Umat Islam pernah berdiri di puncak peradaban dunia. Ketika Barat masih berkutat dalam zaman kegelapan, ilmuwan-ilmuwan Muslim seperti Ibnu Sina dan Al-Khawarizmi menulis kitab yang menjadi rujukan dunia. Tapi kini, keadaan berbalik: umat Islam tertinggal, bahkan dalam mengelola sumber dayanya sendiri. Di mana letak kesalahan kita? Dan bisakah kita kembali berjaya?
Kita tentu sudah sering mendengar kisah betapa hebatnya peradaban Islam di masa lalu. Pada abad ke-7 hingga ke-13, dunia Islam bukan hanya menjadi pusat spiritual, tetapi juga pusat ilmu pengetahuan global. Sosok seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, dan Ibnu Rusyd bukan hanya simbol kejayaan masa lalu, tapi juga bukti bahwa integrasi antara ilmu agama dan ilmu dunia adalah keniscayaan dalam Islam.
Ibnu Sina, misalnya, tak hanya dikenal sebagai bapak kedokteran dunia, tetapi juga ahli filsafat, logika, matematika, dan bahkan sufisme. Kitab al-Qanun fi al-Tibb menjadi buku teks medis di Eropa selama lima abad. Al-Khawarizmi, penemu konsep algoritma, meletakkan dasar matematika modern. Ibnu Rusyd, melalui komentarnya atas Aristoteles, menjadi jembatan penting bagi lahirnya Renaisans Eropa.
Yang istimewa dari semua itu adalah, tidak ada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Para ulama saat itu adalah ilmuwan, dan ilmuwan adalah ulama. Mereka menjadikan ilmu sebagai bagian dari ibadah.
Ironi Umat Islam Masa Kini
Namun kini, kita menghadapi kenyataan yang kontras. Dunia Barat yang dulu belajar dari khazanah Islam kini menjadi pemimpin dalam sains dan teknologi. Sedangkan dunia Islam justru tertinggal. Global Innovation Index 2023 menunjukkan bahwa sebagian besar negara Muslim, termasuk Indonesia, masih berada di peringkat bawah dalam hal riset, publikasi ilmiah, dan inovasi teknologi. Akibatnya, umat Islam kehilangan arah dalam menguasai sains dan teknologi.
Salah satu akar masalahnya adalah dikotomi antara ilmu agama dan ilmu dunia. Banyak lembaga pendidikan Islam — termasuk pesantren — masih memandang sains sebagai sesuatu yang terpisah dari nilai-nilai keislaman. Ilmu agama dianggap lebih mulia, sementara ilmu umum dianggap “sekuler” dan kurang penting. Padahal, para ulama terdahulu membuktikan bahwa ilmu dunia justru bisa menjadi sarana mendekat kepada Allah, bukan sebaliknya.
Ibnu Khaldun dalam karya monumentalnya, Muqaddimah, secara eksplisit menolak dikotomi antara ilmu agama dan ilmu dunia. Ia mengklasifikasikan ilmu ke dalam dua jenis: ilmu naqliyah (yang bersumber dari wahyu seperti tafsir, hadis, dan fiqih) dan ilmu aqliyah (rasional seperti matematika, logika, kedokteran, dan astronomi). Namun, klasifikasi ini tidak untuk membeda-bedakan derajat, melainkan untuk menunjukkan sumbernya.
Dalam Muqaddimah, ia menulis, “Ilmu logika adalah alat dalam ilmu agama, ia berfungsi menjaga akal dari kesalahan berpikir.” Ia juga menegaskan bahwa ilmu-ilmu rasional adalah bagian dari kebutuhan manusia untuk berpikir dan memahami. Menurutnya, peradaban hanya akan maju apabila umat Islam menguasai kedua cabang ilmu tersebut secara bersamaan.
