah itu adalah karena ada harta simpanan anak yatim di bawah dinding. Khidir telah mendapat pengetahuan juga bahwa ayah dari anak tersebut adalah orang saleh.

Maka harta yang tersimpan tersebut bisa menjadi masa depan anak yatim sebagai bentuk kasih sayang dari Allah. Di akhir statement, Khidir menyampaikan bahwa tindakan tersebut bukan atas kehendaknya sendiri, melainkan atas petunjuk dari Allah. Ketiga hal tersebut yang Nabi Musa tidak mampu menghadapinya dengan sabar, sebagai murid selama perjalanannya bersama Khidir.

Setelah membaca kisah antara Nabi Musa dan Khidir, selanjutnya penting untuk berkenalan dengan ilmuwan Jurgen Habermas dan salah satu teorinya, yaitu Tindakan Komunikatif.

Baca sebelumnya: Membaca Kisah Nabi Musa dan Khidir dengan Teori Tindakan Komunikatif

Share this content:

Post Comment