Mungkin jemaah haji tahun ini pernah menonton serial drama Sun Go Kong atau kera sakti yang melakukan perjalanan ke Barat mencari kitab suci? Walau hanya dongeng, kisah itu membawa pesan bahwa pencarian makna sejati membutuhkan pengorbanan dan keteguhan. Bagi seorang Muslim, perjalanan itu bukan mitos. Ia nyata, agung, dan mulia yakni ibadah haji ke Baitullah. Beberapa hari ini, walimatus-safar sudah banyak kita lihat. Kebetulan, bagi Muslim Indonesia artinya perjalanan ke Barat atau “Journey to the West”.
Namun haji bukan hanya dari tanah Makkah, tetapi jauh sebelumnya dari hati yang berniat untuk memantaskan diri menjadi tamu Allah. Bagi banyak calon jemaah, persiapan ini bukan hanya fisik dan finansial, tapi juga spiritual dan sosial. Menyelesaikan utang, meminta maaf, belajar manasik, memperdalam niat, memperbaiki hubungan keluarga, dan meninggalkan kemaksiatan. Semuanya, bagian dari gerakan menuju suci.
Persiapan juga mencakup kesadaran akan makna perjalanan ini. Haji bukan wisata rohani. Ia adalah ibadah yang menuntut totalitas jiwa dan tubuh. Perlu pembersihan dari harapan duniawi seperti ingin pujian, eksistensi, atau pencapaian status. Allah tak butuh itu. Dia hanya ingin hamba yang datang dalam keadaan rendah hati dan tulus.
Inilah yang kemudian disebutkan dalam al-Qur’an, haji bagi yang mampu
وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا
“Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana.” (Ali Imran: 97)
Sebelum Kaki Melangkah ke Tanah Suci
Berhaji bukan sekadar soal paspor, koper, dan visa. Maka dalam bulan-bulan menjelang keberangkatan, calon jemaah disarankan melakukan evaluasi menyeluruh. Ini saatnya menata hidup. Misalnya, meminta maaf kepada keluarga dan teman, memperbaiki salat, menahan lisan, menjauhi hal yang sia-sia. Bahkan sebagian jemaah menulis wasiat, menyelesaikan urusan dunia, dan memastikan keluarga yang ditinggalkan dalam keadaan baik.
Ini bukan berlebihan. Sebab haji adalah perjalanan agung yang mengingatkan kita pada kematian. Mengenakan ihram seperti mengenakan kain kafan. Tidak mencukur, tidak memotong kuku, tidak memakai wangi-wangian. Semua menunjukkan kita sedang “keluar” dari dunia, menuju hadirat Allah. Maka wajarlah jika seorang yang bersiap haji juga bersiap seolah-olah pulang belum tentu kembali.
Persiapan mental juga penting. Tidak semua hal akan berjalan mulus. Di Tanah Suci, jemaah diuji dengan antrean, kepadatan, cuaca panas, dan mungkin kekurangan fasilitas. Maka, kesabaran adalah bekal utama. Seyogianya, jemaah bukan banyak menuntut kenyamanan, karena ibadah ini bukan tentang pelayanan, tapi tentang penghambaan. Menyiapkan diri untuk lebih banyak mengalah, membantu sesama, dan tidak memperbesar masalah kecil.
Satu hal yang sering terlewat adalah “ilmu”. Banyak jemaah yang berangkat tanpa memahami makna dan urutan ibadah haji. Padahal, berbekal ilmu akan membuat ibadah lebih khusyuk dan benar. Hadiri manasik, baca buku tentang haji, dengarkan ceramah, dan tidak ragu bertanya kepada yang berilmu. Penulis pernah mendengar dari salah satu ustdaz
“haji yang sah belum tentu mabrur; tapi haji yang dijalankan dengan ilmu dan kesungguhan, insyaAllah lebih dekat pada mabrur.”
Dari Rumah Menuju Baitullah
Saat hari keberangkatan tiba, suasana biasanya penuh haru. Keluarga melepas, tetangga mengantar, dan air mata jatuh tanpa diminta. Bukan biasa, ini perjalanan menuju panggilan Allah.
Di perjalanan, tetap menjaga lisan dan adab. Bagi sebagian orang, perjalanan udara, transit, dan pengurusan administratif bisa memancing emosi. Tapi di sinilah letak ujian awal haji. Mampukah untuk tetap sabar dan tenang? Semacam di drama Kera Sakti tadi, banyak rintangan dari internal maupun eksternal.
Setibanya di Tanah Suci, tetaplah rendah hati. Tidak sibuk membandingkan fasilitas atau pelayanan, tapi fokus pada ibadah. Di sana, semua orang datang dengan harapan yang sama, yakni pengampunan.
Selama di Makkah dan Madinah, gunakan waktu sebaik mungkin. Perbanyak salat di masjid, perbanyak zikir, baca Al-Qur’an, dan bersedekah. Hindari debat dan diskusi yang tidak bermanfaat. Kemudian tidak terlalu sibuk dengan kamera, dokumentasi, atau media sosial. Haji adalah saatnya memutus sejenak dari dunia agar saat kembali nanti, kita bisa menghadapinya dengan jiwa yang baru.
Setelah semua ritual selesai, apakah benar telah usai hajinya? Hakikat haji justru terlihat setelah kepulangan. Apakah berubah? Apakah lebih taat, lebih jujur, lebih sabar? Haji bukan sekadar berangkat dan pulang. Ia adalah momentum untuk hidup baru.
Salah satu hadits menerangkan ciri haji mabrur. Kala itu, sahabat bertanya:
يَا رَسُولَ اللهِ، مَا الْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ؟ قال: “إِطْعَامُ الطَّعَامِ، وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ
“Para sahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah, apa itu haji mabrur? Rasulullah menjawab, memberikan makanan dan menebarkan kedamaian”. (Musnah Imam Ahmad)
Hadits di atas mengisyaratkan bahwa sepulang haji berdampak pula pada relasi sosial mereka. Boleh jadi semakin dermawan, membuat nyaman dan aman orang-orang di sekitarnya.
Share this content:



Post Comment