Keluarga Ibrahim alaihissalam. Apa yang kita ingat pada momentum iduladha hari ini adalah tentang ketaatan dan pengorbanan keluarga Ibrahim atas Allah Sang Maha Rahman. Mengutip dari Arikhah, kata kurban asalnya qurb terdiri dari q-r-b yang berarti dekat. Berimbuhan Alif-Nun di akhir kalimat menjadi qurban maknanya ‘kedekatan yang sempurna’.
Mengawali refleksi singkat ini, mari kita mengulas kembali kisah keluarga Ibrahim a.s. Singkatnya, setelah Nabi Ibrahim selamat dari kobaran api Raja Namrud, Nabi Ibrahim a.s hijrah ke negeri Kana’an, sekitar Palestina dan Syam atau Suriah (Masyad, 2002:74). Ketika Kana’an terjadi kekeringan, Nabi Ibrahim a.s. pindah ke Mesir. Meski kemudian balik lagi ke Kana’an bersama istri dan seorang perempuan, yang nantinya menjadi istrinya, Siti Hajar.
Kala itu pasangan Ibrahim a.s. dan Siti Sarah belum dikaruniai anak sehingga Ibrahim selalu memanjatkan doa kepada Allah. Doanya terrekam dalam Surah ash-Shāffāt ayat 100, rabbī hab-lī minas shālihīn (Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku [seorang anak] yang saleh).
Siti Sarah merasakan keinginan kuat sang suami. Akhirnya ia memberi izin kepada Ibrahim untuk menikahi Siti Hajar (semula budak Siti Sarah). Singkat kisah, dari pernikahan Ibrahim dan Hajar, Allah memberikan karunia anak kepada mereka. Baca kabar gembira kelahiran buah hati Ibrahim dalam QS. Ibrahim: 39 dan QS. ash-Shāffāt: 101.
Kemudian Ibrahim bersama Hajar dan Ismail hijrah ke Mekkah, di sana ketika itu tiada kehidupan, gersang, sumber air pun tak ada. Apa daya Hajar sebagai sosok perempuan? Bukan lemah dan tak kuasa yang ia perlihatkan. Justru Siti Hajar berjuang demi Ismail sang buah hati. Berikut kisahnya.
Keluarga Ibrahim yang Taat dan Tawakal
Siti Hajar dan bayi Ismail ditinggal suami untuk menjalankan perintah Allah. Coba kita bayangkan keadaan Hajar dan Ismail kecil. Betapa rekasanya kalau tanpa landasan iman, ketulusan, dan ketaatan kepada Allah. Sebelum Ibrahim meninggalkan dua orang kekasihnya, Hajar bertanya,”Apakah Allah yang memerintahkan hal ini kepadamu?” Sang suami menjawab, “Benar.” Siti Hajar menimpali, “Kalau begitu, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.”
Akhirnya Siti Hajar kembali memeluk bayi Ismail dan menyesuinya. Bekal habis, Siti Hajar mulai kebingungan mencari sumber kehidupan. Ismail kecil menangis kehausan. Siti Hajar berlarian naik ke bukit Shafa lalu turun lembah dan naik ke bukit Marwah sebanyak 7 kali. Perjuangan berlarian dari bukit Shafa ke Marwah ini kemudian menjadi asal muasal sa’i bagi umat muslim yang hari ini sedang di puncak ibadah haji.
Dedhi Suharto dalam Keluarga Qurani menyebutkan bahwa keluarga Ibrahim menjadi salah satu rujukan ideal dalam menjalani bahtera rumah tangga. Nabi Ibrahim sebagai kepala keluarga, bertanggungjawab, juga mendidik anggota keluarganya. Sang Kekasih Allah juga teguh dengan perintah-Nya untuk berdakwah kepada umat. Sementara Siti Hajar sebagai sosok istri yang taat juga bertanggungjawab asuh-asih kepada putranya. Siti Hajar juga ikhlas ditinggalkan sang suami berdakwah sampai memberi doa dan dukungan kepada suami agar mendapat keberkahan dari Allah.
Sementara Ismail adalah sosok putra yang bakti kepada orang tua dan Tuhannya. Peristiwa penyembelihan kepada Ismail menjadi bukti terang betapa Ismail a.s. adalah sosok remaja di atas rata-rata. Tawakal dan keyakinannya kepada Allah, mantap meski usianya masih dalam belasan tahun. Wahbah Zuhaili dalam Tafsir al-Munir menyebut kala itu Ismail a.s. berusia 7 tahun dan ada yang mengatakan 13 tahun. Perintah berkurban bagi keluarga Ibrahim sebagaimana dalam QS. ash-Shāffāt: 102-103:
Keluarga Ibrahim: Setara dalam Berkurban
Keluarga Ibrahim yang ideal memuat prinsip kesetaraan sebagai hamba yang beribadah dan berkurban ‘hanya’ kepada Allah. Mulai dari Nabi Ibrahim a.s., Siti Sarah, Siti Hajar, dan Ismail a.s. termasuk Ishaq a.s. merupakan manusia-manusia pilihan, hamba terpuji perangai dan pengabdiannya kepada Allah.
Nabi Ibrahim a.s. yang demokratis dan egaliter, tatkala menerima wahyu (dari mimpi) untuk menyembelih anaknya lalu membuka pertanyaan, “bagaimana dengan engkau, buah hatiku?” Hal ini menjadi ibrah bagi kita bahwa setiap manusia memiliki hak yang sama melaksanakan pengabdian termasuk berpendapat. Sementara Nabi Ismail menerima dengan penuh keimanan apa yang menjadi perintah Allah.
Salah satu prinsip kesetaraan gender dalam Islam menurut Nasaruddin Umar adalah pandangan bahwa manusia baik laki-laki maupun perempuan adalah sama sebagai hamba Allah. Tujuan penciptaannya adalah penghambaan dan pengorbanan kepada-Nya.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku (saja)” (QS. Adz-Dzaariyaat: 56).
Tidak terkecuali Siti Sarah dan Siti Hajar, di mana perempuan di tengah kehidupan dewasa ini masih tersubordinasi. Dalam banyak literatur, kisah keluarga Ibrahim pun kurang mengekspose kegemilangan peran dua tokoh perempuan tersebut. Meski jasanya tidak kalah pentingnya.
Mari kita bayangkan -di luar garis takdir Tuhan- seandainya Siti Hajar adalah sosok yang lemah dan mudah menyerah. Apakah kemudian Ismail kecil dapat bertahan hidup? Apakah ia akan berlarian mencari sumber air untuk bertahan hidup? Bilamana Siti Hajar tidak memiliki mental dan spiritual yang mapan, adakah ia mau ditinggal sang suami di tengah gersangnya Makkah? Selanjutnya doa dan motivasi Siti Hajar mengiringi perjuangan Ibrahim. Totalitas yang diperankan Siti Hajar ini merupakan gambaran perempuan tangguh yang patut kita teladani bersama.
Nasaruddin mengatakan baik laki-laki maupun perempuan memiliki hak yang sama untuk meraih prestasi di hadapan Allah. Baca misalnya Ali Imran: 195; an-Nisa: 124; an-Nahl: 97; dan Gafir: 40). Terciptanya hubungan harmonis dengan fondasi kasih sayang di lingkungan keluarga (QS. al-Rum: 21), sebagai cikal bakal terwujudnya komunitas ideal dalam suatu negeri damai penuh ampunan Tuhan.
Atas tiada terkiranya nikmat dan welas asih Allah, mari berkurban dengan kemampuan kita. Innā a’thaināka al-kautsar, fashalli lirabbika wan-har.
Share this content:



Post Comment