Isra Mikraj Nabi dan Estafet Misi Agama Samawi

Isra Mikraj

Isra dan Mikraj adalah perjalanan Nabi Muhammad secara horizontal dari Masjid al-Haram sampai ke masjid al-Aqsa(Isra) kemudian secara vertikal menuju ke sidratulmuntaha (Mi’raj). Banyak yang mengatakan perjalanan tersebut adalah salah satu cara dan bentuk kepedulian Allah kepada Nabi Muhammad, yang pada masa itu mengalami banyak penderitaan.

Namun, lebih dari itu Isra Mikraj Nabi Muhammad menyimpan misi profetik dari Allah sebagai estafet perjuangan dari ajaran Nabi-nabi terdahulu.Sebagaimana dalam Q.S. al-Isra’ [17] ayat 1 – 2. Misi ini berkaitan dengan tema utama surah ini, yang menurut Al-Biqai adalah ajakan menuju ke hadirat Allah. Adalah taqwa dengan bertauhid kepada Allah kemudian mendaki puncak kefanaan (peleburan diri kepada-Nya).

Pada ayat pertama, berkisah tentang perjalanan isra Nabi Muhammad, sebagai tanda Maha Besarnya Allah. Sebagaimana Isra Mikraj adalah bentuk kemurahan Allah kepada Nabi Muhammad atas dukanya, As-Sya’rawi menjelaskan dengan menghubungkan awal Surah al-Isra ini dengan ayat terakhir pada surat sebelumnya, yakni an-Nahl [16] ayat 128.

“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang muhsin.” Menurut As-Sya’rawi, Nabi Muhammad yang muhsin tatkala sedang mengalami masa-masa sulit (‘amm al-Huzn/tahun kesedihan) tidak akan Allah meninggalkannya.

Di antara kesedihan Nabi adalah wafatnya dua tokoh penting dalam dakwah beliau; pamannya Abu Thalib dan istrinya Khadijah ra. Juga gangguan kaum musyrikin yang semakin mengganas sehingga Nabi hijrah ke Thaif. Maka, ayat ini menegaskan bahwa Allah senantiasa membersamai Nabi meski (umpama) seluruh penduduk bumi menolak dan menentang ajarannya.

Kitab Taurat dan Kisah Isra-nya Nabi Musa

Kisah isra Nabi Muhammad pada awal surah tersebut memiliki keterkaitan dengan ayat kedua, yang juga menceritakan tentang kisah nubuat Nabi Musa juga perjalanan isra-nya. Yakni dari Mesir ke Palestina. Para ahli tafsir banyak menghubungkan keterkaitan kedua ayat ini dengan ragam pemaknaan. Misalnya Sayyid Quthub, yang menjelaskan tentang adanya penyebutan Masjid al-Aqsha sebagai tautan yang menghubungkannya dengan kitab suci Taurat sebagai anugera untuk Nabi Musa.

Kedua ayat ini seakan menyatakan bahwa Allah telah mengisra’kan Nabi Muhammad dan menganugerahi Musa al-Kitab (Taurat) yang menjadi mukjizat sekaligus petunjuk (khusus) bagi Bani Israil yang dengan Firman-Nya “Janganlah kamu mengambil (pelindung) selain Aku.”

Al-Biqai melengkapi bahwa kedua ayat tersebut mengandung ihtibak. Yakni ada kalimat pada ayat pertama yang tidak disebut karena pada ayat kedua akan meniyitir. Juga sebaliknya, ada kalimat yang tidak disebut pada ayat kedua, karena ayat pertama sudah menyinggung pesannya.

Pada ayat pertama tidak ada penyebutan anugerah kitab suci al-Quran kepada Nabi Muhammad. Sebab ayat kedua membahas kitab Tauratuntuk Nabi Musa. Sedangkan pada ayat kedua tidak menyebutkan isra (perjalanan) Nabi Musa yang pada ayat pertama telah menyiratkan pesan melalui isra’nya Nabi Muhammad.

Keserasian dan keterhubungan ayat 1 dan 2 yakni Isra (perjalanan) Nabi Muhammad dan Nabi Musa a.s serta penganugerahan Kitab Suci berupa al-Quran dan Taurat merupakan salah bukti kesamaan misi agungnya. Tentu dengan kaum dan konteks yang berbeda.

Estafet Misi Para Nabi

Kemudian pada ayat ketiga dalam surah al-Isra, menyebutkan bahwa Nabi Nuh dan orang-orang yang selamat bersama perahunya adalah leluhur kita. Allah menggambarkan mereka sebagai hamba-Nya yang taat dan pandai bersyukur. Pesan historis dari kalimat tersebut, mengandung peringatan akan musibah yang dulu pernah menimpa umat Nabi Nuh, yakni air bah. Pun demikian agar meneladani rasa syukur seperti Nabi Nuh. Beberapa riwayat hadis menyebutkannya.

Penyimpangan Bani Israil atas perintah Allah “Janganlah kamu mengambil pelindung selain Aku.” (al-Isra : 2), tersemat dalam Perjanjian Lama. Mereka menyekutukan Allah dengan menyembah dewa, bintang-bintang, dan menjadikan anak kandung sebagai sesaji atasnya. Mereka juga mempersembahkan wainita-wanita (kedeshoth) dan laki-laki (kedeshim) di tempat peribadatan suci sebagai pemuas nafsu. Bani Israil menyebutnya dengan istilah petak-petak pelacuran bakti. (baca Perjanjian Lama dalam Kitab Raja-Raja 2; 23).

Salah satu dari kedurhakaannya itu menyebabkan mereka dijatuhi siksa oleh Allah. Padahal para Nabi terdahulu telah memberikan peringatan akan nyatanya siksa Allah terhadap hamba yang membangkang terhadap-Nya. Seperti kisah Nabi Nuh tersebut. Ini sesuai ketetapan Allah terhadap Bani Israil yang akan membuat kerusakan di bumi dua kali. Quraish Shihab menyebut bumi di sana sebagai Bait al-Maqdis, yang marak kezaliman, dan hukum-hukum Taurat telah ditinggal.

Penyebutan Nabi Nuh, kemudian Nabi Musa dalam ayat tersebut juga menjadi estafet ajaran yang oleh Nabi Muhammad dan umatya. Selain itu, Nabi Musa adalah pembawa ajaran kitab Taurat, menjadi satu dari banyaknya kesamaan ajaran khas Nabi Muhammad. Ialah sebagai Khatamul Anbiya’ (baca: penutup atau penyempurna para nabi).

Maka, selayaknya kita patut mengambil pelajaran dari kisah para Nabi terdahulu, sebagai bukti kebesaran Allah. Yakni dengan bertaqwa, menjalani perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya.  Jika sudah demikian, Allah akan senentiasa memberkahi, seperti yang telah Allah anugerahkan dulu. ( Quraish Shihab, Tafsir barakna dalam QS. al-Isra ayat 1). Wallahu A’lam.


Share this content:

Post Comment