Gus Dur dan Mbah Basyir: Tirakat Menuai Derajat

Gus Dur

Dua nama ulama kharismatik, yaitu KH. Abdurrahaman Wahid atau biasa dikenal dengan Gus Dur dan Kiai Ahmad Basyir, lebih dikenal dengan sebutan Mbah Basyir (Jekulo, Kudus), sudah tidak asing lagi di telinga umat muslim, terutama dari kalangan pesantren.

Seperti kita ketahui, Gus Dur adalah salah satu Presiden RI di era Reformasi. Sepanjang hidupnya, beliau teguh dalam mencintai ilmu pengetahuan dan mengupayakan nilai-nilai kemanusian di tengah masyarakat.

Tiga belas tahun sudah jasad Gus Dur meninggalkan kita, semua elemen masyarakat, dari berbagai etnik dan suku pun sangat terpukul ketika mendengar nama Abdurrahman Wahid meninggal dunia. Karena perjuangannya, keikhlasan, dan istqomahnya memperjuangkan kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, dan membela kelompok minoritas, menjadikan beliau dicintai masyarakat di seluruh penjuru Nusantara. Tidak sedikit dari luar negeri yang mengagumi seorang Gus Dur.

Ulama kedua, yang juga sangat terlihat kedamaian dalam dirinya, pun ketika kita memandangnya, adalah KH. Ahmad Basyir. Beliau merupakan salah satu mujiz (pemberi ijazah) kitab Dalail al-Khairat. Kitab ini berisi kumpulan salawat Nabi yang beragam bacaannya dan disusun oleh ulama dari Maroko, Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Syaikh Sulaiman al-Jazuli.

Di balik keterangan singkat tersebut, ada beberapa hal dari keduanya yang memiliki kesamaan, yaitu tirakat atau riyalat (riyadhah) atau laku prihatin; dan ziarah kubur dan silaturrahim.

Gus Dur yang Kutu Buku

Antara Gus Dur dan Mbah Basyir, keduanya terkenal sebagai ulama ahli tarekat. Sebagai seorang yang lahir dari kalangan pesantren, beliau berdua merupakan santri yang haus akan ilmu. Rasa keingintahuan dalam dirinya, menjadikan kedua ulama bersungguh-sungguh dalam mengarungi samudera ilmu Allah yang Maha Luas.

Gus Dur, ketika nyantri di Pondok Pesantren Api Tegalrejo, Magelang dan Tambak Beras Jombang, adalah sosok santri yang gemar membaca. Hal ini dituturkan oleh beberapa sahabatnya ketika masih di pesantren. Pertama, ketika masih di Tegalrejo, dalam kesaksian (alm.) KH. Sirodj Khudori Tugu, Semarang, Gus Dur adalah santri yang sangat rajin membaca dan buku, bahkan yang berbahasa asing selain buku sejarah.

Penyematan kutu buku dalam diri Gus Dur semakin kuat. Hal ini pernah penulis dengar dari KH. Sholahuddin Masruri (Abah Sholah), putra sulung Abah Masrur, ketika masih ngalap barokah di Pesantren al-Hikmah 2 Benda. Gus Sholah, dalam kesempatan ngucal (mengajar) kitab ‘Idatun Nasyi’in, menceritakan kisah Abah Masrur ketika masih nyantri bareng Gus Dur di Tambak Beras, Jombang. Menurut Abah Masrur, Gus Dur lebih rajin membaca buku daripada santri lainnya, bahkan ketika bilik kamar sudah gelap, ia masih saja membaca buku.

Tirakat Puasa Gus Dur dan Mbah Basyir

Gus Dur juga ketika masih di Tegalrejo melakoni tirakat “ngrowot” (melatih diri tidak makan makanan berbahan beras). “Gus Dur itu juga ahli tirakat (ngrowot),” puji Kiai Sirodj, dalam artikel Gus Dur di Mata KH. Sirodj Khudori Semarang (Sahabat Lama Gus Dur)

Tentang riyadhoh puasa, ayahanda Gus Dur yaitu KH. Wahid Hasyim juga merupakan ulama dan tokoh nasional yang mendawamkan (konsisten) berpuasa. Menurut penuturan KH. Hasib Wahab (putra KH. Wahab Hasbullah) mengutip dari NU Online, Kiai Wahid Hasyim mempunyai cita-cita luhur dan salah satu bentuk ikhtiar yang dilakukan adalah dengan menjalankan puasa selama lima tahun.

Sementara tirakat berpuasa yang menjadi wirid (rutinan/kontinu) Mbah Basyir adalah pasa ndalail. Riyadhoh Puasa Dalail terbagi menjadi dua. Pertama, dalail qur’an dengan berpuasa selama satu tahun dengan amaliah membacaal-Qur’an satu juz per hari (one day one juz). Kedua, dalail khairat yaitu dengan berpuasa selama tiga tahun dengan wiridannya adalah sholawat dalail dari Syaikh Abu Abdillah Muhmmad bin Sulaiman al-Jazuli.

