Pesantren dan Tantangan Abad Kedua Nahdlatul Ulama

Nahdlatul Ulama

“Selamat datang di Abad Kedua Nahdlatul Ulama.” Itulah penggalan pidato Ketua Umum PBNU KH Cholil Yahya Tsaquf dalam sambutannya di puncak resepsi satu Abad NU. Puncak resepsi satu abad NU bertempat di Stadion Delta Sidorajo. Turut hadir secara langsung para ulama, habaib, serta umara’ Nasional. Di antara yang hadir adalah Presiden Jokowi, Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin dan tidak ketinggalan pula para tokoh nasional seperti Megawati, Jusuf Kalla, dan sebagainya.

Zaman akan terus berkembang, Nahdhatul Ulama’ sebagai organisasi besar, memiliki sekitar 108 juta pengikut juga harus terus progresif agar tidak tergerus zaman. Di tengah kegalauan para generasi muda akan masa depan NU, tetap ada benih optimisme karena NU masih memiliki lembaga pendidikan Islam yang indegenius, sebut saja pesantren. Relasi dalam komunitas, tradisi leluhur yang terjaga, hingga otoritas keilmuan yang mumpuni, ada dalam pesantren.

Pesantren dan NU Bagai Ibu dan Anak

Sejarah mencatat bahwa berdirinya Nahdhatul Ulama tidak lepas dari peran pesantren. Pendiri Nahdlatul Ulama yaitu KH M Hasyim Asy’ari sebelum mendirikan NU, beliau terlebih dahulu mendirikan madrasah diniah dan pondok pesantren sebagai pusat kajian keilmuan Islam.

Berangkat dari cita-cita Mbah Hasyim yang ingin menyatukan visi misi antar pondok pesantren, maka terbentuklah Nahdlatul Ulama. Maka dari itu, tidak berlebihan jika mengibaratkan Pesantren dan NU sebagai Ibu dan Anak. Seorang anak yaitu Nahdlatul Ulama’ yang lahir dari Rahim Pesantren.

Kemandirian Pesantren NU

Kiai Said Aqil Siraj dalam tulisannnya “Kembali Ke Pesantren” menyebutkan, sebagai hasil dari pergulatan kebudayaan yang kreatif antara tradisi pengajian dan kultur relasi antara kiai, santri, dan masyarakat, akhirnya pesantren memiliki peran yang strategis. Pesantren bersemayam sebagai lembaga pendidikan Islam yang sangat berakar di masyarakat sekitar.  

Kiai pesantren akan berinteraksi dengan masyarakat sekitar dan masyarakat pun merasa memilikinya. Tidak heran, bukan hanya santri yang ikut ’nderek dawuh’ kiai, masyarakat pun juga ikut ’gendolan’ kiai.

Sehingga, dari yang awalnya santri hanya mengikuti pengajian agama saja, dengan kebijaksanaan kiai, perdagangan, pertanian, dan kecakapan hidup turut mewarnai di komunitas pesantren. Pesantren dapat menjadi satu entitas yang mengusung kemandirian ekonomi melalui sektor-sektor yang telah disebutkan tadi.

Sebagai contoh Pondok Pesantren Sunan Drajad yang ada di Lamongan Jawa Timur. Pesantren yang diasuh oleh Prof. Dr. KH Abdul Ghofur atau akrab disapa Kiai Ghofur itu telah membangun ekosistem kemandirian. Dalam bidang enterpreneur, pesantren ini memiliki empat toserba di lingkungan internal pesantren. Kemudian ada food court yang ada di kawasan putra maupun kawasan putri.

Tak hanya itu, pesantren ini juga bergerak dalam bidang produksi, yakni garam SSD yang saat ini produksinya mencapai 50 ton sehari. Dalam bidang materil memiliki unit usaha mandiri yakni mustika sunan drajat. Ada lagi dalam bidang produksi pupuk hingga pabrik kapal.

Masih banyak contoh pesantren yang gencar membangun ekosistem kemandirian ekonomi seperti Pesantren Darul Falah Besongo di Semarang, Jawa Tengah yang identik dengan nama pesantren Besongo memiliki unit ekonomi seperti minimarket, unit usaha sablon, unit usaha merchaindise dll.

Gus Dur dalam buku Islam Kosmopolitan menyebutakan, semua materi pengajian yang diajarakan dalam pesantren bersifat aplikatif yang berarti harus diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari. Hampir tidak ada bidang kehidupan yang tidak tersentuh pengajian, mulai dari ibadat ritual sampai ke cara berdagang. Hal ini meneguhkan peran pesantren di tengah masyarakat.

Realitas dan Masa Depan NU

NU merupakan pesantren besar harus memiliki kontribusi yang startegis -seperti halnya pesantren kecil yaitu Pondok Pesantren dalam artian sebenarnya-. Dan Jangan lupa, bahwa pada awal berdirinya, NU memiliki spirit nilai-nilai seperti moderat, toleran, harmoni, berimbang, dan kesetaraan. Prinsip ini yang kemudian menjadi ruh dari haluan Ahlussunnah wal Jamaah.

Sementara itu, NU perlu merefleksikan diri atas spirit aswaja dengan bentuk yang lebih segar. Misalnya memfokuskan pada pemberdayaan, penguatan, dan kemandirian ekonomi masyarakat. Sebab hal ini, menurut penulis, kurang medapatkan perhatian.

KH Ma’ruf Amin mengatakan bahwa Gerakan NU di bidang perbaikan keagamaan (diniyah) sudah menyentuh kemanfaatannya untuk seluruh komponen bangsa. Namun dalam gerakan sosial kemasyarakatan belum optimal. Oleh karena itu, NU perlu  memaksimalkan peran aktifnya dalam meningkatkan gerakan kemasyarakatan.

“Akan tetapi dalam gerakan kemasyarakatan NU perlu melakukan upaya-upaya yang lebih maksimal agar tidak tertinggal, terutama dalam bidang ekonomi dan teknologi informasi untuk mewujudkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat, khususnya untuk warga NU,” ucap Wapres, K. H. Ma’ruf Amin pada Peringatan Hari Lahir Nahdlatul Ulama (NU) ke-98, Sabtu (27/02/21).

Akhir kata, NU seyogiyanya lebih gencar berorientasi pada pemberdayaan umat, bukan sekadar organisasi yang rutinan ritual-kultural . NU dapat meningkatkan peran dalam konteks sosial ekonomi masyarakat. Pasalnya, selain isu resesi, isu strategis skala global lainnya telah menghadang abad kedua NU. Pemberdayaan umat, bisa menjadi salah satu jalan menjawab tantangan tersebut.

Share this content:

Post Comment