Isra Mikraj Nabi Muhammad Saw. masyhur dalam pengetahuan seluruh muslim, adalah tentang perjalanan spiritual. Sampai hari ini, teknologi paling mutakhir sekalipun masih kesulitan menjabarkan secara sains. Paling banter, menurut Thomas Djamaluddin, Profesor Riset Astronomi-Astrofisika Pusat Riset Antariksa, Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA), BRIN, perjalanan tersebut di luar batas ruang dan waktu.
Penting untuk mengulas kembali beberapa cuplikan yang terjadi selama Nabi Saw. sowan hingga sampai di puncak segala puncak, Sidratul Muntaha dan Baitul Makmur, menghadap Sang Kekasih, Allah SWT. Ulasan ihwal Isra Mikraj ini yang akan mengantarkan pada pesan moral kepemimpinan profetik di akhir tulisan.
Sekilas Kisah Isra Mikraj
Pertama, Sebelum Nabi Saw. bersama Malaikat Jibril healing, terlebih dulu dibersihkan qalbunya dari berbagai sifat tercela. Analogi yang sama dengan kita kalau mau shalat – sowan kepada Allah- pun harus suci lahir batin. Kemudian Nabi Saw. melakukan perjalanan malam dari Masjidilharam sampai Masjidilaqsa yang hanya saklebatan dengan teknologi Buraq. Kereta cepat baru Indonesia tidak ada apa-apanya, meski namanya Whoosh. Setibanya di Baitul Maqdis, Nabi shalat dua rakaat. Perjalanan ini yang kemudian disebut Isra.
Kedua, Mikraj Nabi. Setelah minum susu -dari opsi lainnya yakni madu dan arak- Nabi mikraj (naik) menuju langit bersama dengan Jibril a.s. dan Buraqnya. Singkat cerita, Nabi Saw. bertemu dengan para Nabi lain dan saling uluk salam. Ada Nabi Adam, a.s., Nabi Isa a.s. dan Nabi Yahya a.s., Nabi Yusuf a.s., Nabi Idris a.s., Nabi Harun a.s., Nabi Musa a.s., dan Nabi Ibrahim a.s.
Sepanjang perjalanan mulia ini, Nabi Saw. melihat gambaran umatnya baik yang bahagia maupun sengsara. Syaikh Najmuddin al-Ghaiti dalam Dardir Mi’rāj mengatakan ada 11 golongan yang diperlihatkan. Dari gambaran golongan yang tersiksa, Nabi Saw. merasa sangat iba. Perasaan tersayat dan teringat umatnya.
Syahdan, akhirnya Nabi sowan di hadapan Allah dan mendapat perintah shalat 50 waktu dalam sehari. Dalam riwayat hadis, Nabi Saw. turun dan bertemu dengan Nabi Musa yang usul untuk meminta keringanan. Ujung dari naik turunnya Nabi Muhammad sampai pada perintah shalat 5 waktu. Sampai-sampai Nabi Saw. merasa malu kepada-Nya.
Memang benar semua dari skenario Allah, tetapi kalau boleh memvisualisasikan, Nabi tentu mendayagunakan nalar berpikirnya ketika mendengar usul Musa a.s. Misalnya, “benar juga kata Musa a.s., apakah umatku akan sanggup?” Benak Kanjeng Nabi ini bukan sedang meremehkan, melainkan sifat welas asih-merahmati. Namun kalau terus-terusan minta diskon, “lah wong ini perintah Allah, kok menawar.” Ini sifat patuh dan dengan siapa sedang menghadap. Di pesantren misalnya, para santri pun akan sendhika dhawuh ke kiainya, bukan?
Pesan Mikraj: Ego dan Empati Nabi
Kebetulan dalam waktu dekat ini, Indonesia akan menggelar pesta demokrasi. Apa saja makna peristiwa Isra Mikraj Nabi Saw. yang relevan dengan karakter pemimpin ideal?
Pertama, tentang ego, yang selanjutnya oleh Muhammad Iqbal (1983: xxi) disebut sebagai khudi (self/diri). Ego merupakan suatu kesatuan yang riil, mantap dan tandas, menjadi pusat dan landasan dari keseluruhan organisasi kehidupan manusia. Ego di sini sama sekali tidak menunjukkan pada nafsu. Lebih lanjut, menurut Iqbal, ego berarti pikiran (mind) dan kesadaran (consciousness). Sebab di mana ada pikiran dan kesadaran, di situlah ada kehidupan.
Ketika Nabi sampai pada takhta tertinggi menghadap Allah, ego (diri) Nabi mencapai paripurna (Insan Kamil). Sehingga, ia rela untuk kembali turun ke bumi. Kalau-kalau arti ego seperti dalam lisan kita (egoisme), Nabi tentu tidak mau turun. Lah gimana, wong amat mesra dan dekatnya dengan Allah? Anak muda saja kalau pacaran tidak mau diganggu.
Poin ‘kesadaran’ yang kemudian menjadi penting bagi para pemimpin. Bahwa ada tanggung jawab kepada rakyat melalui ‘kreativitas diri’.
Lanjut Iqbal dalam Asrar-i Khudi (1967: 20), agar khudi dapat berkembang, ciri yang paling awal adalah ‘Isyq-o-muhabat (cinta kasih). ‘Isyq-o-muhabat adalah tentang kemesraan pada-Nya, menggapai ridha-Nya, dengan begitu menghadirkan sifat ilahiah dalam laku hidupnya di tengah masyarakat.
Kedua, tentang empati. Ketika Nabi bertanya pada Jibril tentang golongan yang tersiksa, tak rela rasanya, tak kuat menahan sakitnya. Hal ini memberi pelajaran tentang rasa empati kepada sesama, kepada umatnya. Termasuk pula ketika perintah shalat 50 waktu, ada ego “kesadaran” dan “empati”. Tentu Nabi sanggup kalau 50 waktu. Tapi umatnya? Kita refleksikan sendiri saja.
Dua hal profetik ini yang kemudian kudu tertanam dalam kesadaran sosok pemimpin. Satu jiwa sakit, jiwa lain merasakannya. Satu jiwa tertindas, jiwa lain melindunginya. Melalui empati, pemimpin akan mampu memahami yang dirasakan rakyatnya. Selain itu, akan memberikan respons yang tepat dalam segala kondisi.
Surah at-Taubah: 128 menyebutkan;
لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.
Share this content:



Post Comment