Walisongo.co – Pertanyaan tentang siapa diri kita itu selalu muncul di manapun tempatnya, pun juga waktu. Kita seringkali bingung mengenai jati diri sendiri, baik sebagai manusia, masyarakat, ataupun seorang penganut agama.
Perjalanan saya di desa podorejo memberikan saya banyak hikmah yang ingin saya bagikan kepada khalayak ramai. Terutama terkait pertemuan kami dengan mbah buyut di sendang wangi podorejo.
Beliau adalah penjaga sendang tersebut, sekaligus tokoh, dan manusia islam-jawa yang membawa banyak sekali hikmah serta pengetahuan yang telah lelakon.
Ilmu menurut orang jawa adalah kelakone nganthi laku alias ilmu baru dapat melekat dan dipahami secara utuh ketika si individu tersebut telah berhasil atau berada di tahapan mengamalkan ilmunya. Jadi tidak hanya sebatas teoritis ataupun wacana belaka.
Pertemuan kami dengan mbah buyut terbilang cukup singkat, namun pesan yang beliau berikan kepada kami cukuplah padat dan juga berisi. Selain memberikan wawasan baru terkait ajaran lama jawa, beliau juga mengelaborasikan hal itu dengan saripati keislaman.
Pesan beliau pertama adalah tentang etika, sopan santun, dan juga andap asor, bahwa dimanapun kaki kita berpijak kita tidak boleh merasa tinggi, berkuasa, ataupun sombong seolah-olah kita tidak memiliki batasan.
Terhadap orang tua meskipun beliau lebih cenderung kolot dibanding kita, kita juga harus tetap menghormatinya dengan tata cara tertentu. Terhadap lingkungan baru yang baru kita singgahi juga, kita harus memikirkan tiap aturan yang ada disana cara mereka bermasyarakat ataupun lain sebagainya. Serta terhadap alam yang sejatinya lebih tua daripada manusia, kita juga harus sebisa mungkin menjaganya dan melestarikannya.
Beliau berpesan bahwa sejatinya manusia itu tersimpang dalam huruf HO dan No dalam aksara jawa, yang artinya, ho hono ning ingsung urip, No. kudu ono ning lan neng lan nung. Yang artinya adanya diri kita sebagai manusia itu ditentukan oleh ning neng nung kita.
Ning artinya sebarapa jauh kita bisa mengheningkan ciptanya, neng artinya mendiamkan hatinya, nung harus tau kemana mendunungkan hidupnya. Maksud dari mendunung disini adalah mencondongkan diri kita ke arah mana.
Apakah mau mencondongkan diri ke amerika? China? Atau malah ke hal yang lebih mulia dibanding itu semua.
Pesan yang terkesan singkat sebenarnya memiliki makna mendalam apabila ditelisik. Pengetahuan puluhan tahun atau bahkan ratusan tahun ini tetap relevan dan juga sangat mungkin untuk diaplikasikan. Apalagi bagi para milenial yang sudah sangat jauh dengan budaya asli, dan juga memiliki masalah psikologis yang terkesan rumit.
Manusia jawa telah memiliki obat sejak dulu kala, hanya saja obat ini tidak pernah terekspos dan tersembunyi di diri para sesepuh kita. Ini bisa menjadi pengingat bagi kita bahwa sepandai-pandainya kita selalu ada hal hal yang tidak kita ketahui dan hal itu biasanya sangat diperlukan untuk diri kita sendiri ataupun masyarakat sekitar.
Permasalahan psikologis seperti kecemasan, ketakutan, ataupun krisis identitas. Dapat dijawab oleh 2 konsep ini. Bahwa siapa diri kita itu bisa ditentukan dengan seberapa kenalnya kita dengan segala bagian diri. Seperti hati, pikiran, dan juga hasrat.
Dan dari situlah kita bisa tahu apa yang seharusnya kita lakukan dan mana yang sebenarnya menjadi masalah kita.
Mengheningkan cipta (merenungkan) untuk segala hal yang ada di sekitar kita, supaya dapat lebih waspada dan peka terhadap tanah dimana kita berpijak. Serta menenangkan hati dari segala masalah yang mungkin datang tanpa disangka-sangka agar hati kita bisa terus terhubung dengan sang maha kuasa.
Dan mewaspadai terhadap kemana kah kita sebenernya bergerak. Apakah untuk hal-hal yang penting atau tidak? Apakah mencelakakan diri kita sendiri atau tidak? dan apakah itu membuat kita lebih dekat dengan sang maha kuasa, atau tidak?
Manusia jawa, adalah manusia religius yang sangat menghormati alam dan juga tuhannya. Hal itu dibuktikan lewat pepatah pepatah lamanya yang selalu berkaitan dengan ketuhanan, spiritual, ataupun etika multi dimensi yang tidak hanya vertikal kepada manusia, namun juga horizontal kepada Tuhan dan segala ciptaanya.
Share this content:



Post Comment