Merajut Kembali Tradisi Ilmiah: Dari Timur Tengah ke Tanah Jawa
Untuk menyatukan kembali semangat keilmuan seperti era keemasan Islam, kita butuh teladan masa lalu dan masa kini yang membumi di tengah masyarakat. Salah satu sosok luar biasa masa kini adalah Syekh Yusri al-Hasani — ulama besar asal Mesir yang juga seorang dokter spesialis bedah saraf.
Ketika menjadi mahasiswa kedokteran, Syekh Yusri hampir berhenti kuliah karena ingin fokus belajar agama. Namun gurunya, Syekh Al-Ghumari, berkata bijak:
“Di mana saja Allah menempatkanmu, di situlah engkau dapat beribadah kepada Allah. Buatlah hal itu dengan baik. Itulah pilihan Allah buatmu.”
Kata-kata itu menyadarkan Syekh Yusri bahwa kedokteran pun bisa menjadi ladang ibadah. Ia melanjutkan kuliahnya, dan kini dikenal sebagai ulama sekaligus dokter yang melayani umat.
Lebih jauh ke belakang, tradisi ulama sekaligus ilmuwan juga hidup di Nusantara, khususnya dalam sosok para Walisongo. Sunan Giri, misalnya, pendiri Pesantren Giri Kedaton yang tidak hanya mengajarkan agama, tapi juga mendidik para murid menjadi negarawan dan ahli strategi. Giri menjadi pusat intelektual sekaligus pusat politik Islam di Jawa saat itu. Sunan Giri juga dikenal sebagai tokoh yang merancang kurikulum pendidikan Islam berbasis maritim dan geopolitik, relevan dengan konteks Nusantara.
Menurut sejarawan Agus Sunyoto dalam bukunya Atlas Wali Songo, para wali ini bukan hanya ahli fikih, tapi juga menguasai politik, ekonomi, pendidikan, bahkan teknologi maritim. Mereka sejatinya adalah “ilmuwan dalam balutan ulama”, yang menyatu dengan masyarakat dan membawa perubahan lewat ilmu.
Hari ini, semangat integrasi iman dan ilmu juga bisa kita temui. Salah satunya di Pesantren Darul Falah Besongo, Semarang, yang menjadi contoh pesantren yang tidak anti ilmu umum. Para santrinya adalah mahasiswa dari berbagai jurusan — mulai dari psikologi, gizi, sains, arsitektur, ekonomi hingga pendidikan. Pesantren ini membentuk lingkungan belajar yang inklusif dan kolaboratif, di mana santri tetap mendalami ilmu keislaman seperti nahwu, fiqh, dan tasawuf, namun juga aktif mengikuti perkembangan akademik dan sosial masyarakat.
Model seperti ini sangat penting, karena menunjukkan bahwa santri bisa dan harus menjadi bagian dari kemajuan bangsa, bukan justru tertinggal. Mereka bisa menjadi dokter, insinyur, psikolog, atau bahkan peneliti dan inovator — tanpa meninggalkan identitas keislaman mereka.
Menyulam Harapan Baru
Kebangkitan Islam tidak akan datang hanya dengan romantisme masa lalu. Kita butuh aksi nyata, teladan hidup, dan keberanian untuk berubah. Dunia pesantren dan pendidikan Islam harus menjadi garda depan dalam menyiapkan generasi baru: yang hafal kitab, tapi juga paham sains; yang fasih berbahasa Arab, tapi juga mampu menulis jurnal ilmiah internasional; yang tawadhu’ dalam akhlak, tapi progresif dalam pemikiran.
Jika Syekh Yusri bisa menjadi dokter bedah saraf sekaligus ulama besar dan Walisongo mampu membumikan Islam sambil menjadi ilmuwan dan pemimpin masyarakat, maka santri pun juga bisa memadukan agama dengan berbagai disiplin ilmu modern. Maka bukan hal yang mustahil masa depan Islam cerah kembali.
Share this content:



Post Comment