ثُمَّ جَاءَ خَادِمُ مَعْهَدِ الصَّادِقِيَّة * بِتَفْسِيْرِ الْبَيَانِ بِالْبِيْغُوْنِ اللَّاتِيْنِيْ
Kemudian Pengasuh Pesantren as-Shodiqiyyah datang meneruskan, dengan aksara Pegon latin, beliau menulis Tafsir al-Bayan (Bahr al-Thawil).
K.H. Shodiq Hamzah Usman, Pengasuh Pondok Pesantren as-Shodiqiyah, Kaligawe, Semarang resmi menyandang gelar Doctor Honoris Causa (H.C) pada Selasa, (29/11). Gelar kehormatan diberikan oleh UIN Walisongo Semarang pada Fakultas Ushuluddin dan Humaniora bidang Ilmu Tafsir. Salah satu bentuknya berupa magnum opus Mbah Shodiq, kitab Tafsir al-Bayan Fii Ma’rifati Ma’anil Qur’an.
Dalam sambutannya, Rektor UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Imam Taufiq, M.Ag., menyampaikan apresiasi kepada Mbah Shodiq. Menurutnya, Mbah Shodiq merupakan prototipe ulama yang sangat menginspirasi. Selain sebagai sosok murabbi, Kiai Shodiq juga aktif dan entengan di tengah masyarakat.
Orang-orang yang berjumpa dengan Mbah Shodiq akan mengatakan bahwa ia sosok yang tulus apa adanya dan bersahaja. Pengalaman penulis sowan ke K.H. Ahmad Muadz Thohir, Pati dan K.H. Em Najib Hasan, Kudus (26/10) juga menyampaikan hal senada.
“Kang Shodiq ini orang yang tulus akhirnya diberi pertolongan Allah. Kalau gak tulus, ya buyar (berantakan). Nah, saya kenal saat bimbing rombongan haji, Masyaallah. Kok ada orang setelaten itu, tidak malu mengajari jamaah,” kenang Mbah Muadz.
Kiai Najib Hasan juga menyampaikan bahwa Mbah Shodiq orang yang tanpa beban, bersahaja, dan polos. Tambahnya, ia bukan tipe politikus.
“Benar. Mbah Shodiq itu orang yang sangat tulus dan polos. Apa adanya. Orangnya tanpa beban dan ini yang aku suka. Tidak punya kepentingan,” terang Kiai Najib.
Lebih dari itu, Kiai Shodiq sangat produktif dalam tradisi literasi. Mbah Shodiq sudah menulis kurang lebih 37 karya, dengan berbagai nuansa dan dispilin ilmu. Sebagai masterpiece-nya adalah kitab Tafsir al-Bayan, berkat istikamah dan kepakaran Kiai Shodiq dalam ilmu al-Qur’an dan Tafsir.
Baca juga: Sunan Ampel, Kiai Sya’roni Ahmadi, dan Kerukunan Umat Beragama
Gubahan syair di atas merupakan pamungkas sambutan Rektor untuk menunjukkan kelayakan dan genuine-nya sosok Kiai Sat-set, Mbah Shodiq Hamzah. Imam Taufiq melanjutkan syairnya:
مَحَلِّيُّ اللُّغَةِ عَالَمِيُّ الْأُفُقِ * مُطَابِقٌ لِلْعَصْرِ لَا سِيَّمَا الشُّبَّانِ
Tafsir ini berbahasa lokal, namun berwawasan global. Sangat cocok untuk era saat ini, khususnya generasi milenial.
يَا حَبَّذَا شَيْخُنَا مِنْ بِحَارِ الْعُلُوْمِ * وَ حَبَّذَا صَادِقْ حَمْزَةْ مِنْ شَيْخٍ رَبَّانِيْ
Betapa indahnya guru kami yang ilmunya luas dan dalam seperti lautan. Aduhai eloknya Kiai Shodiq Hamzah sebagai seorang kiai panutan.
Ijtihad Literasi: Pegon Latin dan Mengajak Santri
Syair dari Imam Taufiq sekilas menggambarkan wajah Tafsir al-Bayan, yakni dengan menggunakan Bahasa Jawa dan makna Pegon ala pesantren. Uniknya, menggunakan aksara latin. Pilihan semacam ini bukan hal sembarangan. Sehingga menurut Imam Taufiq dalam pengantar kitab Tafsir al-Bayan diistilahkan sebagai ijtihad kitabah (literasi) (Taufiq 2020, vi).
Senada dengan pendapat Imam Taufiq, Islah Gusmian (Gusmian 2022, 10–11) mengatakan, Mbah Shodiq melihat konteks audien dan sejarah sosial masyarakat yang dihadapinya. Mbah Shodiq memang menggelar pengajian kitab tafsir di lingkungan sekitar di depan masyarakat awam.
