Membaca Kisah Musa dan Khidir dengan Teori Tindakan Komunikatif

Nabi Musa dan Nabi Khidir

Prolog

Kisah-Kisah Nabi Musa dalam al-Qur’an

Al-Qur’an bukan kitab sejarah, namun ketika kita membaca catatan sejarah dalam al-Qur’an, ia telah menghipnotis sang pembaca. Kemudian Sayyid Qutb mengatakan bahwa al-Qur’an mampu menyihir pembacanya (sihr al-Qur’an). Maksudnya, karena keindahan cara penyajian dan strukturnya, tidak pernah kalah dari syair-syair atau kitab-kitab lainnya. Setinggi apapun nilai sastra syair lain, al-Qur’an pemenangnya.

Ada banyak kisah para Nabi dengan segala jenis alur cerita dan pesan dari al-Qur’an. Namun, saya tegaskan sekali lagi, bukan berarti al-Qur’an adalah buku dongeng ataupun buku sejarah. Validitas kisah-kisah dalam al-Qur’an paten dan mutlak kebenarannya. Al-Qur’an menegaskan, untuk menepis tuduhan kaum kafir Quraisy bahwa al-Qur’an banyak karangan alias campur tangan Muhammad saw.

“Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar (haq)”. (QS. Ali Imran: 62)

Terkait kisah yang disajikan al-Qur’an, Muhammad Syahrur, sarjana Teknik Sipil yang juga menyumbang gagasan tafsir, turut menanggapinya dalam al-Kitab wa al-Qur’an. Menurutnya, sejak awal kehidupan hingga detik ini, kisah-kisah dalam al-Qur’an memberikan pemahaman kepada manusia adanya garis kehidupan yang tersusun rapi sepanjang peradaban manusia.

Nabi Musa Banyak Dikisahkan dalam Al-Qur’an

Salah satu kisah yang banyak tergambar di dalam al-Qur’an adalah sosok Nabi Musa. Muhammad Fuad Abdul Baqi dalam Mu’jamnya menyebutkan, kata Musa sebanyak 136 kali dalam al-Qur’an dan dalam 34 surah yang tersebar dalam 30 Juz.

Banyaknya kisah Nabi Musa dalam al-Qur’an tenyata tidak lantas membuat kita bosan dan memberi cap biasa saja. Justru, penempatan kisah-kisah Nabi Musa memberikan warna dengan menampilakn pesan luar biasa. Tema yang muncul, setting latar peristiwa, teknik penyajian kisah Musa as, menurut Syihabuddin Qulyubi dalam Stalistika al-Qur’an, sebagai media menampilkan nilai-nilai keagamaan. Meski demikian, al-Qur’an sama sekali tidak menghilangkan karakter seninya dalam kisah-kisah tersebut.

Mengutip dari Syukron Affani dalam artikelnya, setidaknya ada beberapa surah yang cukup dalam dan lengkap ketika menapaki kehidupan Nabi Musa. Seperti di antaranya dalam QS. al-A’raf, QS. al-Kahfi, QS. Thâha, QS. asy-Syu’arâ’, dan QS. al-Qashash. Adapula yang hanya menyajikan secara sekilas dan cenderung global seperti dalam QS. al-Baqarah, QS. Ali Imran, QS. al-Maidah, QS. Yunus, QS. Ibrahim dan lainnya yang membahas Nabi Musa dengan segala kisahnya.

Entah mengapa al-Qur’an memilih kisah Musa sebagai bahan perenungan yang paling banyak kita jumpai. Mulai dari Nabi Musa yang hanyut terbawa arus sungai Nil lalu menjadi bagian keluarga Fir’aun yang kelak justru Fir’aun lah yang menjadi rivalnya. Kemudian Musa yang mengabdi 8-10 tahun dengan Nabi Syu’aib berkat perantara anak gadisnya.

Selanjutnya kisah Musa menerima wahyu dari Allah secara langsung beserta instrumen kemukjizatannya di bukit Tur Sinai. Belum lagi kisah Musa dan Harun yang bertemu menghadap Raja Fir’aun dengan segala kejadian luar biasa di dalamnya. Ada lagi pengejaran bala tentara Fir’aun terhadap Musa dan Bani Israil yang kemudian Musa membelah laut dengan tongkat di tangannya.

Adalagi kisah Musa dengan umatnya, Bani Israil. Mereka memiliki karakter membangkang, pesimistis, pecundang, ngeyelan, dan sampai menyekutukan Tuhannya dnegan berhala. Hal ini yang membuat Nabi Musa banyak terlukis dalam al-Qur’an, yakni dalam sikap dan tindakan Musa saat menghadapi umatnya. Ada satu kisah yang juga menarik untuk kita baca. Kisah ini pula yang akan kita ulas meski sederhana.

Yang Sering Muncul dalam Tafsir Kisah Musa dan Khidir

Kisah ini terrangkum dalam QS. al-Kahfi: 60-82. Dua belas ayat ini mencatat perjalanan hakikat seorang hamba yang terpilih dan sosok Musa yang menggunakan kacamata syariat. Namun kebanyakan yang kita temui dari tafsir klasik hingga kajian kekinian, kisah antara Musa dan Khidir ini lebih banyak bernuansa tafsir pendidikan. Para ulama membahas hikmah di balik kisah mereka, biasanya tentang nilai pendidikan, adab mencari ilmu bagi salik (santri), ataupun wacana ilmu hakikat dan syariat yang lahir dari keduanya.

Di luar itu, ada pula diskusi silang pendapat di antara para ulama tentang penokohan dalam Surah al-Kahfi: 60-82 tersebut. Siapa sosok Musa sebenarnya? Siapa yang menemani perjalanan Musa? Dan siapa sosok ‘Abd (hamba) yang disebutkan dalam ayat tersebut? Pun dengan perbedaan pandangan terkait Majma al-Bahrain. Di mana persisnya tempat bertemunya dua laut itu? Apalagi tentang waktu, kapan terjadinya? Terlepas itu semua, perbedaan adalah rahmat.

Tindakan Komunikatif Habermas?

Saya kira diskusi tentang hal di atas sudah kita lalui secara dewasa. Di sini kemudian saya mencoba membaca Surah al-Kahfi: 60-82 dari sudut pandang teori Analisis Tindakan Komunikatif milik Jurgen Habermas. Singkatnya, Habermas mengatakan bahwa untuk mencapai pemahaman, antar komunikator harus berperan aktif (intersubjektif). Tidak ada dominasi atau relasi kuasa di antara keduanya.

Sebanarnya, Habermas ini bukan lah tokoh hermeneut yang dewasa ini mulai banyak akademisi filsafat Islam maupun Tafsir Hadis menggandrunginya. Ia merupakan sosiolog, ahli filsafat, dan concern pada bidang komunikasi masyarakat. Tetapi, kebanyakan teori dari Habermas, telah memengaruhi wacana hermeneutik yang lebih kompleks. Terlepas masih ada pro-kontra penggunaan hermeneutika untuk reinterpretasi teks suci.

Bagaimana kisah perjalanan menuntut ilmu Musa dan ‘Abd dalam Surah al-Kahfi tersebut bisa kita baca dengan analisis tindakan komunikatif? Untuk memberikan deskripsi yang lebih detail, ada baiknya kita membaca ulang kisah mereka berdua kemudian sekilas penjelasan teori tindakan komunikatif sebagai alat bacanya. Dengan begitu, kita akan menemukan hal-hal baru di luar tafsir-tafsir yang telah banyak kita baca.

Baca juga: KH Shodiq Menafsir Al-Qur’an dengan Pegon Milenial

Share this content:

Post Comment