Tawaduk itu Moderat

Tawaduk atau rendah hati merupakan cerminan kepribadian mulia dalam diri seseorang. Tawaduk sendiri adalah suatu sikap seseorang yang melihat segala sesuatu adalah karunia Allah. Ia tidak mengklaim bahwa dirinya lebih baik atau lebih mulia dari orang lain. Pun tidak menganggap rendah, tidak menghinakan diri sendiri.

Sifat tawaduk berada dalam poros tengah antara dua sifat yang ekstrem menurut syariat yaitu sombong dan rendah diri. Sehingga, tawaduk merupakan sikap moderat yang ada dalam batin seseorang. Kita bisa melihat di dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim berikut:

وَالتّوَاضُعُ بَيْنَ التَّكَبُّرِ والْمَذَلَّةِ

“Sifat tawaduk itu di antara sifat sombong dan sifat merendahkan diri.”

Kesombongan merupakan suatu keyakinan bahwa sesuatu yang lebih pada dirinya dalam bentuk apapun. Bahkan yang lebih ekstrem lagi merasa yang paling hebat di antara yang lain. Dalam pandangan syariat, secara tegas menolak sifat sombong. Kita tahu bahwa penyebab terjatuhnya iblis dalam kehinaan adalah karena kesombongannya. Iblis merasa bahwa dzat api lebih unggul daripada unsur tanah yang melekat dalam diri seorang Adam. Sehingga, iblis enggan melaksanakan perintah Allah dengan menghormati ciptaan-Nya, yakni Adam.

Muhammad Pir Ali al-Birkawi dalam at-Thariqah al-Muhammadiyyah mengatakan bahwa penyebab dari kesombongan adalah kebodohan dan ketidakmampuan seseorang dalam menerima sesuatu sebagai sebuah pengetahuan. Dan, obat dari kesombongan adalah penyebabnya itu sendiri.

Maksudnya, ilmu pengetahuan seseorang, satu sisi berpotensi menjadikan sombong. Tetapi dengan ilmu dan pengetahuan itu pula dia dapat melepas kesombongan diri. Sifat sombong pula yang membuat seseorang sulit menerima kebenaran yang datang orang lain.

Derajat Naik dengan Tawaduk

Tiada yang pantas memiliki sikap kebesaran diri selain Dzat Allah yang Maha segala Maha, yang menguasai di atas segala kekuasaan. Ketika seorang muslim melafalkan kalimat takbir dalam salat misalnya, tiada ukuran seorang mukmin melainkan teramat kecil. Maka, ketika masih terbesit keangkuhan dan kebesaran pribadinya, berarti dia telah melampaui batas.

Satu kutub yang lain adalah rendah diri yang berujung menghinakan dirinya. Agama juga melarang sifat rendah diri. Karena hal ini bisa mengakibatkan pada kufur nikmat (tidak besyukur atas nikmat dan karunia Allah).

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ تَوَاضَعَ لِلهِ رَفَعَهُ اللهُ وَمَنْ تَكَّبَرَ وَضَعَهُ اللهُ

Nabi Muhammad bersabda, “Siapa yang tawadhu’ karena Allah, maka Allah akan mengangkat (derajat)nya dan siapa yang sombong maka Allah akan merendahkannya.”

Dari pesan Nabi di atas justru manusia yang rendah hati akan diangkat derajatnya. sementara yang merasa tinggi justru Allah akan merendahkannya. Orang Jawa mengatakan, bijaklah dengan ilmu padi. Artinya, semakin berisi semakin rendah hati.

Baca juga: Lima Keutamaan Merantau Menurut Imam Syafi’i

Share this content:

Post Comment