Obrolan penulis bersama salah satu santrinya, Hasbi pada (18/11), mengatakan kalau kitab Tafsir al-Bayan ditulis dengan metode dikte (imla’i), selama masa pandemi Covid 19.
“Selama pandemi itu, Abah menutup pondok. Nah, kitab al-Bayan ini ditulis di sela-sela ngaji Tafsir Jalalain setelah Subuh. Abah mengajak para santri, ayok cung, gawa buku karo pulpen, ngoten. Lalu menuliskan keterangan-keterangan beliau. Awalnya semua santri menulis. Tapi semakin ke sini tersisa dua-tiga santri. Lalu ditashih oleh beliau, disalin ke dokumen digital. Alhamdulillah selesai 30 Juz,” jelas Hasbi.
Dari kegigihan Mbah Shodiq ini, jelas bahwa beliau adalah sosok inspiratif. Selain mampu membumikan ilmu langit, dalam Istilah Imam Taufiq, juga mengajak para santri untuk giat menulis.
Padahal tren menulis hari ini semakin menurun. Artinya, Mbah Shodiq sangat peduli terhadap masa depan generasi bangsa, apalagi di lingkungan pesantren. Lebih kentara, beliau tetap menggunakan makna pegon pesantren.
Wajah Baru Tafsir al-Qur’an Milenial
Sekilas tentang Tafsir al-Bayan, disajikan berdasarkan urutan mushaf yang biasa dibaca mayoritas muslim, mulai dari Surah al-Fātiḥah sampai Surah al-Nās. Pada bagian ayatnya, ditafsirkan per-kata. Di bagian inilah makna Pegon pesantrennya.
Kitab ini memilih metode ijmali (global), yaitu penafsiran yang ditulis secara lugas dan tidak bertele-tele. Meskipun ringkas, dalam banyak bagian, kitab Tafsir al-Bayan mengungkapkan asbāb an-nuzūl ayat, keutamaan surah dan ayat tertentu, catatan penting atau pepeling (tanbīh), kisah-kisah umat terdahulu, dan pemahaman suatu ayat.
Bentuk penyajiannya dengan mengelompokkan ayat berdasarkan tema-tema yang dipahami oleh penulisnya. Sebagai contoh penjelasan adab berkumpul (bersosial) sesama manusia yang terdapat dalam QS. al-Hujurat[49]: 11-13.
Setelah penjelasan dengan tabel per-kata (letak lafaz di kanan – makna di kiri), Mbah Shodiq menjelaskan setiap sabab an-nuzūl ayat. Lalu Mbah Shodiq memberikan keterangan khusus tujuh poin bersosial yang diberi sub-judul “Adab Kemasyarakatan.”
1) dilarang merendahkan manusia lain, 2) dilarang mencaci-maki baik dengan ucapan ataupun isyarat, 3) dilarang memanggil orang dengan julukan (buruk), 4) dilarang berburuk sangka, 5) dilarang ujas-ujus (membahas cacatnya orang lain), 6) dilarang gibah, 7) dilarang mengunggulkan nasab keturunan, tetapi perintah untuk takwa secara sungguh-sungguh (Usman 2020, 26:90).
Baca juga: Ngaji Pasanan: Merawat Tradisi Menuai Berkah Ilahi
Termasuk menarik untuk diketahui, adab ketika hendak bertamu ke rumah orang lain. Mbah Shodiq menyebutkan bahwa etika kita meminta izin bertamu di rumah orang, kemudian tuan rumah bertanya, ‘Siapa itu?’ aka jawablah dengan nama yang jelas. Jika keterangan yang jelas harus menyebutkan sifat maka, sebutkan sifat khusus (pribadi) kita (Usman 2020, 18:68).
Mbah Shodiq dalam orasinya (29/11) penulisan Tafsir al-Bayan dengan menggunakan bahasa Jawa, Ia mengatakan bahwa meskipun al-Qur’an turun di Arab, tetapi spirit al-Qur’an bersifat universal, untuk siapa saja. Tidak terkecuali bagi orang Jawa dan kalangan pesantren.
Penulis menemukan tema-tema ketauhidan, targīb wa tarhīb, dan kisah-kisah umat nabi terdahulu lebih panjang keterangan tafsirnya. Apakah ini bentuk kecenderungan mushannif, Mbah Shodiq? Jawabannya, mari membaca lebih dalam lagi. Inilah kitab Tafsir al-Qur’an Bahasa Jawa milenial yang layak untuk diapresiasi. Wallahu A’lam.
Share this content:



Post Comment