Tidak perlu berandai-andai memperbaiki negara atau bahkan sampai ranah dunia. Berdoa dan berjuang terlebih dahulu memperbaiki diri ini yang utama. Ini refleksi awal kita. Jika semua manusia melakukan hal yang sama, maka sepertinya dunia akan membaik tanpa kita yang mengubahnya.
Tansah cukup lan cinukup, gedekne syukur mengko bakal dadi wong sing mulya lan unggule manungsa.
Berusaha untuk selalu bersyukur, dan cukup di setiap keadaan apapun yang pada puncaknya bakal menjadi orang yang unggul dan mulia.
jembarke atine; hati yang legawa dan luhur wekasane, bakal naik kemuliaan derajatnya.
Namun hal seperti itu jarang diri kita merefleksikan dan memikirkan dengan jernih, malah sering suka dengan gemerlap kemegahan yang wah. Tetapi, hal ini tidak didasari dengan manajemen yang matang, pola pikir jernih dan sifat kebijaksanaan. Orang Jawa mengenal istilah pan-papan, sesuai tempat dan bagaimana diri ini bisa menempatkan posisi dengan baik.
Begitulah diri ini diingatkan pesan “kegedhen empyak kurang cagak” empyak artinya atap, cagak berarti tiang. Kegedhen empyak kurang cagak bisa diartikan terlalu besar atap daripada tiang, sehingga tiang tak mampu menyangganya.
Perumpamaan yang paling tepat adalah besar pasak daripada tiang. Sebuah analogi tentang keseimbangan yang goncang karena nilai dan proporsi pemasukan tidak sejalan dengan pengeluaran. Setiap orang atau diri punya cara tersendiri dalam menjalani hidup. Ada yang biasa-biasa saja, ada yang ingin tampil hebat tetapi biaya terbatas.
Ada pula yang kondisinya memang memungkinkan untuk tampil dengan cara apapun sesuai yang dikehendaki. Atau lelaku -perilaku diri- yang ingin tampil dan dianggap wah oleh lingkungannya. Namun tidak didukung oleh kemampuan dalam dirinya yang sebenarnya. Kemampuan itu bisa dalam bentuk keuangan, kesehatan atau pengetahuan sampai kebijaksanaan yang tepat.
Refleksi Kelola Keinginan
Keinginan di luar kebutuhan yang dipaksakan seringkali membuat keadaan terpuruk. Hanya karena gengsi dan panas hati karena melihat penampilan dari lain atau hal apapun itu, hal ini malah membuat terjerumus ke dalam arus tren yang tidak sehat dan membuat bangkrut sampai merugikan yang lainnya.
Sebuah ajaran yang mengingatkan agar kita jangan terjebak dengan kehidupan yang mengutamakan gengsi yang akhirnya justru mengorbankan kondisi dari dalam diri kita. Tidak melebihi maupun mengurangi qodrat irodah diri, maka dari itu untuk selalu mencari jati dirinya sendiri agar lelaku ini mengikuti alur semestinya.
Baca juga: Mengarifi Tari Lengger sebagai Cerminan Diri
Menderita ataupun sengsaranya diri adalah sebab dari lelaku ini tidak semestinya atau bahkan bisa “kesandung ing rata” jalan yang mulus atau rata pun masih terbentur, lain lagi dengan kebentus ing tawang, atau kegeden angen–angen terlalu besar angannya sehingga tidak tercapai yang nantinya bakal sakit sebab kebanyakan ekpetasi tetapi tidak sesuai dengan kahanan nyata.
Empan-papan dalam bertindak kemudian terus menerus bersyukur di setiap laku perjalanan dalam menapaki jalan kehidupan akan menjadi bekal yang nyata. Di mana nantinya apa yang dikerjakan akan sesuai dengan weninge ati, kejernihan hati dan nantinya menciptakan lekaku yang baik dan sesuai untuk kebaikan bersama. Wallahua’lam.
Share this content:



Post Comment