(Semarang, 3/2) Arikhah, Guru Besar bidang Tasawwuf UIN Walisongo Semarang tampil sebagai narasumber dalam webinar Suluh PTRG (Perguruan Tinggi Responsif Gender) Seri ke-14, Jumat 2 Februari 2024. Webinar ini kolaborasi antara We Lead dan Forum PSGA PTKIN (Pusat Studi Gender dan Anak Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri). Kali ini, UIN Abdurrahman Wahid Pekalongan menjadi tuan rumahnya.
Turut hadir dalam webinar “Merayakan Pencapaian Akademik Ulama Perempuan: Jalan Panjang Merintis Keilmuan Perspektif Perempuan” sebagai narasumber lain yakni Prof. Dr. Hj. Evi Muafiah, M.Ag (Guru Besar Ilmu Pendidikan Islam IAIN Ponorogo) dan Prof. Dr. Mufliha Wijayati, M.S.I. (Guru Besar Hukum Keluarga Islam IAIN Metro).
Lalu sebagai keynote speaker Prof. Dr. Imam Kanafi, M.Ag (Ketua LP2M UIN Abdurrahman Wahid Pekalongan. Sebagai pemandu, Ningsih Fadhilah (Kepala PSGA UIN Abdurrahman Wahid Pekalongan).
Arikhah menyampaikan refleksi dan makna dibalik pencapaian akademiknya sebagai guru besar bidang tasawuf. Tak terkecuali isu gender yang digelutinya.
“Terkait angka kredit yang menjadi persyaratan administratif-akademik mencapai guru besar, sebenarnya adalah bentuk dukungan berbagai pihak. Misalnya pengalaman di jejaring sosial di KUPI, JP3M, MUI Jawa Tengah. Tentu Tri Dharma Perguruan Tinggi serta relasi kesalingan dengan suami saya,” terang pengasuh Pesantren Darul Falah Besongo tersebut.
Dosen tasawuf UIN Walisongo tersebut lalu menyampaikan, setidaknya ada tiga makna dalam pencapaian akademik ini yaitu; jalan hidup keilmuan, khidmah keilmuan, dan khidmah kelembagaan. Ketiganya berangkat dari kesadaran sebagai khalīfah fil ardl (wakil Tuhan untuk mengelola bumi). Dan khidmah (menjadi pelayan) adalah tarīqah yang paripurna dalam rangka menjadi manusia yang menebar manfaat.
Standar Nilai Ilahi (SNI): Jalan Khidmah Keilmuan
Salah satu yang menjadi kegelisahan Arikhah adalah ilmu pengetahuan yang mandek hanya sebatas teori-teori belaka. Di mana terdapat fenomena ilmu pengetahuan semakin berkembang, akan tetapi terjadi gejala kekosongan spiritual. Sebabnya seperti pandangan pragmatisme, yang segala hal tolok ukurnya adalah materi.
Keprihatinan di atas yang selanjutnya menjadi dorongan bagi Arikhah untuk menebar kemaslahatan yang lebih riil, yang sesuai dengan kersane (kehendak) Allah. Arikhah menyebutnya sebagai Standar Nilai Ilahi (SNI). Tasawuf, hadir mengisi dan menghiasi nilai-nilai spiritual tersebut.
Aktivis Kupi tersebut kemudian mengutip nasihat dari Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah yang menjadi kajian penelitian disertasinya.
“Orang yang berilmu bukan berarti mereka yang banyak mengkhatamkan kitab. Bukan pula studi dari strata satu sampai guru besar atau mungkin menulis artikel tembus Scopus, misalnya. Akan tetapi, orang yang ilmunya bermanfaat (al-‘ilmu an-nāfi’) adalah mereka yang matching (sesuai) antara bobot keilmuan dengan isi hati, sifat dan sikapnya serta memberikan kenyamanan dan kebahagiaan sekitar,” ujar Arikhah.
Kesesuaian antara ilmu seseorang dengan laku hidupnya menjadi sangat penting. Bagi Arikhah, setiap diri kita harus merasakan manisnya ilmu dan satu-satunya cara adalah dengan mengimplementasikan sesuai kadar pengetahuannya. Dengan demikian, menurut Arikhah, nilai spiritual akan tetap subur dalam lubuk hati beriringan dengan bertambahnya kapasitas keilmuan.
“Salah satu cara mengetahui kehendak Allah (yang diridhai) adalah melalui jalan tasawuf. Sehingga ketika awal mengajar misalnya, selalu saya dahului tentang integrasi antara iman yang melahirkan ilmu kalam, Islam yang melahirkan fikih dan turunannya), kemudian ihsan yang melahirkan ilmu tasawuf. Ketiganya ini harus setara dan proporsional sebagai upaya menuju keberislaman yang sempurna,” jelas pengurus MUI Jateng tersebut.
Bagi Arikhah, jalan pengabdian keilmuan sejati yakni dengan membaca kehendak Allah melalui SNI tadi dan menebar kebahagiaan kepada sesama, memiliki sensitivitas adil gender, dan tanpa melihat batas primordial.
Diseminasi Tasawuf Adil Gender
Dalam kajian tasawuf, standarisasi yang merujuk pada nilai Ilahi merupakan standar universal sehingga relevan pada setiap tempat dan kondisi. Sebaliknya, standarisasi manusia bersifat temporal dan lokal.
Sehingga, ketika indikator SNI terimplementasi dalam kehidupan kita, yang lahir adalah pesan Islam rahmatan lil ‘alamīn, seimbang (tawāzun) dan adil. Tidak terkecuali pandangan gender yang saban hari dan saban manusia (perempuan dan laki-laki) mengalaminya.
Oleh karena setiap manusia harus merasakan pesan universal Allah tersebut, maka sudah semestinya substansi tasawuf masuk dalam keseharian kehidupan umat manusia. Arikhah kemudian mencontohkan di lingkungan pesantren Besongo di bawah asuhannya bersama suami, Prof. Dr. K.H. Imam Taufiq, M.Ag.
“Sebagai insan yang hidup di dunia pesantren maka saya mempunyai ruang kesempatan untuk berkontribusi di dalamnya. Di antaranya, pesantren yang saya bersama suami asuh yaitu pesantren Darul Falah Besongo, kami membuat kurikulum adil gender,” terang pengasuh Besongo Semarang
Kurikulum adil gender tidak mengenal kamus untuk jenis kelamin apa suatu ilmu pengetahuan. Arikhah memberikan contoh penerapan dalam kurikulum gender seperti kajian kitab, keterampilan memasak, menyetir mobil, menyablon dan seterusnya.
Semua santri mendapat bekal kecakapan hidup tersebut tanpa melihat jenis kelamin. Laki-laki pun bisa memasak, perempuan lihai menyablon, dan sebagainya. Nilai-nilai kesetaraan itulah yang hadir dalam komunitas pesantren miliknya.
Pesantren Darul Falah Besongo juga memadukan keseimbangan kajian kitab yang berkaitan dengan relasi gender, yakni antara Qurratul ‘Uyun karya Syaikh Muḥammad al-Tahāmī dengan kitab Manba’us Sa’adah karya Kiai Faqihuddin Abdul Qadir.
Hal ini sebagai manhaj membuka cakrawala pengetahuan gender yang berimbang dengan tanpa melepaskan karya lama bersamaan dengan melihat kebutuhan atas dinamika yang lebih baru nan kompleks. Komunitas pesantren menyebutnya dengan al-muhāfaẓatu ‘ala’l-qadīmiṣ-ṣāliḥ wa’l-akhżu bi’l-jadīdil-aṣlāḥ.
Share this content:



Post Comment