Generasi muda identik dengan agen pembawa perubahan, agen yang membawa laju peradaban dari generasi ke generasi. Setiap generasi tentunya memiliki karakteristik sendiri secara umum. Keseluruhan generasi berdampak dengan adanya gagasan baru yang dilandaskan pada kondisi saat itu, misalnya strawberry generation.
Strawberry generation pertama kali muncul di Taiwan. Merujuk pada perumpamaan buah stroberi yang bertekstur lembut dan mudah rusak ketika terbentur sesuatu lain. Menurut Rhenald Kasali, generasi ini sebenarnya cenderung kreatif, akan tetapi secara umum memiliki permasalahan fisik dan mental yang rapuh. Sehingga belum terbiasa survive di masyarakat. Strawberry generation terjadi karena pengaruh beberapa sebab, salah satunya parenting atau pola asuh orang tua terhadap anak.
Pola asuh anak akan memengaruhi proses dan hasil belajar anaknya dalam menuai kehidupan. Seperti yang kita tahu pendidikan yang paling utama berasal dari lingkungan terdekatnya, keluarga. Secara umum anak akan memperoleh pendidikan pertama kali dari orang tuanya sendiri, bermula dari penanaman sikap sampai ke prosesnya menjalani kehidupan. Sehingga adanya strawberry generation merupakan bagian dari kegagalan parenting. Lantas bagaimana proses parenting yang tepat pada fenomena strawberry generation ini?
Strawberry Generation dan Upaya Meminimalisir Ledakannya
Adanya pola asuh orang tua yang kurang tepat bisa berdampak pada makin banyaknya generasi stroberi. Kebiasaan orang tua yang terlalu memanjakan anak, kurangnya waktu orang tua dan anak, labelisasi narasi negatif kepada anak, pemaksaan bahkan perlindungan yang berlebihan juga berdampak pada kondisi anak.
Melansir dari Artikel berjudul “Pola Asuh Orang Tua Terhadap Perkembangan Emosional Anak Usia Dini” (Sari, dkk., 2020) menjelaskan efek terlalu memanjakan anak berdampak pada sulitnya anak untuk mandiri karena terbiasa untuk bergantung kepada orang lain. Orang tua seharusnya membantu secukupnya, tujuannya melatih anak untuk mudah merespon situasi saat ini dan mengatasi problemnya sendiri. Tentunya melalui pegawasan.
Anak juga membutuhkan waktu yang cukup dengan oang tua, tujuannya agar terjalin komunikasi. Orang tua bisa menjadi orang terdekatnya dalam kehidupan anaknya. Tak jarang orang tua juga bisa menjadi sahabat untuk anaknya sendiri dalam menjalani kesehariannya.
Kemudian, pola asuh yang cenderung keras dan otoriter membuat anak tak memiliki ruang untuk berpendapat, ruang agar anak bisa tumbuh lewat pemikirannya. Dari semua problem tersebut sebenarnya orang tua memiliki tugas untuk menjadi pelindung dan pengawas proses anak. Namun dengan taraf yang cukup dan memfasiitasi anak dengan kemandirian dan kemampuannya untuk mencoba.
Baca juga: Fear of Missing Out: Cemas Ketinggalan Tren
Saat ini seorang anak bukan hanya memiliki pengetahuan (daya intelektual saja. Namun juga kesehatan mental. Untuk itu, terdapat beberapa upaya yang harus kita siapkan dalam pola asuh anak untuk mengurangi adanya ledakan strawberry generation ini, yakni dengan membangun mental. Melatih pola pikir bisa menjadi proses awal membangun mental. Selanjutnya, membangun perasaan dan tindakan anak untuk kuat mentalnya. Anak bukanlah follower namun seorang leader yang mampu menguasai dirinya.
Selain dengan membangun mental, memberikan kesempatan pada anak untuk belajar mengambil keputusannya sendiri. Orang tua sebisa mungkin membangun kepercayaan, melatih menyelesaikan masalah, dan berusaha menjadi pendengar yang baik. Kemudian, melalui sikap kesalingan menghormati antar pendapat. Orang tua menjadi rumah untuk anaknya mencapai sesuatu lewat kemandirian, sehingga anak bisa lebih kuat menghadapi situasi (Syifa, dkk., 2022)
Konsep Muraqabah dan Mindful Parenting Perspektif Islam
Keterlibatan orang tua untuk meminimalisir strawberry generation sangat penting. Orang tua merupakan muara yang menjadi pemegang nilai kebajikan dan kasih sayang yang sudah seharusnya memiliki pemikiran yang terbuka. Karakter orang tersebut memiliki keterkaitan yang erat dengan adanya konsep mindful parenting. Yakni orang tua memberikan perhatian terhadap anaknya dengan kesadaran penuh.
Duncan dkk. (2009) memaparkan konsep mindful parenting berpedoman pada lima dimensi yaitu dengan proses mendengarkan dengan perhatian, penerimaan pada diri sendiri serta tidak menghakimi, kesadaran emosional pada diri sendiri dan anak, adanya keterlibatan regulasi pada diri sendiri dalam pola asuh serta adanya kasih sayang untuk diri sendiri dan anak.
Mindful parenting berkaitan dengan adanya kesadaran peran pola asuh dan pemahaman serta penerimaan diri anak. Konsep mindful dalam perspektif Islam ada kemiripan dengan muraqabah yang secara bahasa memiliki arti mengamati, mengawasi dan menghargai dengan penuh perhatian (Cowan & Wehr, 1979).
Muraqabah merupakan pemahaman secara menyeluruh dan penuh keyakinan dari seorang hamba kepada Allah Swt. atas segala pengawasan lahir maupun batin (Al-Tuwayjirī, 2006). Konsep muraqabah memiliki keterkaitan dengan pola asuh ornag tua atas anaknya seperti dalam Q.S. Luqman: 16
“(Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada perbuatan seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkan balasannya. Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui”. Orang tua menjadi pendidik awal pengetahuan anak terutama terkait tauhid.
Ibnu Katsir (2000) juga menjelaskan nasehat untuk orang tua agar mampu meneledani kisah Luqman Alhakim kepada anaknya. Bahwa setiap perbuatan baik maupun buruk walau seberat biji sawi akan tetap dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt (Katsir, 2000). Konsep ini memiliki kesesuaian dengan pola asuh orang tua yang berfungsi sebagai pengawas dan bertanggung jawab penuh atas kehidupan anaknya.
Sehingga dalam kasus strawberry generation ini tak bisa lepas dari konsep mindful parenting yang berdimensi pada mindful discipline (sadar kedisplinan) dan beting in the moment with the child. Mindful dicipline merepresentasikan orang tua dalam proses keterlibatan mengasuh. Sementara being in the moment with the child yang merepresentasikan perhatian dengan memahami keadaan anak.
Share this content:



Post Comment