“Kabeh wis dipikir karo manungsa, terus awakmu mikir apa?” (Semua itu sudah dipikirkan oleh manusia, lalu kamu mau memikirkan apa lagi?).
Demikian Gus Muwafiq mengajak para santri Pondok Pesantren Darul Falah Besongo untuk merefleksikan diri dalam acara Rihlah Ilmiah pada Sabtu, 21 Juni 2025. Kalimat itu bukan sekadar guyonan khas santri, tapi pernyataan serius yang memicu kesadaran baru: bahwa ilmu pengetahuan manusia saat ini bukanlah barang mentah, melainkan hasil dari lapisan pemikiran yang sangat panjang dan luas.
Ziyadah (Ziarah dan Rihlah Ilmiah) Besongo kali ini berlabuh ke Pondok Pesantren Minggir, Sleman—pesantren khas pedesaan asuhan KH. Ahmad Muwafiq, atau akrab dengan sebutan Gus Muwafiq. Di pesantren yang penuh tradisi ini, Gus Muwafiq menyampaikan bukan sekadar ceramah keilmuan, tetapi peta besar tentang posisi santri dan pesantren dalam peradaban ilmu pengetahuan modern.
Ensiklopedi Ilmu Pengetahuan Manusia
Bagi Gus Muwafiq, ilmu pengetahuan manusia bersifat ensiklopedik—tersusun rapi dari rentetan sejarah, eksperimen, dan peradaban kolektif umat manusia. Dalam pertemuan tersebut, ia membagikan satu kisah bagaimana dalam diskusi tentang kurikulum belajar, ia mengajak untuk membayangkan: “Coba kamu buat patung manusia. Lalu pikirkan, bagian mana dari tubuh manusia itu yang belum pernah menjadi objek ilmu oleh manusia?”
Ketika itu, tidak ada yang bisa menjawab dengan mantap.
Lalu Gus Muwafiq memberi contoh sederhana tapi tajam, yakni rambut kepala manusia. 1q“Iki rambut wae, wes dadi pabrik semir, sisir, sampo, peditok kutu. Lah iki, wong wes mikir kabeh!” katanya sambil terkekeh. Dari satu bagian tubuh —rambut— sudah lahir industri besar: dari kosmetik hingga farmasi. Maka tak mengherankan jika ia berkata: “Ilmu itu ensiklopedik. Satu titik bisa menurunkan berlapis-lapis ilmu.”
Contoh tersebut memperjelas bahwa posisi kita hari ini bukan lagi berada di awal, melainkan berdiri di atas bangunan pengetahuan yang sudah sangat kompleks. Gus Muwafiq tidak sedang melemahkan semangat berpikir santri, justru sebaliknya. Ia mendorong mereka untuk mengapresiasi warisan ilmu yang telah terbangun dan berpikir strategis: apa peran kita dalam melanjutkan atau menyempurnakan itu?
Penting bagi santri untuk menyadari bahwa belajar bukan dari nol. Ada ensiklopedia besar peradaban yang harus dibaca, dipahami, dan kemudian interpretasi ulang sesuai tantangan zaman. Karena itulah pesantren tidak boleh berhenti hanya pada transmisi ilmu, tapi harus menjadi laboratorium tafsir atas realitas baru.
Tafsir QS. Al-Hujurat 13: Tahapan Peradaban
Puncak refleksi Gus Muwafiq dalam pertemuan tersebut tertuju pada QS. al-Ḥujurāt: 13, yang menurutnya merupakan grand design dari perjalanan peradaban manusia. Ayat itu tak hanya berbicara soal identitas, tapi juga menunjukkan tahapan-tahapan bertumbuhnya kesadaran manusia dalam menyikapi perbedaan.
“Mula-mula,” katanya, “Gusti Allah dhawuh ‘Yā ayyuhan-nās innā khalaqnākum min dzakarin wa unṡā’. Ini menunjukkan orientasi pertama: manusia dipandang dari fisik: jenis kelamin dan tubuh.” Itu adalah tahap dasar—kodrat biologis. Lalu berkembang ke tahap komunal: “wa ja’alnākum syu’ūban wa qabā’il.” Artinya, manusia kemudian membentuk identitas sosial—suku, bangsa, etnis, kelompok.
Namun Islam tidak berhenti pada semua perbedaan itu. Ada perintah transformatif: li ta’ārafū. “Ini bukan ‘saling mengenal’, tapi ‘saling ngerteni’, ‘pengerten’ atau saling mengerti” tegas Gus Muwafiq. Ngerteni berarti memahami secara mendalam, menumbuhkan rasa empati dan penghargaan atas yang berbeda. Di situlah letak etika ilmu: bukan siapa paling tahu, tetapi siapa paling mampu mengerti.
Dan pada akhirnya, semua tahapan itu bermuara pada satu nilai moral yang menjadi penyaring dari seluruh perbedaan: “Inna akramakum ‘inda Allāhi atqākum.” Ukuran kemuliaan bukan suku, gelar, atau jenis kelamin, tapi ketakwaan.
Penafsiran seperti ini membuka wawasan bahwa Islam sejak awal adalah agama yang menghargai dinamika sosial dan perkembangan ilmu. Dalam ayat ini, Gus Muwafiq membaca ‘ensiklopedi sosial’ yang mengajarkan kepada manusia bagaimana hidup berdampingan tanpa klaim keunggulan.
Peran Santri dan Pesantren dalam Peradaban
Dari paparan panjang itu, satu benang merah yang ditegaskan Gus Muwafiq adalah posisi penting santri dan pesantren dalam melanjutkan peradaban ilmu pengetahuan. Ia menyatakan dengan gamblang: “Nah, ensiklopedis pengetahuan itu ya di pondok pesantren dan di perguruan tinggi.”
Pesantren bukan hanya tempat menghafal kitab, tapi tempat mengkontekstualkan ilmu. Di sinilah santri diajak tidak hanya tahu isi kitab, tapi juga tahu “mengapa” dan “untuk apa” kitab itu lahir. Para santri diajak untuk membayangkan pesantren sebagai ruang interdisipliner: menghubungkan fiqh dengan ekologi, mengaitkan tasawuf dengan psikologi, menjembatani tafsir dengan sosiologi.
Lebih dari itu, santri adalah manusia yang tumbuh dalam ekosistem pengertian. Mereka dilatih untuk sabar, ikhlas, peka, dan memahami. Bukan hanya mengetahui, tapi mengerti. Karena itulah Gus Muwafiq menyebut bahwa santri punya posisi penting—bukan karena pakai sarung dan peci, tapi karena santri adalah interpreter—penafsir aktif dalam arus besar pengetahuan.
Ziyadah Besongo ke Pesantren Minggir tidak hanya mencatat satu kunjungan ilmiah, tapi menorehkan pemahaman baru. Bahwa santri tidak sedang memulai peradaban dari awal, melainkan sedang menyambung titik-titik pemikiran yang telah diwariskan oleh para pendahulu. Bahwa ilmu hari ini adalah hasil dari berjuta “pikiran liyan” yang harus dihormati dan dilanjutkan.
Akhirnya, sebagaimana pesan Gus Muwafiq, santri harus menempuh jalan baru: bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi menambah pengertian. Karena dari ngerteni itu, lahirlah kedamaian. Dan dari damai itu, tumbuhlah peradaban yang mulia.
Share this content:



Post Comment