Catur piwulang (empat ajaran) merupakan salah satu ajaran dasar dari pepali pitu (tujuh ajaran dasar) dari Sunan Drajat. Pembaca akan menemukan teks Catur Piwulang di papan kayu ketika ziarah ke makam Sunan Drajat di Paciran, Lamongan. Berikut isinya:
Wenehono teken marang wong kang wuto
Wenehono pangan marang wong kang keluwen
Wenehono payung marang wong kang kaudanan
Wenehono sandang marang wong kang kawudan
Catur Piwulang – Sunan Drajat
Artinya: Berikanlah tongkat kepada orang yang buta; berikanlah makanan kepada orang yang kelaparan; berikanlah payung (tempat berteduh) kepada orang yang kehujanan; berikanlah pakaian kepada orang yang tak berpakaian.
Redaksi di atas merupakan versi yang tertulis di papan kayu komplek makam Sunan Drajat. Agus Sunyoto (2017: 310) mengutipnya dengan versi yang sedikit berbeda.
Ulasan Catur Piwulang cukup banyak pembaca temui di berbagai artikel, baik popular maupun ilmiah. Oleh karenanya, penulis mengulas dengan sudut pandang berbeda. Di sini pembaca akan menemukan pemaknaan Sunan Drajat atas hadis-hadis Nabi Muhammad. Lalu kontekstualisasi makna Catur Piwulang dengan kearifan lokal yang mengitari Sunan Drajat.
Sekilas Tentang Sunan Drajat
Sunan Drajat atau Raden Qosim lahir kisaran 1470 M, putra dari Sunan Ampel dan Nyi Ageng Manila. Raden Qosim adalah adik dari Nyai Patimah/Gede Panyuran, Nyai Wilis/Nyai Pengulu, Nyai Taluki/Nyai Gede Maloka, dan Raden Mahdum Ibrahim alias Sunan Bonang (Sunyoto 2017:303–4). Beliau berasal dari keluarga berdarah biru namun bersikap sederhana.
Ketika penulis silaturahmi ke Pesantren Sunan Drajat Lamongan (satu-satunya pesantren peninggalan Walisongo), Gus Hasbullah Arif sedikit menceritakan kondisi penduduk Banjaranyar yang masih Hindu. Singkatnya, seorang ulama hendak dakwah dan datang ke pesisir Banjaranyar dengan naik perahu. Nahas, ulama ini tertimpa musibah dan terdampar di tepi pantai.
Kemudian ia ditemukan oleh Mayang Madu yang kala itu masih beragama Hindu. Mbah Banjaranyar akhirnya selamat. Selang beberapa waktu, ia mengajak Mbah Mayang Madu untuk masuk Islam. Alhasil, Mbah Mayang Madu muallaf dan mendapat nama Sunan Jalak hingga mendirikan langgar (mushola) di daerah Jalak.
Dakwah kedua tokoh ini semakin berkembang dan mengharuskan keduanya sowan ke Sunan Ampel untuk meminta utusan pendakwah di daerah Banjaranyar. Singkat kisah, Sunan Drajat yang mendapat utusan. Dakwah Islam pun berkembang di tangan Sunan Drajat selama 36 tahun. Hingga beliau menghabiskan sisa hidupnya untuk mengajarkan Islam di Ndalem Duwur. Beliau wafat sekitar tahun 1522 M dan dimakamkan di perbukitan Drajat, Paciran, Lamongan.
Buku The Living Walisongo (2017: 201) mengungkap bahwa konsep dakwah Sunan Drajat cukup luwes. Beliau lebih dulu memerhatikan kesejahteraan masyarakat sekitar. Hal ini untuk menarik perhatian masyarakat terhadap ajarannya. Beliau juga banyak memberikan perhatian kepada kaum papa (mustadh’afin), seperti falsafah Catur Piwulang di atas. Sunan Drajat juga kreatif dengan tembang Pangkurnya yang memuat spirit Islam.
Baca juga: Sunan Ampel, Kiai Sya’roni Ahmadi, dan Kerukunan Umat Beragama
Catur Piwulang: Sedikit Sosioanalisa terhadap Sunan Drajat
Catur Piwulang dalam pembacaan penulis merupakan hasil genuine dari Raden Qosim terhadap hadis-hadis Nabi Muhammad Saw. Raden Qosim melihat kondisi sosial-ekonomi masyarakat sekitarnya yang masih kelas menengah ke bawah. Sehingga beliau banyak menyentuh pada aspek ini.
Literasi masyarakat kala itu juga belum mapan. Jangankan bahasa Arab dan mengenal kitab hadis, sekadar untuk baca tulis saja masih rendah. Sehingga tidak mungkin kalau dakwah dengan metode sorogan kitab.
Meminjam sosiologi pengetahuan dari Karl Mannheim (1929), bahwa tindakan manusia dibentuk oleh dua dimensi yaitu perilaku (behaviour) dan makna (meaning). Oleh karena itu, ketika memahami tindakan sosial, harus mendalami dan mengkaji perilaku eksternal dan makna perilaku (Anita, dkk., 2023). Konteks sosial di era Sunan Drajat adalah keterbelakangan moral dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari masyarakat.
