Ramai Cek Khodam, Ini Pesan Nabi untuk Umat Islam

cek khodam

Ramai cek khodam di beranda media sosial nitizen Indonesia, khususnya di platform Tik Tok. Cek khodam yang muncul di FYP (for your page) adalah fenomea live streaming pengguna Tik Tok yang biasanya muncul dini hari. Host akun memberi jasa informasi tentang khodam yang melekat di badan para penontonnya. Silvi rawa rontek ya, Anton Cendrawasih emas, Budi kosong, Siti Nyi Blorong. Begitu informasi yang disampaikan host dari live cek khodam.

Khodam sering dimaknai sebagai kekuatan magis yang ada dalam diri seseorang baik disadari atau tidak. Konon, energi magis dalam khodam kerap menjadi salah satu kekuatan namun terkadang juga menjadi petaka bagi pemiliknya. Adapun secara bahasa, khodam berasal dari bahasa Arab (خدَمَ – يَخدُم) yang artinya melayani (service), kalau pelakunya khodim.

Netizen menanggapi fenomena cek khodam dengan berbagai respons. Ada gim cek khodam, meme seperti, percuma punya khodam tapi gak punya someone to talk, percuma punya khodam tapi bukan aku yang jadi pilihan, dan meme lain yang cukup menghibur. Penulis menambahkan;

Percuma punya khodam tapi gak…

أَفْشُوا السَّلَامْ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامْ، وَصِلُوا الْأَرْحَامْ، وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامْ، تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامْ

(al-Hadis) Lihat dalam at-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dan ad-Darimi

Apa makna hadis Nabi di atas? Bagaimana hubungan kandungan makna hadis dengan fenomena cek khodam yang lagi laris? Ulasan penulis berikut adalah cocoklogi yang mungkin cukup bermanfaat untuk Anda.

Baca juga: Catur Piwulang: Kontekstualisasi Hadis Genuine Sunan Drajat

Cek Khodam dan Asbabul Wurud Hadis

Hadis tersebut muncul ketika Nabi Muhammad Saw. menyampaikan kepada penduduk Yatsrib (sekarang Madinah). Kisahnya berasal dari Abdullah bin Salam dan penduduk Madinah yang sudah berkumpul untuk menyambut kedatangan Nabi. Ketika tiba, mereka berkata, “Nabi telah datang..” hingga tiga kali. Abdullah bin Salam melihat wajah sejuk nan menyejukkan Sang Baginda dan melaporkan di mana Nabi menyampaikan pesan sebagaimana hadis di atas.

Hadis tersebut mengandung empat pesan: Afsyus salām (tebarlah salam-kedamaian); ath’imuth tha’ām (berilah makan); silul arhām (sambunglah persaudaraan); dan shollū bil laili wannāsu niyām (salatlah di malam hari kala manusia lelap tertidur).

Kalau boleh membayangkan kondisi munculnya hadis tersebut, kaum Anshor sangat ingin menjadi khodamnya Nabi. Riwayat menyebutkan kala Nabi tiba di Madinah, banyak penduduk yang menawarkan rumahnya untuk menjadi tempat singgah Nabi. Namun Nabi mengikuti petunjuk untanya ke mana ia pergi dan berhenti. Hingga akhirnya unta berhenti dan berlutut di depan rumah Abu Ayyub al-Anshari.

Sekilas gambaran penyambutan kaum Anshor kepada Nabi Muhammad adalah bentuk pelayanan (khidmah). Mereka ingin menjadi khōdimunnabi (pelayannya Nabi). Logis, karena Muhammad Saw. adalah sosok manusia sempurna pilihan Allah, penebar rahmat untuk umat.

Tapi Nabi bukan pribadi yang ingin dilayani bak raja di istana. Justru Nabi adalah manusia yang sederhana dan mudah bergaul kepada sesama tanpa pandang latar belakang sosial umatnya. Sehingga begitu datang di Madinah, Nabi tidak menginstruksi untuk diberikan pelayanan kelas premium, malah memberikan empat pesan di atas. Seolah-olah Nabi ingin mengatakan, “umatku, tak perlu berlebihan kepadaku. Aku tak meminta itu semua. Tapi mari membangun peradaban yang damai, menjadi hamba yang perhatian kepada sesama, teguhkan keimanan dan rasa sosial kita.”

Konsep khidmah semacam ini sampai pada tradisi pesantren. Para santri biasanya melakukan berbagai pengkhidmahan untuk mendapatkan keberkahan. Lalu penyematan khōdimul ma’had untuk para pengasuh pesantren, misalnya. Iya, para pengasuh biasanya menyebut dirinya sebagai pelayan karena mereka yang melakukan service pelayan untuk para pejuang ilmu.

Cek Khodam dari Empat Pesan Nabi

Fenomena cek khodam yang ramai di tengah nitizen Indonesia, memang menjadi salah satu hiburan tersendiri. Penulis tidak ingin memperdebatkan validitas para akun yang membuka jasa cek khodam, termasuk di kehidupan nyata. Di sini, dengan menghubungkan satu hadis Nabi di atas dan makna khodam, perlu kiranya merefleksikan tentang ‘diri’ yang menjadi pelayan.

Pertama, cek khodam yang ramai di tengah malam dan Hadis Nabi juga menyinggung salat malam. Ada dua waktu yang sama. Pesan Nabi di atas, dapat menjadi pepeling bagi kita tentang khidmah -menjadi pelayan-hamba ‘di tengah malam’ meski tanpa di lihat manusia lain.

Kedua, khodam yang dimaknai sebagai pelayan. Nabi juga mengisyaratkan bahwa sesama manusia perlu membangun art of service (seni pelayanan) dan act of service (tindakan pelayanan). Menebar salam – kedamaian, saling memberi dan berempati -apalagi pada kelompok lemah- menjalin tali persaudaraan adalah bentuk konkret kita menjadi pelayan umat.

Di lain hadis, sekian banyak Nabi menyampaikan karakter muslim sejati. Misalnya memberi rasa aman, menghindari tangan dan lisan dari menyakiti, menghindari kenyang sementara tetangga kelaparan, berperilaku mulia, dan yang lainnya.

Dengan demikian, fenomena cek khodam boleh kita maknai sebagai mencari art of service yang ada dalam ‘diri’ bukan eksistensi lain -di luar diri- seperti Nyi Blorong dan kawan-kawannya. Cek Khodam mengarah ke dalam diri, ke jiwa, ke nurani kita. Cek khodam berarti menghitung, apakah kita sudah menjadi pelayan umat. Lebih lagi, memberi prioritas kepentingan dan kemaslahatan umat dari kepentingan pribadi.

Share this content:

Post Comment