Sanad ijazah ndalail Mbah Basyir, beliau peroleh dari Mbah Yasin dan Mbah Muhammadun Pondohan dari Syaikh Muhammad Amir bin Idris Pekalongan, dari Syaikh Mahfudz Termas hingga sampai pada Syaikh Sulaiman al-Jazuli (penyusun kitab Dalail Khairat). Menurut KH. Ahmad Baidawi Basyir (putra Mbah Basyir), ayahandanya rutin melakukan riyalat pasa ndalail sampai pada usia 88 tahun.

Mbah Basyir sering memberikan pesan kepada para santrinya dengan, “Enome riyalat, tuwa nemu derajat, riyalat kuwi jiret weteng nyngkal moto”. KH. Jazuli Basyir, salah satu putra Mbah Ahmad Basyir, memaknai kalimat tersebut sebagai sebuah bentuk usaha (ikhtiar) para santri yang masih muda, untuk menjalankan laku hidupnya dengan sungguh-sungguh. Salah satunya dengan melakukan riyadhoh (melatih diri) agar kelak mendapatkan kemuliaan dari Allah.

Ziarah Kubur

Sosok Gus Dur, dalam catatan Kiai Husein Muhammad, Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus, ketika Gus Dur berkunjung ke suatu daerah, maka makam leluhur setempat adalah destinasi pertamanya. Ketika ada pertanyaan, mengapa suka ziaroh? Gus Dur dengan singkat menjawab, “Karena orang mati tidak punya kepentingan”. Bagi kita mungkin jawaban ini masih buram akan makna. Akan tetapi, bagi Gus Dur, dengan ziarah akan menjadi sebuah perantara dan menenangkan jiwanya.

Dalam biografi KH. Ahmad Basyir melansir laduni.id, Mbah Basyir juga rutin melakukan ziarah ke makam para wali, seperti ziarah ke makam Sunan Kudus, Sunan Muria, Mbah Mutamakkin Kajen, dan ke para wali di sekitar Jekulo, seperti makam gurunya, Kiai Yasin dan yang lainnya.

Abah Imam Taufiq, menantu Mbah Basyri, menceritakan sedikit kisah bahwa Mbah Basyir kala muda pernah ngontel (mengayuh sepede onthel) dari Kudus sampai ke sini (Makam Sunan Abinawa). Dan, dulu makam ini tidak terlalu ramai. Setalah Gus Dur datang berziarah ke sini, mulai banyak peziarah yang datang.

“Dulu itu Mbah Kung (sebutan keluarga ndalem kepada Mbah Basyir), pernah ngontel tekan kene, ziaroh di sini” tutur Abah Imam seingat penulis. Beliau kemudian melanjutkan, “Iki miyen gak terlalu rame, terus Gus Dur sing akhire ramekke makam karena pernah ziarah ke sini”

“Dulu itu Mbah Basyir pernah mengayuh sepeda ontel sampai sini, berziarah. Dulu juga tidak terlalu ramai peziarah. Terus Gus Dur ziarah, akhirnya makam ini menjadi ramai peziarah”

Konon, Sunan Abinawa atau Pangeran Benawa adalah putra Jaka Tingkir, dan Gus Dur adalah masih dari keturunan tersebut.

Setelah berziarah ke Kendal, Abah Imamlalu berziarah ke Makam Sunan Amangkurat di Desa Pesarean, Adiwerna, Tegal.

“Dulu Mbah Kung juga pernah ziarah ke Amangkurat, nah makanya ini pengin melanjutkan saja apa yang beliau lakukan” nasihat beliau kepada penulis dan dua santri lainnya yang ikut berziarah.

Usaha Mencari Kemuliaan

Kedua ulama kharismatik tersebut pada hakikatnya memiliki tirakat yang sama, yaitu untuk mendekatkan pada Allah ‘azza wa jalla. Dan, barangkali melaui ikhtiar tirakat tersebut, membentuk pribadi yang luhur, prihatin, berjiwa sosial tinggi, dan lembut hati dan lisannya.

Puncaknya, Allah akan menaikkan derajatnya, sebagaimana termaktub dalam potongan syair Syaikh Sulaiman al-Jazuli.

بدلائل الخيرات كن متمسكا والزم قرأتها تنل ما تبتغي  

bi dalail al-khairat kun mutamassikan wal zam qira’ataha tanal ma tabtaghi

Terjemah bebasnya, “Berpegang teguhlah dengan dalail al-khairat, dan langgengkanlah dalam membacanya. Maka kamu akan memperoleh apa yang kamu cari.”

Ikuti Webinar Suluk Sunan Muria di sini

Share this content:

Post Comment