Gus Hasbullah dalam lanjutan ceritanya mengatakan masyarakat Drajat banyak melakukan perbuatan melanggar syariat Islam, kriminal, dan pengangguran. Alhasil, Sunan Drajat berusaha mengentaskan kondisi tersebut dengan mengupayakan kesejahteraan sosial-ekonomi masyarakat.
Wenehono teken marang wong kang wuto
Catur Piwulang dapat dimaknai secara leksikal seperti di awal tulisan. Namun juga perlu melihat takwilnya dan seperti apa kontekstualisasi hadis ala Sunan Drajat?
Memberi tongkat kepada orang buta boleh jadi memberikan petunjuk ke jalan kebenaran. Orang-orang ketika itu masih dalam kegelapan sehingga perlu penerangan. Namun bijaksana dan santunnya Sunan Drajat, memberikan simbol dengan tongkat dan orang buta. Sebuah hadis menyebutkan:
أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا…الحديث (رواه مسلم)
Rasulullah Saw. bersabda: “Barang siapa mengajak kepada petunjuk (amal baik), maka ia mendapatkan pahala sama seperti pahalanya orang yang mengikutinya. Tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang melakukannya.”
Wenehono pangan marang wong kang keluwen ~ Wenehono sandang marang wong kang kawudan
Memberi makanan secara langsung, sebagaimana hadis Nabi berikut:
مَنْ أَطْعَمَ مُؤْمِنًا حَتَّى يُشْبِعَهُ مِنْ سَغَبٍ أَدْخَلَهُ اللهُ بَابًا مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ لَا يَدْخُلُهُ ٳِلَّا مَنْ كَانَ مِثْلَهُ.
“Siapa memberikan makan orang mu’min sehingga dia kenyang dari kelaparannya, maka Allah swt akan memasukkannya ke satu pintu dari pintu-pintunya surga…” (HR. at-Thabrani)
Karena kondisi sosial-masyarakat masih banyak yang tuna karya, Sunan Drajat menggunakan Catur Piwulang sebagai pemaknaan atas hadis (dan Alquran) agar lebih mudah bagi masyarakat memahami dakwahnya.
Selain makanan lahir, makanan batin juga dibutuhkan dalam konteks dakwah Islam. Makanan batin artinya tentang spiritualitas dan moral mad’u (objek dakwah) dari Sunan Drajat. Adapun pakaian batin seperti dalam pepali pitu Sunan Drajat lain, “jroning suka kudu eling lan waspada” (dalam suka cita harus ingat dan waspada). Eling lan waspada sering berkonotasi dengan makna takwa. Alquran menyebutkan:
يَا بَنِيْٓ اٰدَمَ قَدْ اَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُّوَارِيْ سَوْءٰتِكُمْ وَرِيْشًاۗ وَلِبَاسُ التَّقْوٰى ذٰلِكَ خَيْرٌۗ ذٰلِكَ مِنْ اٰيٰتِ اللّٰهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُوْنَ
Wahai anak cucu Adam, sungguh Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan bulu (sebagai bahan pakaian untuk menghias diri). (Akan tetapi,) pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu merupakan sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Allah agar mereka selalu ingat (QS. al-A’raf: 26).
Wenehono payung marang wong kang kaudanan
Memberikan payung dapat bermakna memberikan tempat keteduhan, keamanan dan kenyamanan bagi masyarakat terutama kepada yang sangat membutuhkan. Ajaran ini memuat tentang berbuat baik terhadap sesama.
Semua ajaran Nabi adalah tentang ihsan (kebaikan) yang merahmati seluruh alam dan termuat dalam banyak hadis. Seperti di antaranya:
المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
“Seorang Muslim adalah orang yang sanggup menjamin keselamatan orang-orang Muslim lainnya dari gangguan lisan dan tangannya.” [HR Bukhari]
Bentuk kejeniusan Sunan Drajat selain membaca fenomena dan gejala di tengah masyarakat, juga dalam memberikan makna terhadap hadis. Menurut penulis makna lafaz salima (keselamatan-kenyamanan) dan yad (tangan) dalam terramu di dalam Catur Piwulang adalah dengan memberikan keteduhan (pengiyupan) dari guyuran hujan. Di mana payung yang diberikan adalah bentuk perbuatan secara langsung.
Akhirnya, kearifan dan orisinalitas Sunan Drajat dalam konsep dakwah Islam tidaklah kaku. Justru, beliau hadir dengan kontekstualisasi sekaligus living terhadap hadis-hadis Nabi Muhammad Saw. Beragama dengan membaca zaman seperti Sunan Drajat pada hari ini yang perlu direvitalisasi. Sehingga, wajah Islam yang rahmatan lil ‘alamin akan tetap lestari. Merahmati, santun, namun juga cerdas bin orisinil.
Share this content:



Post Comment