Berpakaian ala Nabi Muhammad

Isra Mikraj

Oleh: M. Aulia Rizal F

Walisongo.co – Banyak versi riwayat yang menyebutkan kepribadian, akhlak, ciri-ciri fisik, sejarah kehidupan, bahkan aktivitas sehari-hari Nabi Muhammad. Tidak terkecuali bagaimana cara Nabi Muhammad berpakaian, baju apa yang disukai, motif, warna, hingga corak yang ada di baju pun di jelasakan dan terekam baik dalam beberapa hadis.

Asy-Syamāil al-Muhammadiyyah merupakan kitab karangan Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah bin Musa bin ad-Dahhak as-Sulami at-Tirmizi atau terkenal dengan sebutan Imam at-Tirmizi.

Di dalam kitab tersebut, terdapat kumpulan hadis atau kesaksian para sahabat yang memuat tentang profil Nabi Muhammad. Salah satu pembahasan yang menarik dari kitab tersebut adalah cara berpakaian Nabi Muhammad.

Mengenakan baju dapat kita bagi menjadi dua aspek. Pertama sebagai media untuk menutup aurat. Kedua, memberikan nilai estetika atau keindahan. Dengan mengenakan pakaian, seseorang akan terlihat lebih sempurna, tak terlepas dari model dan jenisnya, kalau yang digunakan telah memberikan nilai kesopanan dan kerapian, busana menjadi barang yang dibutuhkan.

Bagi umat muslim, ukuran minimalnya adalah menutup batas aurat dan disempurnakan dengan nilai adab (bicara pantas tidak pantas yang bisa jadi berbeda dalam setiap tempat dan waktu).

Kembali pada kajian riwayat yang menuturkan pakaian ala Nabi Muhammad. Diriwayatkan dari Imam Abu Dawud, Imam Ahmad, dan Imam al-Buhkari, Kanjeng Nabi Saw. mengatakan, “Makanlah kalian, minumlah kalian, berpakaianlah kalian, bersedekahlah kalian, tanpa israf (berlebih-lebihan) dan juga tidak sombong.”

Maksud dari hadis tersebut ialah ketika kita menginginkan sesuatu, lebih spesifik lagi dalam tulisan ini yakni berpakaian, maka berpakaianlah dengan melihat kebutuhan dan kemampuan finansial.

Hadis Ke-53 dari kitab asy-Syamāil al-Muhammadiyyah menjelaskan bahwa Ummu Salamah (salah satu Istri Nabi Muhammad) menceritakan gamis merupakan salah satu pakaian yang disukai oleh Nabi Muhammad.

Model gamis dari Nabi Saw. lebih mirip dengan kemeja. Pakaian yang memiliki dua lengan panjang serta terdapat kerah sebagai masuknya leher. Gamis menjadi salah satu pilihan Nabi saja. Artinya, masih ada jenis lain yang juga dikenakan oleh Rasulullah.

Setelah jenis pakaian, Nabi juga seringkali memilih beberapa warna baju yang dipakai. Warna putih, hijau, dan merah, menjadi beberapa pilihan warna yang disukai Nabi Muhammad. Ibnu Abbas menjadi salah satu saksi atas pilihan warna baju Nabi Muhammad. Seperti dalam riwayat:

Pakaialah kalian pakaian yang berwarna putih, sebagaimana pakaiannya orang masih hidup serta kain kafannya orang yang telah mati. Karena warna putih adalah sebaik-baik pakaian kalian.”

Pilihan warna putih dimaksudkan oleh Nabi Muhammad sebagai simbol kebersihan dan kesucian diri sekaligus pepeling bagi umatnya, bahwa kehidupan di dunia hanya sementara sementara yang sejati adalah akhirat. Sementara pakaian awal kita adalah kain kafan yang akan membungkus jasad kita.

Beralih ke kepribadian Nabi Muhammad yang berhubungan dengan busana. Disebutkan dalam hadis ke-59 dari Kitab asy-Syamail al-Muhammadiyah, Nabi Muhammad gemar memberikan nama pada beberapa koleksi bajunya, mengkategorikan ke beberapa jenis dan modelnya.

Kalau kita mencoba memvisualisasikan dari yang dilakukan Nabi tersebut, Nabi Muhammad adalah sosok yang rapi dan telaten terhadap barang-barang miliknya. Nabi juga mengajarkan kepada umatnya untuk senantiasa berdoa ketika hendak mengenakan pakaian mulai dari kepala seperti udeng-udeng (imamah), rida’ (dalam lidah kita malah disebut sorban), baju badan, dan bawahan seperti sarung. Salah satu doanya yaitu:

اَللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيْهِ، أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهِ وَخَيْرِ مَا صُنِعَ لَهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ

Artinya: Ya Allah bagi-Mu segala puji sebagaimana Engkau memberikan pakaian kepadaku, aku meminta kepada-Mu kebaikan dari pakaian ini dan kebaikan dari apa yang diakibatkan dari memakai pakaian ini, dan aku meminta perlindungan kepada-Mu dari keburukan pakaian ini dan keburukan dari apa yang diakibatkan dari memakai pakaian ini.

Doa di atas mengajarkan, terkadang sesuatu yang baru akan menimbulkan kerusakan, dalam hal pakaian bisa menjadikan fitnah (kerusakan) pada orang lain, seperti dengki, hasud, atau justru caci maki.

Maka dari itu, dengan adanya doa ini, Rasulullah mengajarkan ketika hendak menggunakan pakaian penting untuk berdo’a dengan harapan terhindar dari fitnah dan kerusakan, tentunya juga sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah.

Review sekilas tentang Nabi Muhammad dan ihwal pakaiannya, dapat dijadikan sebagai referensi kita, terutama pada nilai etika Nabi dalam menggunakan baju, membuang sifat kesombongan diri dalam berpakaian, memperhatikan kepantasan berbusana, dan mengantarkan rasa syukur atas kecukupan rezeki dari pakaian yang dimiliki.

Demikian pula dengan model yang digunakan, bukan berarti kita harus sama persis seperti yang digunakan oleh Nabi. Sesekali memakai jubah tidak masalah, tetapi kalau dengan berjubah kemudian sifat ‘ujub mewabah dalam diri kita, boleh jadi bukan Nabi Muhammad yang kita tiru. Nau’dzubillah.

Sebagai orang Indonesia, tentu budaya berpakaian apalagi modelnya berbeda dengan Jazirah Arab. Di Jawa mungkin batik, blangkon, kemeja adat, bagi para pria. Tapih, nyamping, kebaya, selendang, bagi perempuan Jawa. Meskipun hari ini sudah sangat jarang terlihat di mata kita model baju adat seperti di atas, sebab semakin banyaknya model pakaiain dari luar..

Wallahu a’lam.

Share this content:

Post Comment