Imam Taufiq menyampaikan bahwa santri harus punya karakter tawadhu’ (rendah hati) dan menyemai kasih sayang. Pesan ini disampaikan dalam pembukaan Muhadlarah ‘Ammah (Studium General) pesantren asuhannya pada Sabtu (8/2/2025). Beliau mengutip Surah al-Furqon ayat 63.
وَعِبادُ الرَّحْمنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْناً وَإِذا خاطَبَهُمُ الْجاهِلُونَ قالُوا سَلاماً (٦٣)
“Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati. Dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan salam.”
“Sosok (santri) sebagai hamba Allah -Yang Maha Pengasih- adalah yang punya karakter santun, yakni andaikan ia melangkahkan kakinya di muka bumi, beraktifitas sehari-hari, belajar dan berinterkasi, itu dengan tawadhu’ ‘haunan’. Dan jika berdiskusi, bermuamalah dengan siapapun, apalagi dengan orang-orang yang tidak mengerti, tentu dengan tetap menyampaikan nuansa yang menyenangkan.” Imam Taufiq
Pertama, seorang santri adalah hamba Allah yang berjalan di atas bumi dengan –hawnan- tawadhu’ atau rendah hati. Maksudnya, karakter santri memiliki jiwa yang apa adanya, sederhana bukan banyak drama.
Mengutip dari Imam al-Khōzin dalam Lubābut-Ta’wīl fī Ma’ānit-Tanzīl, ‘haunan’ berarti berjalan -besosial sesama manusia- dengan tenang dan bermartabat, rendah hati, tidak jahat, tidak hura-hura, tidak sombong, tetapi cendekiawan nan bijaksana.
Islam memang sejak awal adalah tentang akhlak. Nabi Muhammad dalam sabdanya, dhawuh: “Siapa yang tawadhu’ karena Allah, maka Allah akan mengangkat (derajat)nya.”
Kedua, seorang santri -sebagai hamba Allah yang Maha Pengasih- adalah mereka yang ‘qōlū salāmā’. Ialah perkataan yang menyenangkan lawan bicara, membuat nyaman dan tidak menyakiti ataupun menghina. Bahkan sekalipun berhadapan dengan orang yang ‘jahil’.
Menurut Imam Taufiq, dua karakter ini adalah akhlak Islam yang sejak awal ingin dihidupkan bagi para santri Besongo. Sehingga, muatan kajian pembelajaran dan pelatihan adalah seputar membangun karakter santri yang berakhlakul karimah.
“Karakter santri yang ibādurrahmān (QS. al-Furqon: 63) itu sebenarnya prototype (rancangan awal) profil santri yang kita harapkan,” tambah Abah Imam.
Namun, bagaimana karakter santri ini melintasi modernitas?
Pesantren dan Tantangan Modernitas
Santri memiliki karakter Islami yang khas, seperti ketaatan beribadah, kedisiplinan, dan akhlak mulia. Karakter ini terbentuk dari pendidikan yang menekankan pada pemahaman mendalam terhadap ajaran Islam dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Belakangan, santri berhadapan dengan tantangan modern yang kompleks, seperti globalisasi, perkembangan teknologi, dan perubahan sosial budaya. Tantangan-tantangan ini bisa saja mengikis nilai-nilai tradisional yang telah tertanam dalam diri santri.
Pesantren kemudian melakukan adaptasi tanpa mengorbankan nilai-nilai dasar atau prinsipnya. Salah satu langkahnya adalah mengintegrasikan teknologi dalam proses pembelajaran, seperti memanfaatkan platform pembelajaran daring dan sumber daya digital lainnya. Selain itu, beberapa pesantren telah mengembangkan kurikulum yang tidak hanya fokus pada ilmu agama, tetapi juga mencakup pengetahuan umum dan keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan zaman (Krisdiyanto, et al., 2019), termasuk Pesantren Darul Falah Besongo Semarang.
Peran pengasuh sebagai pemimpin pesantren menjadi sangat krusial dalam menjembatani antara tradisi dan modernitas. Pengasuh berusaha untuk mampu mengidentifikasi tantangan dan merumuskan strategi yang tepat untuk mengatasinya. Dengan bimbingan yang tepat, santri dapat mempertahankan karakter Islami mereka sembari beradaptasi dengan perkembangan zaman, sehingga mampu berkontribusi positif dalam masyarakat modern.
Pesantren memiliki peran vital dalam menjaga tradisi keislaman di tengah arus modernitas, di mana fleksibilitas dan kemampuan pesantren dalam beradaptasi dengan perubahan zaman menjadi kunci untuk mempertahankan relevansi pendidikan Islam tanpa kehilangan akar tradisionalnya.
Rendah Hati dan Sopan Santun vs Arogansi
Kondisi hari ini menarik orang untuk berkompetisi, nilai-nilai seperti tawadhu’ dan sopan santun kerap dianggap kurang relevan dan tergeser oleh sikap arogan yang cenderung lebih vokal dan dominan. Mungkin Anda pernah melihat video yang viral di medsos, oknum yang memaki-maki orang yang ada di dalam mobil, sampai menendang pintu mobil. Padahal oknum tersebut yang sebenarnya salah. Nah arogansi ini sering kali karena keinginan untuk mendapatkan pengakuan atau membangun citra diri yang kuat.
Namun, jarang orang menyadari bahwa arogansi justru menciptakan jarak dengan orang lain. Ketika seseorang terlalu membanggakan dirinya sendiri, mereka kehilangan kesempatan untuk belajar dari orang lain dan membangun hubungan yang lebih tulus. Akibatnya, meskipun tampak percaya diri, orang yang arogan sering kali justru merasa sulit mendapatkan dukungan yang tulus.
Hidup di Zaman Edan -kata Ronggowarsito- banyak yang salah mengartikan bahwa rendah hati sebagai kelemahan dan arogansi sebagai tanda kekuatan. Padahal, orang yang benar-benar percaya diri tidak perlu membuktikan kehebatannya secara berlebihan. Rendah hati bukan berarti tidak menyadari kemampuan diri, tetapi lebih kepada kesediaan untuk tetap belajar dan menghargai orang lain.
Begitu pula dengan sopan santun—bersikap baik dan menghormati orang lain bukan berarti tidak bisa tegas atau berprinsip. Justru, seseorang yang memiliki ketegasan tanpa kehilangan sopan santunnya akan lebih dihormati dan dihargai oleh lingkungan sekitarnya.
Hari ini, dunia seolah tanpa batas, setiap orang seperti bebas berekspresi. Maka, memilih untuk tetap rendah hati dan sopan santun adalah keputusan yang bijak. Mengapa? Keberhasilan dan pencapaian akan terasa lebih bermakna ketika kita bisa merayakannya tanpa merendahkan orang lain. Sebaliknya, arogansi mungkin bisa membuat seseorang terlihat menonjol untuk sementara waktu, tetapi pada akhirnya, mereka akan kehilangan kepercayaan dan respek dari orang-orang di sekitarnya.
“Jika seorang santri harus memilih, maka jadilah pribadi yang kuat (ilmu dan amalnya) namun tetap menghargai orang lain dengan kesantunan dan kerendahan hati.”
Share this content:



Post Comment